Perilaku Warga dan Penataan Kota Harus Bersahabat Dengan Lingkungan

 

SAMARINDA – KABARKUBAR.COM
Ada nasehat bijak disampaikan Calon Gubernur Kaltim, Rusmadi Wongso, soal banjir yang menjadi momok bagi warga di ibukota Provinsi Kaltim; itu akibat ulah manusia. Hal itu disampaikannya saat bersilaturahmi dan buka puasa bersama dengan warga Kebun Agung, Jalan DI Panjaitan Samarinda, Kamis 31/5/2018.

Rusmadi mengajak warga Kota Tepian untuk tidak ikut-ikutan hanya menyalahkan faktor alam sebagai penyebab banjir yang belakangan semakin parah. Karena pada dasarnya, andai saja manusia berbuat baik kepada alam. Maka, alam akan bersahabat dengan manusia. “Banjir di Samarinda buah dari perbuatan manusia. Karena perilaku kita sebagai warga yang kurang peduli dengan lingkungan. Ditambah oleh peranan pemerintah yang dalam kebijakannya tidak bersahabat dengan lingkungan serta tidak tertatanya kota,” katanya.

Dia memberi contoh kebijakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan. Misalnya, sebesar 70 persen kawasan Kota Samarinda sekarang ini dikuasai pertambangan batubara dengan lahan terbuka. “Sehingga, daerah tangkapan air tidak ada lagi. Air hujan akhirnya lari ke jalan-jalan,” kata Rusmadi.

Untuk itu, Rusmadi melihat ke depan perlunya keseimbangan dalam pembangunan. Sektor ekonomi harus terus digerakkan tapi tetap memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya. “Jangan sampai kita hanya mengejar nilai ekonomi dengan keuntungan bagi kita saat ini. Tapi, dampak kerugiannya yang ditimbulkan terkena anak cucu kita kelak,” ujarnya.

Arah pembangunan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dengan aspek lingkungan sudah didesain Rusmadi-Safaruddin dalam gerakan Kaltim Bermartabat. Di situ tertera 10 program atau Dasacita, yakni “Kaltim Tanpa Banjir” dan juga “Kaltim Lestari”.

Kaltim Bermartabat akronim dari berdaya saing, mandiri, aman, sejahtera dan berkelanjutan adalah jawaban dari kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur. Di dalamnya terdapat rencana besar yang menurut sejumlah pakar dari kalangan akademisi masuk akal dan bisa direalisasikan.

Dalam lima tahun ke depan, ketika Provinsi Kaltim dipimpin oleh Rusmadi-Safaruddin, maka perubahan akan terjadi. Misalnya dalam hal lapangan kerja, menurut Rusmadi, dia memprioritaskan membuka lapangan kerja di sektor tambang, pertanian, kehutanan, perkebunan dan perikanan. “Namun, sektor yang digali ini terukur dan terkendali, tidak sampai merusak lingkungan,” katanya.

Sehari sebelumnya, Rusmadi juga berdialog dengan masyarakat Jalan Sentosa juga menyinggung solusi penanganan banjir di Kota Samarinda. Bahwa, ibukota provinsi Kaltim memiliki kelebihan dibanding daerah lain untuk menuntaskan banjir. “Bapak Ibu, di Samarinda ini banyak sekali anak sungai dan sungai, bisa mudah mengalirkan air, dibanding daerah lain seperti Jakarta yang harus membuat kanal. Air ketika hujan datang di Samarinda mestinya dialirkan cepat ke sungai-sungai,” jelas Rusmadi.

Namun, saat ini yang terjadi, anak sungai di Samarinda banyak sekali di atasnya dibangun rumah. Ini menyebabkan sampah bertambah ke sungai dan mengakibatkan banjir. “Banjir di persimpangan (perumahan) Alaya itu sebenarnya ada anak sungai untuk mengalirkan air hujan. Ketika dibangun drainase menuju anak sungai. Maka, banjir yang lamanya 6 jam bisa menjadi 2 jam saja,” kata Rusmadi.

Ketika menjadi Kepala Bappeda Kaltim, Rusmadi melakukan pembangunan kanal drainase di sisi kanan Jalan PM Noor dari arah Sempaja. Dampaknya, banjir tak lagi parah di daerah tersebut. Penanganan banjir di Samarinda, menurut Rusmadi, intinya, pemerintah harus bertindak tegas dalam menata kota. “Persoalan drainase ini, pemerintah harus menegakkan aturan, agar kota tertata,” katanya.

Selain ulah perbuatan manusia atau faktor buatan, penyebab banjir diakui Rusmadi memang ada juga faktor alam dengan hujan intensitas tinggi. Namun faktor dominan adalah ulah manusia. Misalnya sungai yang tidak dirawat dan bagian hulu sungai yang tidak ada pohon lagi untuk tangkapan air ketika hujan. “Tidak ada daerah tangkapan air, ini makanya air hujan kemana-mana ke jalan raya,” jelasnya.

Sejak 10 tahun lalu, Rusmadi telah memikirkan pembangunan ibukota Provinsi Kaltim yaitu Samarinda. Bahkan, persoalan banjir sejak dulu terus diupayakannya bisa diatasi. “Saya memberanikan diri agar bantuan keuangan pemerintah provinsi sebesar Rp600 miliar. Keuangan lebih setengah triliun ini jika salah kelola, kita bisa disekolahkan (penjara). Tapi saya beranikan diri demi warga Kota Samarinda,” ujarnya.

Namun, anggaran tersebut hanya 40 persen terserap akibat terkendala masalah sosial tidak bisa diselesaikan pemerintah kota. “Kewenangan pembebasan lahan ada di pemerintah kota. Dan, masalah sosial ini tidak bisa secepat penyerapan pembangunan penanganan banjir,” katanya. #Achmad Yusuf

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here