16 Bulan Kasusnya Mandek

Marulie yang merupakan salah seorang Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, meringkuk di ruang tahanan Polres Kubar bersama Martinus yang adalah anak kandungnya dan Pitgung sebagai menantu Marulie.    REVANDI/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – Akhirnya Polres Kutai Barat menunjukkan keseriusannya dalam perkara dugaan penganiayaan terhadap Sapriansyah. Laporan pengaduan yang disampaikan pada Jumat, 23 Mei 2014 lalu, berujung ditangkapnya tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Ketiga tersangka yang masih kerabat dekat itu diringkus pada Rabu, 26 Agustus 2015 sekira pukul 09.15 wita.

Kapolres Kubar AKBP Hindarsono mengungkapkan, korban tercatat warga RT 01 Kampung Cempedas Kecamatan Muara Lawa. Tersangka adalah Marulie dan Martinus yang merupakan anak kandung Marulie. Terakhir adalah Pitgung yang juga menantu dari Marulie.

“Mereka resmi menjadi tahanan Polres Kubar sejak Rabu malam,” ujarnya melalui Kasubbag Humas Polres Kubar, AKP Sarman. Ia menambahkan, ketiga tersangka dikenakan Pasal 351 junto Pasal 170 tentang Penganiayaan dengan tuntutan lima tahun penjara.

Minimnya info dari polisi, KabarKubar.com menghubungi Penasehat Hukum Korban, Agustinus. Melalui telepon, pengacara asal Kampung Benung Kecamatan Nyuatan ini mengaku salut dengan kinerja kepolisian. Kendati kasus ini sempat mandek selama lebih dari setahun.

“Kita patut puji kinerja polisi atas kasus ini. Belum pernah ada sejarahnya di Kubar, ada pejabat setingkat kepala SKPD yang ditahan polisi. Kita acungkan jempol kali ini pada polisi di Kubar,” katanya.

Diungkapkan Agustinus, kejadian bermula ketika Sapriansyah dan kerabatnya mendatangi rumah Marulie di kawasan Busur Kelurahan Barong Tongkok, Kecamatan Barong Tongkok. Jumat (23/5/2014) malam untuk menghadiri undangan rapat keluarga, karena Sapriansyah masih berkerabat dengan Marulie.

“Di tengah sempekat (rapat) tiba-tiba tersangka memukul korban. Tidak hanya Marulie, anak dan menantunya juga ikut memukul hingga korban berusaha menghindar ke luar rumah. Sampai ke jalan aspal tetap dikejar dan dipukuli,” bebernya.

Agustinus menyebut, tidak hanya tiga tersangka yang menganiaya korban malam itu. Sejumlah saksi telah diajukan namanya kepada penyidik Polres Kubar, melihat beberapa orang ikut menganiaya korban. Lepas dari pemukulan, Sapriansyah diantar kerabatnya menuju Mapolres Kubar untuk membuat laporan pengaduan malam itu juga.

Kemudian melakukan visum et repertum di Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar. “Kita percaya polisi masih melakukan pengembangan kasus ini, karena tidak hanya tiga tersangka itu yang memukuli korban,” jelasnya.   #Revandi

Ads

3 KOMENTAR

  1. Dalam kasus ini entah siapa yg benar2 KORBAN, Sapri yg dipukuli dan ada visumnya? Atau bpk. Marulie berserta anak, menantu dan cucu2nya? Sayangnya tidak ada visum untuk luka bathin pak Marulie, anak, menantu dan cucu2nya. Sebagai sahabat, saya yakin banyak orang diluar sana yg berdoa kpd pak Marulie sekeluarga, walau lambang keadilan matanya ditutup; tapi tidak buta. Semoga ada keajaiban dlm ketidak pastian hukum ini, dan…semoga pak Marulie diberi kekuatan.

  2. Adilkah kalau seorang seorang ayah dan kakek yang spontan karena emosi melihat rumah tangga anaknya “dirusak” dan tangisan cucunya yg bak anak ayam kehilangan induk, dipidana dan penjara? Adilkah bila seorang yg membela kehormatannya hrs meringkuk dlm penjara bersama para kriminal ? Mana hati nurani yg katanya ” penegak hukum”? Seandainya itu terjadi pada anda, apa yg akan anda lakukan? Semoga Tuhan menghukum orang zalim.

  3. Itu tidak benar, kita jgn liat dari kasus ini seolah2 memukul org tanpa dosa, itu ada sebab nya , org siapa tdk emosi jika anak nya di bawa kabur apa lagi sampai nikah siri pemalsuan surat , anak yg di bawa kabur tersebut sudah punya anak dan suami, dari sinilah pokok permasalahan tsb, saya yakin tuhan maha tau dan maha adil ,,,,siapa yg seharus nya di hukum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here