Tuding tanggul buatan perusahaan akibatkan banjir dusun

Ketua Brigade Enggang Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Raya (BEPADKR), Rabin Rabahni, berdialog dengan petugas keamanan PT Sumalindo Lestari Jaya. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

SEBULU – KABARKUBAR.COM
Puluhan warga dusun Jambe, Desa Sanggulan, Kecamatan Sebulu di Kabupaten Kutai Kartanegara, menduduki perusahaan kayu PT Sumalindo Lestari Jaya. Selama empat jam lebih, warga menutup jalan masuk di Divisi MDF Mill. Sambil mengadakan prosesi adat suku Dayak Benuaq, Pakan Nyahu.



Pendudukan warga itu diakibatkan kekesalan atas sejumlah masalah sosial yang berkaitan dengan sekitar 24 kepala keluarga penghuni dusun. “Kami ingin bertemu pihak manajemen, masalahnya banyak hal yang ingin kami bicarakan. Bukan hanya soal warga kami yang tak dipekerjakan, tapi juga soal tanggul buatan yang membuat banjir dusun,” ujar Bola, Kepala Adat Dusun Jambe, seusai mengadakan prosesi adat Pakan Nyahu (Memberi sesaji pada para arwah atau penunggu sekitar tanggul) pada Rabu, 20 Juni 2007.

Bola yang telah berusia senja menuturkan, 28 Januari lalu terjadi hujan deras yang mengakibatkan banjir. Air pun menggenangi dusun hingga ketinggian dua meter. Akibat banjir itu, tak kurang puluhan ekor ternak peliharaan warga, seperti babi dan ayam mati. “Bukan hanya itu, tanam tumbuh serta tanaman sayur-sayuran kami banyak yang mati,” katanya.

Seorang wanita tua yang terlibat dalam prosesi adat Pakan Nyahu sedang menyajikan ketan sesaji. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Hasil rapat warga pasca banjir, menyimpulkan banjir diakibatkan pembangunan tanggul. Khususnya tanggul pada badan jalan antara Kilometer 1 dan Dusun Muara Jambe, yang dibangun pada tahun 1994 silam. Alasan tersebut didasarkan pada tanggul yang posisinya lebih tinggi dari dataran.

Selain itu, alur sungai di hilir tanggul ditutupi limbah kulit kayu dari pabrik sehingga air tertahan dan meluap serta membuka alur sungai yang baru. “Ini sudah sering terjadi jika hujan deras, lihat saja danau itu yang dulunya tidak ada. Apalagi limbah pabrik tanpa pengolahan langsung dialirkan ke sungai, tapi tertahan dan berbalik ke dusun,” jelasnya.

Diungkapkan Ueh, Ketua Tim Penanggulangan Banjir, air Sungai Jambe dan anak sungainya seharusnya mengalir ke Sungai Mahakam. Namun, satu gorong-gorong yang dibangun Sumalindo posisinya lebih tinggi dari daratan Dusun Jambe.



“Akibatnya lihat sendiri, air berbalik menggenangi lahan pertanian dan peternakan warga. Awalnya menggenangi beberapa hektare saja, sekarang sudah mencapai perkampungan. Sebelum dibangun tanggul, tak pernah terjadi seperti ini karena air lancar mengalir ke Sungai Mahakam,” katanya.

Sesuai janji warga, tepat pukul 13.00 Wita prosesi Pakan Nyahu selesai dan jalan masuk dibuka kembali. Hanya saja, pihak manajemen yang sebelumnya menyatakan telah menunggu warga, tak mau menemui perwakilan warga dusun. Alasannya, seluruh manajemen tak berada di kantor.



“Tidak ada orang di kantor, sudah pulang semua. Minggu depan saja, kalau menajemen sudah siap,” kata Jaka Waluyo, Manager Umum Sumalindo pada perwakilan warga di pos keamanan.

Pihak Polsek Sebulu menambahkan, alasan penolakan manajemen untuk menemui warga. Aksi yang dilakukan warga dengan menggandeng Brigade Enggang Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Raya (BEPADKR), belum memiliki ijin dari Polres Kutai Kartanegara. Polisi meminta ijin dari Polres Kukar dulu baru bisa menemui manajemen.

“Kami hanya dapat tembusan dari Polres soal rencana aksi ini. Seharusnya ada permohonan ijin yang disampaikan ke Polsek Sebulu dulu baru ke Polres. Bukan dari Polres, baru ke Polsek,” kata Kamto, yang berpakaian preman mengaku anggota Polsek Sebulu.

Aksi penutupan jalan PT Sumalindo Lestari Jaya oleh warga Dusun Jambe yang mengakibatkan antrian panjang kendaraan pada Selasa, 20 Juni 2007. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Ketua BEPADKR Rabin Rabahni mengatakan, solidaritas sebagai warga adat Dayak yang membuat ia mendampingi warga Dusun Jambe. Warga sendiri meminta dukungan BEPADKR untuk menuntut Sumalindo.

“Kalau berbicara pribadi kami tak turun seperti ini. Tapi puluhan warga Dusun Jambe adalah suku Dayak yang merasa dilecehkan perusahaan. Sampai dimanapun kami akan terus berjuang, dampingi warga adat. Berikutnya kami akan turunkan ratusan pemuda dayak dengan menggandeng ormas dayak lainnya di Kaltim,” tukas Rabin.



Ditanya alasan tak mau menemui warga, Jaka Waluyo mengaku perusahaan tak ingin membahas masalah lain. Kecuali tindakan pemecatan salah satu karyawan bernama Stepanus, yang adalah warga Dusun Jambe.

Sumalindo menganggap aksi didalangi Stepanus yang tak terima di PHK sepihak perusahaan. “Ini bukan masalah lain, paling soal Stepanus. Kami sudah berbuat banyak bagi warga, silahkan lihat sendiri,” katanya pada wartawan. #Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here