Warga Perbatasan Pertanyakan Sembako dan BBM Dari Bupati

0609_Ganasnya Riam Panjang menuju Long Pahangai dan Long Apari
RIAM: Jalur sungai yang menjadi satu-satunya akses menuju dua kecamatan perbatasan seperti tampak pada foto ini, membuat pasokan sembako dan BBM semakin sulit di musim kemarau.   SONNY LEE HUTAGALUNG/KabarMahulu.com

LONG BAGUN – Kemarau panjang beberapa bulan belakangan menunjukkan level air Sungai Mahakam mencapai titik terendah. Akibatnya, masyarakat di dua kecamatan paling hulu menjerit. Pasalnya harga-harga kebutuhan pokok melonjak, bahkan komoditi sehari-hari menjadi barang langka. Kelangkaan terjadi oleh imbas sulitnya pasokan barang menuju Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari tersebut.

Diungkapkan Petinggi (Kepala Kampung) Long Kerioq Kecamatan Long Apari, David Pagango, harga sembilan bahan pokok di daerah mereka saat ini telah naik tajam. Misalnya beras, yang tadinya dikisaran Rp 350 ribu per karung isi 25 kilogram, sekarang menjadi Rp 600 ribu. Gula saja sekarang seharga Rp 22 ribu perkilogram. “Masalahnya barang yang tidak ada karena sulit untuk mengambil ke Ujoh Bilang (ibukota Kecamatan Long Bagun). Ke Long Pahangai saja sulit, Ces (perahu ketinting) saja sudah kandas,” ujarnya.

David Pagango mengatakan, sepekan lalu harga bensin sudah mencapai Rp 25 ribu perliternya. Sebab di Long Pahangai saja telah di harga Rp 15 ribu perliter. Ia pun telah menerima undangan dari Bagian Perekonomian Sekretariat Kabupaten Mahakam Ulu. Untuk sosialiasi terkait Subsidi Ongkos Angkut barang kebutuhan ke perbatasan. Hanya saja, niat baik itu menurutnya terkesan mengambang. “Tapi perahu mana bisa angkut barangnya, resikonya tinggi. Berapa pemerintah bisa biayai beras yang di Ujoh Bilang saja sudah Rp 350 ribu, berapa harus dijual di Long Apari?” katanya.

Kepala Kampung Long Kerioq_David Pagango
Petinggi Long Kerioq, David Pagango

“Ada berita kami baca di koran, bahwa Penjabat Bupati menyebut telah menurunkan bantuan sembako dan BBM ke perbatasan. Mana barangnya?” tegas David Pagango.

Yang menyedihkan lagi, ungkap David Pagango, untuk berkomunikasi ke luar daerah pun sulit di Long Apari. Dalam situasi genting seperti sekarang, tower (base transceiver station) tidak berfungsi alias macet. “Kami mau tanya apa masalah pada tower, kalau bahan bakar minyak alasannya, serahkan ke masyarakat saja,” pungkasnya.

Ketua LSM Lasan Tuyan, Thomas Ngau, mengakui masalah macetnya BTS kerap terjadi. Dan setiap terjadi masalah di tower, selalu dikomunikasikan dengan pihak Telkomsel Regional Kalimantan dan Sulawesi di Balikpapan. “Terakhir ini bukan masalah BBM, tapi ada sparepart (alat kelengkapan) yang rusak dan sudah dicari gantinya,” jelasnya.

Thomas yang juga Ketua Gerakan Pemuda Pembangunan Perbatasan Kaltim, tidak lupa mengkritisi Telkomsel. Pada beberapa kesempatan, ia meminta Telkomsel meningkatkan kualitas BTS di Long Apari. Sebab selama ini cukup sulit untuk mengakses internet dan layanan lainnya seperti 3G. “Kami di Long Apari bukan orang kampungan yang cuma punya handphone (telepon genggam) model blacksenter (plesetan telepon selular harga terendah). Kami juga pakai android, smartphone dan ingin mengakses data informasi di dunia maya,” ungkapnya.   #Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here