Alternatif Mengurangi Konsumsi Penyedap Rasa Buatan

Daun Mekai yang dibudidayakan Andrianus Rio di samping rumahnya tampak subur meski tanpa pupuk. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Jauh sebelum munculnya micin atau vetsin, masyarakat suku Dayak di seluruh Pulau Kalimantan telah mengenal tumbuhan sebagai penyedap rasa. Nama berbeda disebut di beberapa daerah bagi daun yang telah dikonsumsi para leluhur suku-suku di Bumi Borneo. Bagi warga Dayak Tunjung dan Benuaq, daun ini disebut Mekai. Tidak hanya menjadi bumbu penyedap, tapi juga berkhasiat sebagai obat beragam penyakit.

“Sudah sulit juga ketemu ini. Orangtua kami dulu, pakai ini jadi micin,” ungkap Andrianus Rio, di rumahnya, Jalan Poros Nyuatan-Barong Tongkok RT 1 Kampung Engkuni Pasek, Kecamatan Barong Tongkok pada Selasa, 21 April 2020.

Andrianus mengaku berencana membudidayakan Mekai. Setelah tidak sengaja menemukan belasan pokok Mekai di belantara wilayah Kampung Benung, Kecamatan Damai. Sekitar September 2019, ia ikut memadamkan api yang menyala di hutan. Saat itu memang sedang marak kebakaran hutan dan lahan.

Andrianus Rio menunjukkan tanaman Mekai yang diambilnya dari hutan wilayah Kampung Benung, Kecamatan Damai. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Sudah ada enam bulan diambil dari bengkar (hutan atau belantara) Benung. Ada satu polybag (media tanam berbahan plastik) yang diminta ibu saya. Yang ada ini mau saya budidayakan biar jadi banyak,” ujar pria yang saat pernah bekerja di PT Kiani Kertas, Mangkajang, Kabupaten Berau. Kini ia bekerja sebagai Pegawai Credit Union Sempekat Ningkah Olo.

Meski langka, imbuhnya, Mekai banyak ditemui di hutan tertentu. Misalnya di hutan yang berada di belakang pemukiman Kampung Benung. Banyak pokok Mekai yang tumbuh di satu hamparan.  “Mungkin kalau diberi pupuk kandang akan lebih subur. Ini rajin disiram saja sudah subur begini,” pungkas Andrianus, seraya menunjukkan beberapa pot Mekai yang akan dibudidayakannya.



Salah satu jenis tumbuhan liar di hutan Kalimantan yang turun temurun dijadikan warga etnis Dayak sebagai penyedap rasa alami ini mudah penggunaannya. Lebih bagus jika daun Mekai dikeringkan di atas dapur kayu, seperti proses pada daun Salam. Sehingga mampu meningkatkan rasa sedap yang ditimbulkan dan bisa disimpan lebih lama.

Menurut Rita Asmara Dewi, warga Belintut Kelurahan Barong Tongkok, ia biasa memakai daun Mekai saat memasak daun singkong yang sudah ditumbuk. Terkadang juga dicampur daun pepaya. Supaya pas gurihnya, disarankan dosis sebanyak tiga sampai empat helai daun Mekai jika memasak daun singkong ukuran satu lesung.

Seorang petani di Provinsi Kalimantan Barat membudidayakan tanaman Mekai. ISTIMEWA/CYBEX.PERTANIAN.GO.ID

“Adakah? Mau bagi donk pak, itu langka sudah. Malah lebih enak dari pada pakai micin,” kata wanita asal Kampung Ombau Asa, Kecamatan Barong Tongkok, yang juga Anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat dari Partai Amanat Nasional.

“Pas kita tumbuk daun Mekai, tambahkan bawang merah dan bawang putih. Kalau mau masak campur rebung, tidak usah ditumbuk. Cukup diremas saja daun Mekainya. Mau lebih gurih, bisa dicampur dengan bumbu lain seperti jahe dan lengkuas,” imbuh Emiliana, wanita asal Dayak Tunjung dari Kampung Ongko Asa, Kecamatan Barong Tongkok.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, nama ilmiah daun Mekai adalah (Pycnarrhena Tumefacta Miers). Dari laman resminya disebutkan, penggunaan esktrak daun Mekai pada masakan memiliki multi fungsi, yaitu sebagai biovetsin dan antikanker.



Tingginya nilai antioksidan membuat daun Mekai berpotensi meningkatkan ketahanan tubuh yang berfungsi sebagai antikanker. Oleh karena itu, daun Mekai dapat digolongkan dalam Marjan (bahan berharga) yang berasal dari hutan Kalimantan.

Daun Mekai diakui dapat dikomsumsi sebagai obat penurun panas, terutama buat bayi dan anak-anak. Memasak daging dengan daun Mekai, diyakini juga akan membuat daging lebih empuk atau lemah. “Nenek kami dulu pakai daun Mekai jadi pengganti Miwon. Enak itu, kalau ada bibitnya saya mau tanam,” kata Rusnani, wanita Dayak Kenyah Lepo Jalan.

Daun Mekai milik Andrianus Rio di Kampung Engkuni Pasek, Kecamatan Barong Tongkok, tumbuh subur hanya dengan rajin menyiram. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Penelusuran KabarKubar, pohon yang tumbu menjalar seperti sayur pare, timun atau kacang panjang ini berakar serabut. Masyarakat asli di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, biasa menyebutnya, Apa. Sedangkan Dayak Kayan disana, menamainya, Bekai. Dayak di Provinsi Kalimantan Barat biasa menyebutnya, Sengkubak. Di Provinsi Kalimantan Tengah biasa disebut Sungkai.

Jika dicermati, daun Mekai menyerupai daun sirih. Jika sudah tua, panjang daun yang tampak lancip itu bisa berukuran sampai 25 centimeter dengan lebar 8 centimeter. Tanaman ini berdaun majemuk, dengan warna daun bagian atas terlihat hijau tua mengkilat, dan daun bagian bawah berwarna hijau muda. Tangkai daun berwarna hijau dengan panjang sekitar 5 centimeter, terkesan kaku apabila dipegang.

Mekai tidak sulit dibudidayakan. Hanya dengan memotong bagian akar yang ada tumbuh tunas atau memotong cabang, dan ditancapkan ke media tanam. Tanaman ini hidup menjalar, di tanaman lain, tapi bukan sebagai benalu atau gulma yang merugikan tanaman ditumpanginya. Biasanya tumbuhan ini dapat ditemukan pada ketinggian 100-150 meter, baik di dataran rendah dan perbukitan. #Sonny Lee Hutagalung

Komentar Anda

Komentar

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here