FX Yapan Jadi Tumpuan Harapan Untuk Menerangi Puluhan Ribu Rumah

1106_Usaha warung gorengan Ratna Dewi
RINDU PLN: Usaha kecil seperti warung gorengan milik Ratna Dewi di SDN 012 Jempang di Dusun Kem Baru Kampung Muara Tae ini juga sangat terbebani dengan mahalnya biaya listrik.    M IMRAN/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – Listrik menjadi kebutuhan utama yang belum terpenuhi secara menyeluruh di 16 kecamatan se-Kabupaten Kutai Barat. Tidak hanya di wilayah pedesaan yang sulit dijangkau, seputaran ibukota kecamatan pun kedua hal itu masih tampak langka. Jika pun ada, listrik hanya menyala pada malam hari. Bahkan dibatasi menyala dari pukul 18.00 dan padam pada pukul 24.00 wita.

Misalnya di Kecamatan Bentian Besar yang listrik dari Perusahaan Listrik Negara hanya menyala 6 jam. Itupun khusus di ibukota kecamatan, yakni Kampung Dilang Puti. Sementara di 9 kampung lainnya, harus menghidupkan mesin generator pembangkit listrik masing-masing. Pengeluaran bulanan rumahtangga pun melonjak untuk membeli bahan bakar minyak mesin listrik. “Kami biasa pakai mesin sendiri, tidak pernah ada listrik dari PLN. Sebulan bisa habis Rp 600 ribu,” ungkap Nega Rua, warga RT 1 Kampung Penarung, Bentian Besar.

PLN Ranting Bentian Besar (1)
TERBATAS: Hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Kutai Barat terdapat layanan PT PLN, namun sebagian besar hanya di ibukota kecamatan seperti di Kampung Dilang Puti Kecamatan Bentian Besar ini.    DEESELHA/KABARKUBAR.COM

Masyarakat di 8 kecamatan yang sama sekali belum mendapat pasokan listrik PLN, berharap Pemerintah Kabupaten Kubar menjadikan pengadaan listrik sebagai salah satu prioritas. Puluhan ribu warga merindukan terang sepanjang malam, bahkan bisa bebas memakai listrik selama 24 jam. “Bagaimana kami bisa dikatakan maju kalau di kampung kami sejak jaman penjajahan Belanda dulu sampai sekarang belum merasakan sama sekali penerangan listrik. Sangat menyedihkan di kampung kami ini, kalau malam hanya diterangi lampu pelita (lampu minyak tanah bersumbu kain),” kata Bambang (49), warga Kampung Deraya Kecamatan Bongan

Demikian juga dituturkan Utuh (53), Kampung Jambuk Makmur, Bongan. Warga perantauan asal Banjarmasin 20 tahun silam ini mengaku sangat kesulitan karena tidak tersedianya listrik di wilayah Resak III itu. Sehingga warung sembako serta makanan yang dibukanya terkendala, sebab banyak aktifitas mesti menggunakan listrik. Akibatnya, semua pekerjaan harus dikerjakan secara manual. “Kami berharap Bapak Bupati FX Yapan dan Wabup Edyanto Arkan bisa mengusahakan PLN di daerah ini. Kami menggunakan genset sangat menguras kantong,” katanya.

Senada diungkapkan Ratna Dewi (35), warga RT 04 Dusun Kem Baru, Kampung Muara Tae Kecamatan Jempang. Ibu yang sehari-hari membuka usaha jajan gorengan di SDN 012 Kem Baru itu, mengeluhkan belum adanya listrik PLN. Yang membuat pengeluarannya tinggi, karena pembayaran listrik genset membengkak. “Di rumah saya menyambung listrik dari pengusaha listrik menggunakan genset. Sebulan harus membayar Rp 600 ribu untuk dua amper. Nah kondisi seperti ini sangat memberatkan biaya hidup, katanya.

“Kami hanya berharap Pak Bupati melihat kondisi ini. Dulu di Kem Baru banyak perusahaan, tetapi sekarang perusahaan batubara di sini sudah tutup semua,” imbuh Agus Kristina, tetangga Ratna Dewi.

Hal yang sama dirasakan warga Kampung Tukul dan Kampung Muara Batuq, Kecamatan Tering. Mereka merindukan datangnya listrik dari pemerintah. “Kalau perusahaan tidak bisa diharapkan, karena kalau mereka sudah berhenti beroperasi, maka selesai pula bantuannya. Jadi kami menggantungkan harapan kepada pemerintah agar segera merealisasikan listrik dan air bersih,” ujar Kuleh (45) warga Kampung Tukul.    #M Imran/Soner Klend Sabbath

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here