Kajari Pastikan Akan Mendalami

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Atas kinerja moncer yang ditunjukkan Kejaksaan Negeri Kutai Barat dalam pengungkapan kasus korupsi, mendapat tanggapan sangat positif dari masyarakat. Kepercayaan atas kinerja Jaksa dalam memberantas rasuah di Tanaa Purai Ngeriman dan Hulu Sungai Mahakam terus menuai pujian. Tidak sedikit dugaan korupsi yang dilaporkan masyarakat belakangan ini.

Salah satunya, laporan warga Kampung Betung Kecamatan Siluq Ngurai. Bulan lalu, tepatnya Kamis 2 Agustus 2018, dua warga mendatangi Kantor Kejari Kubar. Mereka melaporkan dugaan penyimpangan pengelolaan anggaran Dana Desa di kampung yang berjarak sekitar 85 kilometer dari ibukota Kabupaten Kutai Barat itu. “Kami melaporkan dugaan penyelewengan dana oleh Pengelola Dana Desa tahun anggaran 2017. Kami antar berkas berisi dokumen-dokumen sebagai barang bukti,” ungkap Bobi Martinus kepada KabarKubar, Kamis 13/9/2018.

Saat dikonfirmasi, Kepala Kejari Kubar Syarief Sulaiman Nahdi mengaku telah menerima laporan warga Kampung Betung tersebut. Hanya saja, keterbatasan personel membuat Jaksa harus menunda dulu penyelidikan pada kasus itu. Sebab sejumlah dugaan korupsi juga sedang didalami, dan siang tadi telah menggeledah Kantor KPU Kabupaten Mahakam Ulu. “Belum bisa jalan (didalami), karena kami kurang tenaga pak. Pasti kita jalan sebentar lagi,” katanya melalui pesan WhatsApp.



Diungkapkan Bobi, ada yang janggal dalam pelaksanaan proyek bernama Pembangunan Peningkatan Jalan Kampung senilai Rp582.543.000 bersumber dari APBN tahun 2017. Sebab menurut perhitungan mereka, ada setidaknya Rp171.125.000 yang diduga tidak benar pertanggungjawabannya. Yakni pada penyewaan tiga jenis alat berat yang disebutkan, termasuk mobilisasinya.

“Ada bukti dari PT Anekareksa International, jika alat berat itu tidak dibayar. Tapi adalah bantuan dalam program CSR (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan). Jadi sudah terjadi penyelewengan ratusan juta rupiah,” jelas pria muda ini.

Kepala Kejaksaan Negeri Kutai Barat, Syarief Sulaiman Nahdi. ARSIP/KABARKUBAR.COM

Bobi membeberkan, adanya dugaan penyelewengan dana itu membuat masyarakat dirugikan. Itu sebabnya, berharap Jaksa menindaklanjuti dan memroses laporan tersebut secepatnya. Sejumlah dokumen pendukung diserahkan ke Jaksa, berupa salinan Realisasi Laporan Pelaksaan Proyek Tahap I, foto-foto di lokasi proyek dan Laporan Corporate Social Responsibility PT Anekareksa International.

Hal lain diduga tidak benar adalah volume pasir dan batu atau sirtu. Sebab dalam laporan realisasi disebutkan ada 917 meter kubik sirtu yang telah digunakan. Harga satuannya Rp500 ribu permeter kubik, dengan nilai total Rp458.500.000. Menurut Bobi, ketebalan sirtu yang standarnya antara 20-25 centimeter, namun di lapangan hanya 4 centimeter.



“Harga sirtu tidak masuk akal, biasanya Rp300 ribu satu ret isi 4 meter kubik. Jika 917 meter kubik dibagi 4 kubik satu ret, ada 229 truk. Tapi kami dapat informasi hanya 86 ret, dan anehnya tidak ada pengawasan dari BPK (Badan Perwakilan Kampung),” jelasnya.

Ia mengatakan, proyek jalan kampung tersebut mestinya berada di pemukiman atau luar pemukiman dalam areal kampung. Tapi proyek yang dimaksud dilaksanakan di Jalan Poros Muhur-Lendian Lian Nayuq yang melewati Kampung Bentas, Betung, Kiak, Tendiq dan Penawang. Lebih lagi, jalan itu sudah pernah dikerjakan melalui APBD Kubar tahun anggaran 2006 dan juga di tahun 2007.

Informasi didapat KabarKubar, APBDes Kampung Betung di tahun 2017 mencapai Rp1.015.219.000. Yang terbagi dua sumber, yakni Dana Desa senilai Rp780.243.000 dan Alokasi Dana Kampung sebesar Rp239.976.000. Sedangkan Dana Desa dialokasikan dalam dua proyek pembangunan, yakni Sarana Air Bersih Rp197.700 dan Pembangunan Jalan Kampung Rp582.543.000. #Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here