720 Hektare Lahan Diharap Bisa Dikelola Dengan Pola Bagi Hasil

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kutai Barat, Jackson John Tawi, melihat padi berusia tanam 75 hari yang akan dipanen, Selasa 3/9/2019 besok di areal persawahan Rapak Oros. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

LINGGANG BIGUNG – KABARKUBAR.COM

Selasa, 3/9/2019 besok, Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kutai Barat kembali akan melakukan panen padi di areal persawahan Rapak Oros. Padi yang akan dipanen di lahan pertanian di wilayah Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung itu, berusia tanam 75 hari. Selain menghasilkan padi sekitar tiga ton dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, padi jenis ini dapat dipanen sedikitnya tiga kali dalam setahun.



“Bibit dari IPB (Institut Pertanian Bogor) ini, bisa meningkatkan hasil panen. Jadi ada keuntungan lebih yang bisa menambah pendapatan petani,” kata Ketua KTNA Kubar, Jackson John Tawi, saat meninjau sawah yang akan dipanen.

Menurut John Tawi yang juga Ketua DPRD Kubar, lahan persawahan Rapak Oros bisa menjadi percontohan bagi petani di Kubar. Akses jalan yang baik, memudahkan untuk dijangkau. Keberadaan sejumlah petani berpengalaman dinaungi Gabungan Kelompok Tani Maju Bersama yang dipimpin Adrianus, juga menjadi nilai lebih. “Petani di Kubar bisa studi banding ke Rapak Oros. Tidak hanya soal padi atau sawah, kebun sayur dan palawija juga berhasil disini,” katanya.

Hasil panen padi berusia tanam 75 hari di areal persawahan Rapak Oros, diperkirakan mencapai tiga sampai lima ton dalam satu hektare lahan. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Dengan sarana pengairan atau irigasi yang sangat baik, diharapkan 720 hektare lahan di Rapak Oros bisa dikelola. Kerja sama petani dan Gapoktan Maju Bersama dengan pola bagi hasil, setiap hektare sawah bisa mencetak setidaknya Rp18 juta bagi pemilik. “Daripada lahannya tidak produktif, dan dibiarkan begitu saja, kami akan tawarkan pola bagi hasil,” ujarnya.

John Tawi menjelaskan, dari harga Rp2.000 perkilogram padi, berarti mendapat hasil Rp6 juta sekali panen. Jika tiga kali panen dalam setahun, ada bagian Rp18 juta. Jika padi dirawat, bisa panen hingga lima ton. Itu sama dengan Rp30 juta pertahun.

Panen Raya di Rapak Oros pada Maret 2018 lalu. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Daripada jadi ‘lahan tidur’ saja,” katanya, seraya menegaskan panen besok menggunakan mesin pemanen Combine Harvester. Mesin ini dapat memanen satu hektare padi hanya kurang dari 10 jam.

Panen di Rapak Oros besok pagi, akan dihadiri Wakil Bupati Kubar H Edyanto Arkan dan sejumlah pejabat Dinas Pertanian Kubar. Para petani yang tergabung di Gapoktan Maju Bersama, anggota KTNA Kubar dan masyarakat sebagai petani dari Kampung Banjarrejo, Kampung Linggang Amer dan sekitarnya.



Untuk diketahui, Maret 2018 lalu juga telah dilakukan panen di Rapak Oros. Dari 60 hektare sawah, masing-masing menghasilkan empat ton gabah kering atau 240 ton padi. Panen raya itu merupakan kerja keras para petani yang didamping Prajurt TNI dari Komando Distrik Militer 0912/Kutai Barat. #Sonny Lee Hutagalung

Komentar Anda

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here