Syarief : “Jika Ada Bukti Keterlibatan Pihak Lain, Kami Tetap Akan Memprosesnya”

Rumah Sakit Umum Daerah Harapan Insan Sendawar di Kampung Sekolaq Joleq Kecamatan Barong Tongkok. REYBER BENHOUSER SIMORANGKIR/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK-KABARKUBAR.COM
Penyidikan atas kasus dugaan korupsi pengadaan Alat-alat Kesehatan Tahun 2012 di RSUD Harapan Insan Sendawar akhirnya selesai. Berkas perkara proyek bernilai kontrak total Rp 3,35 miliar itu dalam waktu dekat akan segera dilimpahkan. Setelah proses pemberkasan dan penyusunan surat dakwaan selesai, Kejaksaan Negeri Kutai Barat akan melimpahkannya ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Samarinda.

“Penyidikan sudah selesai. Saat ini kami lagi merampungkannya dan minggu depan akan melimpahkan berkasnya ke Pengadilan Tipikor Samarinda,” ujar Kepala Kejari Kubar, Syarief Sulaeman Nahdi di ruang kerjanya, Senin 2/10/2017.

Ia menuturkan, atas kasus alkes tersebut hingga saat ini, Kejari Kubar masih menetapkan 2 tersangka. Yakni berinisial A, merupakan Pejabat Pembuat Komitmen dan S, perantara pada proyek yang diadakan tahun 2012 lalu itu.

“Tidak tertutup kemungkinan akan ada tersangka pihak lainnya. Selama ada alat bukti yang membuktikan kesalahan pihak lain, kami tetap akan memprosesnya,” tegasnya.

Dijelaskannya, untuk membuktikan kesalahan seseorang, tidak hanya berdasarkan asumsi semata. Namun harus dilengkapi minimal 2 alat bukti. Kepada tersangka dikenakan Pasal 2 ayat (1) alternatif Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 KUHP. “Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun,” terang Syarief.

Mengenai tanggal penyerahan berkas, pihaknya tidak bisa memastikan. Namun, akan mengusahakan pekan depan berkas kasus tersebut akan dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Sebab, kini Kejari Kubar lagi dalam proses pemberkasan dan pembuatan Surat Dakwaan terhadap 2 tersangka.

“Nanti di Persidangan mari kita lihat seperti apa. Adakah fakta-fakta baru atau tidak dipersidangan nanti, mari kita lihat bersama. Untuk kedua tersangka ini sudah selesai penyidikannya,” ucapnya.

Kajari Kutai Barat, Syarief Sulaeman Nahdi mengungkapkan, selama ada alat bukti yang membuktikan kesalahan pihak lain, Kejari Kubar tetap akan memprosesnya. REYBER BENHOUSER SIMORANGKIR/KABARKUBAR.COM

Lebih lanjut Syarief menyampaikan, dengan penanganan perkara ini, kiranya dapat menjadi pelajaran bagi pengadaan- pengadaan alkes khususnya di RSUD HIS dan di tempat lainnya. Pada Intinya, Kejari Kubar masuk ke dalam kasus itu, karena akses kesehatan masyarakat merupakan satu prioritas. Untuk itu harus ditangani dengan maksimal.

“Yang kami kejar adalah masalah harga. Kami berharap dengan pengungkapan kasus ini, pengadaan alat kesehatan di RSUD HIS lebih efisien. Sehingga menurunkan biaya kesehatan, khususnya di wilayah tugas Kejari Kubar. Sehingga, secara otomatis akses kesehatan semakin besar dan biaya kesehatan untuk masyarakat juga akan turun,” sebutnya.

Sebelumnya diberitakan, Kejari Kubar menahan 2 tersangka atas dugaan korupsi pengadaan alkes di RSUD HIS. Proyek tersebut bernilai kontrak total Rp 3,35 miliar yang berasal dari dua sumber. Yakni, Rp 2,4 miliar dari Dana Alokasi Khusus Kementerian Kesehatan dan Rp 950 Juta dari anggaran Badan Layanan Unit Daerah Provinsi Kalimantan Timur.

Keduanya langsung digiring ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A di Sempaja, Kota Samarinda. Dengan menggunakan mobil Kijang Inova yang dikawal ketat dua personil Polres Kutai Barat bersenjata laras panjang, dan dua Jaksa dari Kejari Kubar. Ada 3 alasan yang mendasari penahanan tersebut. Yakni, kekuatiran para tersangka akan melarikan diri, agar tidak menghilangkan barang bukti serta kemungkinan untuk mengulangi perbuatannya.

Menurut Kasi Pidsus Kejari Kubar, Johansen Saputra Parlindungan Silitonga, ada 24 item alkes yang harganya diduga tidak sesuai. Masing-masing 12 item barang dalam dua anggaran tersebut. Seperti ranjang, matras, inkubator dan sejumlah barang lainnya, untuk keperluan penanganan medis di RSUD HIS. “Indikasi perbuatan melawan hukum ditemukan dari penggelembungan harga barang-barang tersebut,” kata Johansen yang juga Ketua Tim Jaksa Penyidik dalam kasus ini.

Informasi yang dikumpulkan KabarKubar dari berbagai sumber, dugaan korupsi pengadaan alkes di RS HIS dilakukan cukup rapi. Dilaksanakan oleh 2 perusahaan, yakni PT Indotaqwa untuk sumber dana DAK, dan PT Sasana Tiara Mas dari dana BLUD. Namun, kontraktor pelaksana sangat tersembunyi. Sehingga tidak ada yang mengaku kenal dengan pelaksana pengadaan dari dua perusahaan tersebut. #Reyber Benhouser Simorangkir

Komentar Anda

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here