KTNA Upayakan Peralatan Pertanian Moderen

Sejumlah peralatan pertanian dan perkebunan dengan teknologi canggih telah disiapkan di gudang milik Gabungan Kelompok Tani Maju Bersama di Rapak Oros. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

LINGGANG BIGUNG – KABARKUBAR.COM
Asosiasi Pengusaha Jagung Indonesia (APJI) Kabupaten Kutai Barat berharap masyarakat memanfaatkan lahannya untuk ditanami jagung. Sebab potensi meraup rupiah terbuka lebar dari berkebun komoditi yang tidak rumit penanaman dan pemeliharaannya. Dalam satu hektare lahan, bisa mendapatkan sedikitnya lima ton jagung. Dan berpeluang mendapatkan uang senilai Rp60 juta setiap tahunnya.

“Saya siap membeli seharga Rp4.000 perkilogram jagung pipilan (sudah dirontokkan). Jadi sekali panen bisa dapat Rp20 juta, dan setahun paling dikit terima Rp60 juta. Artinya setiap bulan dapat penghasilan Rp5 juta dari tiap hektare lahan,” ungkap Sahardi, Ketua APJI Kubar, Minggu 10/3/2019 di kebun jagung areal Rapak Oros Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung.



Pria asal Pulau Sulawesi ini mengakui setiap pekannya masih mendatangkan jagung dari Sulawesi. Itu menandakan setiap harinya Kubar membutuhkan satu ton jagung. Dia berharap, masyarakat bisa menanam jagung, dan ia siap membantu petani sejak penanaman hingga masa panen.

Sahardi telah empat tahun menjalankan usaha jual beli jagung di Kubar. Ia membeli jagung seharga Rp2.000 dari petani di Sulawesi. Ia pun telah menanami jagung di beberapa lahan yang tidak dikelola pemiliknya. Misalnya di Jaras, Kelurahan Barong Tongkok, dan di Kampung Linggang Bigung. Sementara di Rapak Oros, ia telah menanam jagung di lahan seluas 4 hektare.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kubar, Jackson John Tawi bersama Ketua Asosiasi Pengusaha Jagung Indonesia Kubar, Sahardi, menunjukkan jagung yang siap dipanen di Rapak Oros, Minggu 10/3/2019. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Jika petani disini menanam jagung, kita bisa tutup pasokan dari Sulawesi. Harganya akan saya samakan dengan di Sulawesi. Di sana Rp2.000, sampai di sini Rp4.000, jadi setidaknya di harga Rp4.000 itu saya beli,” katanya.

Diakuinya, saat pertama membuka lahan untuk jagung, hasil panen belum maksimal. Tapi penanaman kedua akan mendapat hasil panen berlipat. Dan demikian pada panen setelahnya. “Sehari setelah panen, lahan sudah bisa ditanami bibit jagung lagi. Jadi tidak perlu ada jeda seperti menanam komoditi lain,” imbuh Sahardi.



Menurut Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kutai Barat, Jackson John Tawi, pihaknya terus berupaya membantu petani. Termasuk menyiapkan peralatan pertanian dengan cara moderen yang dibutuhkan para petani. Sehingga bisa memangkas waktu, tenaga dan biaya operasional petani. “Kita segera berangkat ke Dinas Pertanian atau Dinas Perkebunan di provinsi, untuk mengadakan alat-alat pertanian dan perkebunan yang dibutuhkan,” katanya saat meninjau penanaman bibit dari Institut Pertanian Bogor di Rapak Oros.

Jackson John Tawi yang juga Ketua DPRD Kubar mengatakan, selain menanami sendiri, petani bisa meminjamkan lahannya kepada pengusaha dengan pola bagi hasil. Misalnya dengan harga Rp1.000 perkilogram hasil panen, setidaknya pemilik lahan mendapat hasil Rp5 juta setiap panen. “Bisa saja dengan cara sewa, tapi akan lebih menguntungkan jika bagi hasil. Saat panen meningkat, pendapatan pemilik lahan kan akan bertambah,” harapnya. #Sonny Lee Hutagalung

Komentar Anda

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here