Dua Korban Berusia 14 Tahun Mengalami Trauma

Akibat wabah Corona Virus Disease 2019, sidang di Pengadilan Negeri Kutai Barat dilaksanakan secara Dalam Jaringan atau Online. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Tindak pidana khusus yang mendudukkan Pono sebagai terdakwa, memasuki babak akhir. Kamis, 28 Mei 2020 siang tadi, pria berusia 40 tahun itu divonis 13 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kutai Barat. Putusan itu hanya setahun lebih ringan dari tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kutai Barat.

“Terdakwa mengakui perbuatannya, dan menyesalinya. Ia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu,” ungkap Yunanto SH, Penasihat Hukum terdakwa Pono, usai mengikuti sidang yang dipimpin Ketua PN Kubar, Jemmy Tanjung Utama SH MH.



Ditanya apakah Pono menerima putusan majelis hakim tersebut, Yunanto mengaku kliennya tidak menunjukkan sikap menolak atau mengajukan banding. Dalam Pledoi atau pembelaan atas dakwaan, telah diungkapkan hal-hal diharap jadi pertimbangan majelis hakim dalam memutus perkara tersebut.

Ia pun telah berupaya membuat Pledoi untuk memperoleh putusan hakim yang setidaknya memberikan hukuman pidana seringan-ringannya. “Terdakwa mengaku mau berdakwah lagi, dan kembali ke jalan yang benar. Itu mungkin salah satu pertimbangan meringankan oleh hakim,” jelas Yunanto.

Yunanto mengatakan, selama proses hukum di Polres Kubar, Pono juga tidak membantah apa yang disangkakan. “Saya selaku praktisi hukum punya kewajiban mendampingi siapa saja untuk mendapatkan keadilan dalam hukum. Segala upaya sudah kami lakukan, dan keputusan hakim adalah yang terbaik bagi semua pihak,” tegasnya.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kutai Barat, Andy Bernard Desman Simanjuntak SH MH. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Jaksa masih pikir-pikir, ada waktu seminggu untuk menyatakan menerima atau menolak putusan hakim,” ujar Andy Bernard Desman Simanjuntak, JPU yang juga Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejari Kubar, menanggapi hasil sidang putusan.

Pantaun KabarKubar, sidang dilaksanakan terpisah secara Dalam Jaringan atau Online. Pono mengikuti jalannya sidang dari ruang Teleconference di Markas Komando Polres Kubar. Sedangkan Penasihat Hukum, JPU, Majelis Hakim dan Panitera di salah satu ruang sidang PN Kubar.

Pono didakwa bersalah telah melakukan persetubuhan dengan dua korban yang masih berusia 14 tahun. Berdasarkan Akta Kelahiran yang diterbitkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kutai Barat, korban pertama lahir pada tahun 2005. Sementara korban kedua lahir pada tahun 2004.

Hasil Visum Et Revertum atau VER dari Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar, kedua korban terdapat tanda-tanda dugaan persetubuhan sekitar 30 hari sebelum pemeriksaan VER. Kedua korban yang adalah murid di sekolah yang didirikan Pono, mengalami trauma atas perbuatan tersebut. Bahkan tampak banyak diam, dan tidak mau lagi bergaul dengan teman sebayanya.

Terdakwa selaku pimpinan tempat kedua korban menempuh pendidikan formal, semestinya menjamin serta melindungi peserta didiknya. Namun sebaliknya, terdakwa justru menjadi orang yang merusak masa depan korban.



Ia didakwa melanggar Pasal 81 ayat 3 junto Pasal 76D Undang Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak junto Pasal 65 ayat 1 Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Kasus tersebut disidangkan dengan Nomor Perkara: 46/Pid.Sus/2020/PN Sdw. Pono resmi ditahan pada Selasa, 31 Desember 2019 lalu.

Hari itu, dia memenuhi panggilan Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Kubar. Berdasarkan Surat Panggilan Nomor: S.pgl/99/XII/2019/Reskrim. Panggilan didasari Laporan Polisi Nomor: LP/126/XII/2019/KALTIM/RES KUBAR tanggal 26 Desember 2019. Surat yang sama juga dilayangkan kepada istri Pn untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Kedua surat ditandatangani Kepala Satreskrim Polres Kubar, Iptu Iswanto SH MH. #Sonny Lee Hutagalung

Komentar Anda

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here