Korban Juga Disetubuhi di Rumah Ibadah

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kutai Barat, Andy Bernard Desman Simanjuntak. KELVIN NURDIN/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Entah apa yang merasuki pikiran ES (40), hingga tega melakukan pencabulan terhadap seorang remaja putri selama enam tahun. Akibatnya, pria yang sehari-hari mengajar bidang studi agama di salah satu SMP di Kecamatan Muara Pahu ini akan mendekam lama di penjara. Rabu 25/4/2018 siang tadi, ia divonis 10 tahun penjara oleh Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Kutai Barat.

Wajah ES pucat dan tertunduk lesu di kursi pesakitan saat mendengarkan Ketua Majelis Hakim I Putu Suyoga membacakan putusan. Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 81 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Anak. “Dengan ini menyatakan terdakwa dihukum penjara selama 10 tahun,” tegas I Putu Suyoga.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa, yakni 11 tahun penjara dan denda sebesar Rp1 miliar subsidair 6 bulan kurungan. ES pun menerima keputusan itu, meski sebelumnya telah memohon keringanan hukuman dan mengaku sangat menyesali perbuatannya. ES akan dieksekusi untuk ‘menginap’ di Lembaga Pemasyarakatan Tenggarong.

Sedangkan Erlando Julimar Rumapea selaku Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Kutai Barat, masih mempertimbangkan untuk mengajukan banding atas vonis hakim. “Kami masih pikir-pikir dalam waktu 7 hari ke depan,” katanya.

Diungkapkan Kepala Kejari Kubar, Syarief Sulaiman Nahdi, terdakwa tidak bisa berkelit telah melakukan pencabulan terhadap korban yang saat ini berusia 16 tahun. Berdasarkan fakta-fakta di persidangan, ia melakukan persetubuhan dengan korban sejak awal tahun 2011 hingga akhir tahun 2017.

“Terdakwa melakukan perbuatan itu berkali-kali terhadap korban yang tercatat sebagai anggota binaannya sebagai guru rohani. Bahkan perbuatan bejat tersebut juga dilakukan di dalam rumah ibadah,” katanya melalui Kepala Seksi Tindak Pidana Umum, Andy Bernard Desman Simanjuntak.

Bernard membeberkan, kejadian bermula saat korban masih duduk di bangku sekolah dasar. Korban dipanggil oleh ES untuk membantu membereskan peralatan di rumah ibadah seusai kegiatan ibadah. Lalu dengan mengancam akan melukai jika melawan, terdakwa memerkosa korban yang tidak berdaya.

Karena terdakwa dan korban tinggal berdekatan di salah satu kampung di Kecamatan Muara Pahu, hal itu kembali dilakukan hingga berulang kali. Perbuatan bejat itu akhirnya terbongkar, saat korban bercerita dengan kakaknya. Ia mengaku sering disetubuhi ES di banyak tempat sejak masih SD.

“Ada yang di rumah terdakwa, dalam salah satu rumah kosong dekat Jalan Poros Kubar-Samarinda di Kampung Dingin Kecamatan Muara Lawa, bahkan di dalam rumah ibadah,” ungkap pria yang sebelumnya menjabat Kasi Tindak Pidana Khusus Kejari Dumai Provinsi Riau. #Sonny Lee Hutagalung

Ads