Pedagang Harap Meraup Rupiah Sambil Saksikan Hudoq

Ratusan orang yang menjadi Kontingen Kecamatan Long Pahangai dan Kecamatan Long Apari saat tiba di Pelabuhan Ujoh Bilang, Rabu 23/10/2019. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

LONG BAGUN – KABARKUBAR.COM

Festival Hudoq Cross Border 2019 yang dipusatkan di Kampung Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun tampak sangat menarik minat masyarakat di penjuru Kabupaten Mahakam Ulu. Bahkan antusias tinggi ditunjukkan warga dua kecamatan di hulu Sungai Mahakam, yakni Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari. Melewati riam atau jeram ganas dan biaya mahal menjadi konsekuensi.



Sejumlah titik riam yang terkenal ganas karena telah memakan banyak korban, harus dilintas saat menyusuri Sungai Mahakam menuju Ibu Kota Mahulu, Ujoh Bilang. Kontingen dari 13 kampung di dua kecamatan di hulu tersebut bergabung dan telah tiba kemarin siang. Mereka menumpang perahu panjang (longboat) dan perahu cepat (speedboat).

“Kami pakai delapan speedboat. Harus lewat banyak riam ganas, bersyukur bisa tiba di sini dengan selamat semuanya,” ungkap Hendrikus Ledau mewakili Kontingen Kecamatan Long Pahangai kepada KabarKubar, saat akan menghadiri Pembukaan Festival Hudoq Cross Border 2019, Kamis 24/10/2019 pagi.

Salah satu titik riam di hulu Sungai Mahakam yang terkenal ganas dan telah banyak memakan korban. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Hendrikus Ledau mengatakan, ada 300 peserta yang ikut dengan biaya transportasi sangat besar, Rp 25 juta. Belum lagi jika menghitung biaya makan dan minum selama mengikuti festival dan uang yang harus dikeluarkan untuk kembali ke kampung mereka. Namun demikian, hal itu tidak dipandang sebagai beban. “Bisa habis Rp 80 juta lebih semuanya, tapi kami bangga bisa ikut festival ini. Mudah-mudahan tahun ini Kecamatan Long Pahangai kembali menjadi juara seperti tahun lalu,” harapnya.

Kemeriahan festival yang telah masuk agenda tahunan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tersebut tampak jelas di sudut-sudut Ujoh Bilang. Para pedagang Usaha Mikro Kecil Menengah, dan pedagang kaki lima menghiasi tepi jalan dengan menjajakan beragam pernak-pernik seni dan budaya.

Tidak hanya warga Mahulu, pedagang yang membuka lapaknya juga datang dari luar daerah. “Lumayan ada kesempatan mencari rezeki,” jelas Ugit (40), yang menggelar lapak dagangannya di pinggir Lapangan Ujoh Bilang. Pedagang UMKM ini datang dari Desa Budaya Pampang Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda.

Pedagang pernak-pernik yang berharap meraup untung dari para pengunjung di Festival Hudoq Cross Border 2019. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

Ugit yang datang bersama suami, berharap meraup untung dari para pengunjung Festival Hudoq Cross Border 2019. “Aduuh pak, ini baru laku Rp 35 ribu sejak semalam saya buka dagangan ini. Semoga banyak pembeli besok-besok, karena pengunjung kelihatan mulai banyak,” harapnya tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas.

Ia mengaku harus menanggung biaya transportasi cukup besar dari Kota Samarinda menuju Ujoh Bilang. Jika tidak mendapat untung berdagang, ongkos transportasi itu menjadi kerugian besar baginya. “Ongkos speedboat dari Tering ke Ujoh Bilang sudah Rp 300 ribu per orang. Belum lagi biaya angkut barang dan untuk makan minum di Mahulu yang sangat mahal,” ujarnya.



Hal yang sama dituturkan sejumlah pedagang pernak-pernik yang berjualan di pinggir Lapangan Ujoh Bilang. Akses darat Kubar-Mahulu yang belum memadai, membuat harus menggunakan transportasi Sungai Mahakam. “Tapi kami senang, karena dapat berdagang sambil melihat Hudoq nanti,” ungkap Suwito (48). #Lilis Sari

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here