KTNA dan Gapoktan Siapkan Pola Bagi Hasil

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kutai Barat, Jackson John Tawi, meninjau penanaman bibit padi dari Institut Pertanian Bogor di areal persawahan Rapak Oros, Minggu 10/3/2019 siang. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

LINGGANG BIGUNG – KABARKUBAR.COM
Para pemilik lahan pertanian areal persawahan Rapak Oros di Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung bakal bertambah koceknya. Hanya duduk manis, mereka bakal menerima setidaknya Rp18 juta dari setiap hektare lahan dimiliki. Ada pola bagi hasil yang disiapkan dan akan ditawarkan oleh Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kutai Barat.



“Daripada lahannya tidak produktif, dan dibiarkan begitu saja, kami akan tawarkan pola bagi hasil. Setiap hektare bisa dapat Rp18 juta pertahun jika ditanami padi atau padi,” ujar Ketua KTNA Kubar, Jackson John Tawi, saat melihat penanaman bibit padi dari Institut Pertanian Bogor di Rapak Oros, Minggu 10/3/2019.

Ketua KTNA Kubar bersama Ketua Asosiasi Pengusaha Jagung Indonesia Kubar, Sahardi dan mitra Gabungan Kelompok Tani Maju Bersama, berdiskusi program pertanian yang akan dilakukan di Rapak Oros. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

John Tawi menjelaskan, pemilik lahan nantinya akan lebih diuntungkan dengan pola bagi hasil. Dibanding jika lahannya disewakan. Sebab, ada keuntungan lebih didapat jika ada peningkatan hasil panen. Misalnya, dengan bibit dari IPB atau bibit yang telah ditanam sebelumnya, bisa memanen padi sebanyak 3 ton dalam masa tiga bulan.

“Jika bagi hasilnya Rp2.000 perkilogram padi, berarti dapat hasil Rp6 juta sekali panen. Jika tiga kali panen dalam setahun, ada bagian Rp18 juta. Jika padi dirawat, bisa panen hingga 5 ton. Itu sama dengan Rp30 juta pertahun. Daripada jadi ‘lahan tidur’ saja,” kata pria yang juga Ketua DPRD Kubar ini.

Ia menambahkan, bekerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani Maju Bersama yang dipimpin Adrianus, diharapkan 720 hektare lahan di Rapak Oros bisa dikelola. Terlebih sarana pengairan atau irigasi yang sangat baik. Ditambah dengan jalan atau akses ke ratusan hektare yang telah dapat dilalui kendaraan roda empat dan lebih. “Pola yang sama dengan komoditi jagung, dan pembelinya sudah siap menampung,” jelas John Tawi.

Bendungan Rapak Oros yang memiliki debit air cukup tinggi, telah mengalirkan air di areal persawahan Rapak Oros seluas 1.000 hektare. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Kita siap membantu jika masyarakat ingin mengelola sendiri lahannya. Apalagi peralatan yang ada sudah cukup moderen, bisa mempersingkat waktu kerja dan mengurangi biaya operasional,” imbuh Imron Rosyadi, mitra Gapoktan Maju Bersama, seraya menjelaskan cara kerja mesin pemanen Combine Harvester. Mesin ini dapat memanen satu hektare padi hanya kurang dari 10 jam.



“Saat ini saya terima Rp4 ribu perkilogram harga jagung pipilan (sudah dirontokkan). Kalau belum dirontokkan, saya bayar Rp3 ribu, dan saya rontokkan di rumah petaninya,” ujar Sahardi, Ketua Asosiasi Pengusaha Jagung Kubar di lokasi yang sama. #Sonny Lee Hutagalung

Komentar Anda

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here