FKKMKB Segera Berkoodinasi Soal Sanksi Adat

Didampingi sejumkah tokoh masyarakat, Paguyuban Madura berkunjung ke rumah almarhum MS di Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat pada Selasa, 16 Februari 2021. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

LINGGANG BIGUNG – KABARKUBAR.COM
Berbagai langkah terus dilakukan oleh tokoh multietnis guna meredam persoalan terkait peristiwa pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu. Peristiwa yang murni pidana, bergeser ke isu suku, agama, ras dan antar golongan atau SARA.

Lantaran terbangun opini negatif di media sosial melalui akun-akun pribadi yang membagi informasi mengambang. Sementara tidak berada langsung di lokasi kejadian, dan tidak tahu pasti permasalahan sebenarnya.

Bahkan beberapa warganet menghubungkan kejadian ini dengan peristiwa berdarah di masa silam. Padahal situasi di Kabupaten Kutai Barat sendiri tampak kondusif tanpa ada keresahan, dan masyarakat dari berbagai etnis melakukan akivitas rutin seperti biasa.

FKKMKB membawa sejumlah sarana adat Dayak, salah satunya guci atau antakng berukuran besar senilai Rp10 juta sebagai wujud permohonan maaf kepada keluarga MS. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Forum Kerukunan Keluarga Madura Kabupaten Kutai Barat atau FKKMKB berkunjung ke rumah kerabat almarhum, Medelin Sumual pada Selasa, 16 Februari 2021 sekira pukul 10.30 Wita. Paguyuban yang baru terbentuk empat hari lalu, menemui keluarga korban pembunuhan itu di Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung.

Tidak tangan kosong, FKKMKB membawa sarana adat yang diserahkan kepada pihak keluarga korban. Antara lain, satu antakng atau guci berukuran besar, satu mandau, satu tombak, serta uang sejumlah Rp10 juta atau senilai 10 buah antakng.

Seserahan sarana adat ini merupakan wujud permohonan maaf dan mengakui kesalahan dari pihak etnis Madura kepada keluarga korban. Pertemuan ini juga merupakan bentuk keseriusan dalam upaya menyelesaikan permasalahan terhadap denda adat yang ditetapkan. Terkait  pembunuhan yang dilakukan oleh MM (21) di Kampung Sumber Sari, Kecamatan Barong Tongkok.

Ada Rumor Negatif, Ini Keputusan Final Sidang Adat Terkait Pembunuhan MS

Arbayanti sebagai warga keturunan Madura, mengutarakan maksud kedatangan paguyuban untuk menyampaikan sungkawa kepada keluarga korban. Juga menyerahkan diri untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

“Kami meminta pak Wihelmus untuk membantu. Karena kami tidak tahu dan tidak mengerti tentang permasalahan adat. Takut salah dalam bicara dan bertindak,” kata Arbayanti yang didaulat menjadi Sekretaris FKKMKB.

“Harapan kita ke depan, dengan terbentuknya forum ini, dapat menjalin silahturahmi antar semua suku lebih baik. Jadi kita menginginkan, bahwa dengan kehadiran kita di Kubar ini, sebagai keturunan Madura, dapat bergandengtangan dengan semua suku yang ada,” ungkap Arbayanti saat disinggung harapan warga Kubar keturunan Madura atas terbentuknya FKKMKB.

Koordinator Wilayah Badan Intelijen Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Letnan Kolonel Chb Asmawi, mengapresiasi terlaksananya pertemuan ini. Pertemuan tersebut diharap menjadi permulaan hadirnya etnis Madura dalam patuh atas kearifan lokal yang ada.

“Kami berharap agar permasalahan ini cepat selesai, sehingga tidak menimbulkan rasa resah dan takut. Supaya peristiwa kelam di masa silam tidak terulang,” ungkap Asmawi yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mendampinginya, ada Kapten Marinir Hendro, Komandan Tim Badan Intelijen Strategis (BAIS), dan Lettu Infanteri Krestu Pos Daerah Kubar.

Kehadiran rombongan yang juga dihadiri Ketua FKKMKB, Imam Alabi Hardromi, disambut baik  keluarga MS. Yakni Asmariana Riyeng, nenek dari MS bersama Kepala Adat Besar Linggang, Yustinus Dullah.

Brigjen TNI Cahyo Sampaikan Sungkawa, Keluarga MS Harap Situasi Normal Kembali

Turut menyambut, Camat Linggang Bigung Kristian, Petinggi Linggang Bigung Bastianus, Kepala Adat Linggang Bigung Ardin, dan Petinggi Bigung Baru Bonafasius Dion. Sejumlah petinggi dan kepala adat seputaran juga tampak dalam pertemuan yang dihadiri Kapolsek Barong Tongkok Iptu Irianto dan Danramil 0912-13/Barong Tongkok Kapten Infanteri Rahman.

Wihelmus selaku Tokoh Masyarakat Kubar yang diminta menjadi Juru Bicara FKKMKB, menjelaskan maksud kedatangan mereka dengan membawa sarana adat. Sebagai bentuk semangat dan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Atas kesalahan yang dilakukan oleh oknum, bukan seluruh etnis Madura.

Ia menyatakan, langkah ini merupakan langkah awal dan bentuk keseriusan untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Keputusan Lembaga Adat Besar Kabupaten Kutai Barat (LABK) jangan kita ambil nilai negatif terus, kita ambil sisi positifnya saja. Keputusan diambil itu dalam upaya meredam situasi,” ungkapnya kepada awak media.

Tokoh Masyarakat Kubar, Wilhelmus, diminta menjadi Juru Bicara FKKMB dan menjelaskan maksud kedatangan rombongan ke kediaman keluarga MS. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Disinggung disinggung soal pertemuan dengan penyerahan sarana adat Rakbar dalam upaya penyelesaian masalah di luar LABK, Wilhemus mengaku sejalan dengan LABK. “Saya tidak berniat untuk mengambil alih, saya berulang-ulang mengatakan, keputusan ini ada di tangan Lembaga Adat Besar Kabupaten Kutai Barat. Atas pertimbangan-pertimbangan Lembaga Adat Linggang Bigung untuk memberikan masukan-masukan, saya sangat yakin Lembaga Adat Besar Kubar bertindak bijak dan adil dalam keputusannya nanti,” tegasnya.

Ditambahkannya, pihak FKKMKB akan segera berkoordinasi dengan LABK dengan dibantu oleh Lembaga Adat Linggang Bigung. Dalam upaya segera menyelesaikan persoalan denda adat. Namun yang terpenting adalah keluarga etnis Madura tidak lagi merasa di asingkan, apalagi dikucilkan.

Sebab LABK sudah secara resmi menyatakan secara tegas. Bahwa tidak akan pernah ada  permintaan kepada etnis Madura untuk keluar dari Kubar, seperti yang pernah terucap pada sidang adat pada Kamis, 4 Februari 2021 lalu. #Sunardi

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here