Dana Desa Jadi Harapan Masyarakat

Jalan Kadot yang merupakan akses darat utama masyarakat Kampung Sentalar di Kecamatan Nyuatan, sangat licin di musim hujan. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

NYUATAN – KABARKUBAR.COM

Sebanyak 350 jiwa penduduk Kampung Sentalar di Kecamatan Nyuatan, harus berjuang keras untuk sekedar bepergian ke luar kampung. Sebab, 90 persen kondisi jalan kampung yang berisi 96 Kepala Keluarga dan tersebar di 3 Rukun Tetangga itu masih berupa tanah. Parahnya, di musim penghujan atau kemarau, tidak jauh beda kesulitan dihadapi warga. Pembangunan jalan sudah ditunggu selama puluhan tahun.



“Kalau tidak ada urusan keluarga yang penting, saya malas ke Sentalar ini. Coba kita lihat sendiri jalannya, kan parah. Hujan kita ketemu lumpur dan licin, panas kita ketemu pasir bikin motor amblas juga. Kasihan kalau begini terus,” ungkap Harun Simanjuntak, warga Kampung Sembuan yang sedang menemui sanak keluarga dari pihak istrinya, Senin 16/9/2019.

Ditemui di kediaman, Londius yang menjabat Sekretaris Kampung Sentalar mengungkapkan keluhan yang sama. Jalan sepanjang 12 kilometer dari tengah kampung menuju Jalan Poros Kecamatan di Kampung Temula itu tidak mudah melintasinya. Sebab kendala yang hampir sama dihadapi warga saat harus bepergian lewat jalur darat.

“Pakai ces (perahu bermesin kecil) lebih nyaman, tapi biaya lebih besar. Karena bensin lebih boros kalau pakai ces, dan cuma bisa sampai pelabuhan di Kampung Dempar. Mau ke Kantor Camat Nyuatan masih harus jalan kaki jauh, dan tidak ada ojek,” jelasnya.

Ia bersyukur dengan kucuran Dana Desa dalam tiga tahun belakangan untuk membangun jalan kampung. Yakni 2017 sampai 2019, telah membuat wajah kampung berubah. Terutama dengan pembangunan jalan berupa semenisasi yang tahun ini akan ada total sepanjang 700 meter. “Kalau Dana Desa tahun 2016 sudah bukan rahasia, ada masalah,” beber Londius.

Perjuangan berat dilakukan masyarakat Kampung Sentalar saat melintasi jalan sepanjang 12 kilometer, dengan kontur turunan dan tanjakan yang kadang berlumpur dan akan berpasir di saat musim kemarau. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Kesulitan warga juga makin berkurang dengan peningkatan jalan berupa semenisasi sekitar 200 meter dari APBD Kabupaten Kutai Barat di tahun 2017. Tahun 2019 ini sedang terlihat dikerjakan semenisasi, yang menurut informasi 240 meter, juga bersumber dana dari APBD Kubar. Sehingga makin mengurangi tantangan warga saat hendak menuju ‘Dunia Luar’ melintasi jalan yang dinamai Jalan Kadot tersebut.

“Sayangnya tidak ada plang proyek, makanya kami tidak tahu berapa panjangnya, dan siapa yang mengerjakan. Cuma kami dengar proyek di Gunung Baris itu punya orang kita di Nyuatan ini juga, tapi dikerjakan orang lain,” katanya seraya menyebut nama orang yang tidak asing bagi warga Kubar.

Warga RT II Kampung Sentalar, Toser, berharap proyek yang dikerjakan lebih mengutamakan peningkatan kualitas jalan. Serta bisa lebih terbuka, sehingga warga dapat menyampaikan aspirasi untuk pembangunan yang lebih baik. “Kami minta agar semenisasinya sampai ke tempat yang ada pondok itu, karena kalau hujan di situ lumpurnya dalam. Tapi tidak bisa dengan alasan anggarannya kurang. Bagaimana kami tahu, sedangkan plang proyek tidak ada,” katanya.



Saat menuju dan pulang dari Kampung Sentalar, kerusakan jalan tampak wajar dikeluhkan warga setempat. Setidaknya 70 persen berupa tanah yang di musim hujan sangat licin dan juga berlumpur. Musim kemarau pun tidak kurang kesulitan, karena ada 11 titik ruas jalan yang tampak berpasir. Lima titik di antaranya berpasir hingga sepanjang 50 meter lebih dengan kedalaman pasir mencapai 35 centimeter. Dua titik berpasir sepanjang lebih dari 100 meter. #Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here