Tidak Sanggupi Permintaan Besar ke Surabaya

0206_Pengolahan Rotan Yapan dan Emi di Kampung Dingin Kecamatan Muara Lawa (1)
USAHA LAMA: Yapan (berdiri) dan istrinya, Emi, tetap menjalankan bisnis rotan meski terseok-seok akibat kurang modal. Setiap hari keduanya dibantu kerabat lainnya, merebus, membersihkan dan mengeringkan rotan di tepi Jalan Poros Kubar-Tenggarong, RT 5 Kampung Dingin Kecamatan Muara Lawa.    DEESELHA/KabarKubar.com

MUARA LAWA – Lebih 20 tahun menjalani bisnis jual beli rotan, Yapan merasa miris. Jika dulu sanggup meladeni permintaan besar dari pembeli dari luar Provinsi Kalimantan Timur, sekarang hanya menunggu pembeli dari Kota Samarinda. Kurang dana untuk menjadi modal membeli rotan dari petani, menjadi alasannya menolak sejumlah permintaan besar.

“Dulu rotan jenis Pulut Merah kondisi kering bisa sampai Rp 40.000 perkilogram, sekarang cuma Rp 5.000,” kata Yapan (54), di lokasi pengolahan rotannya, tepi Jalan Poros Kutai Barat-Tenggarong, RT 5 Kampung Dingin Kecamatan Muara Lawa, Kamis 2/6/2016.

Rendahnya harga jual, ungkap Yapan, membuat dia juga membeli murah rotan dari petani. Bahkan untuk rotan jenis Pulut Merah dan Pulut Putih, tidak dia terima. Sebab harga jualnya tidak normal. Sehingga beresiko tinggi untuk disimpan. “Sekarang ini kebanyakan rotan jenis Botoq saja. Harga jual keringnya Rp 3.500 perkilogram, beli basah dari pemotong Rp 1.000,” paparnya.

Meski harga beli cukup jauh dari harga jual, tidak serta merta mendapat untung besar. Sebab biaya pengolahan rotan tidak murah. Dari proses merebus rotan yang membutuhkan 100 liter solar untuk setiap empat ton rotan. Belum lagi upah buruh untuk mengupas kulit rotan, hingga membeli Belerang untuk pengasapan dalam proses mengeringkan rotan. “Mau mengupah orang tidak bisa, maka rotan harganya murah. Tekor betul kita ini. Kita toke (majikan), kita juga buruhnya. Bersihkan dan masak rotan bisa sebulan lamanya,” imbuh Emi (48), istri Yapan.

Diakui Emi, rotan jenis Sega bisa dibeli Rp 5.00 dari pemotong di Kampung Peninggir Kecamatan Siluq Ngurai. Tapi jika sampai di lokasi pengolahan, harganya mencapai Rp 2.000 perkilogram. Sedangkan harga jual kering hanya Rp 4.500 perkilogram. “Saya pernah jual rugi, karena harga tiba-tiba turun. Dulu belum ada telepon, jadi tidak tahu harga turun. Saya beli Rp 5.000, jual hanya Rp 10.000. Keuntungan 3 kali jual rotan sebelumnya habis. Dari pada tidak ada kerja saja tetap bisnis rotan ini. Karena harga jual rendah, karet pun murah,” ungkapnya.

Yapan berharap ada bantuan modal meski dengan meminjam. Hanya saja, meminjam ke Bank menurutnya sangat beresiko. Karena proses pengolahan rotan hingga layak jual membutuhkan waktu sebulan. “Nanti pas sebulan belum bisa bayar, makanya saya takut pinjam modal ke Bank. Coba ada bantuan modal buat saya, bisa sanggupi permintaan dari Surabaya. Sebulan diminta satu truk Fuso (Mitsubishi 220 PS), itu 13 ton. Tapi saya kalah di modal, padahal berani dibeli Rp 17.000 perkilogram,” katanya.    #Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here