RSUD HIS Siapkan Tim dan Alat Uji Darah

Seminar HIV AIDS yang digelar DPD KNPI Kutai Barat di Aula RSUD Harapan Insan Sendawar, Rabu 5/7/2017, diikuti gabungan organisasi pemuda.    SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – Jumlah Pengidap Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome di Kabupaten Kutai Barat tidak bisa dipandang enteng. Sebanyak 130 pengidap HIV/AIDS tercatat di akhir tahun 2016 lalu, menempatkan Kubar sebagai salah satu daerah terbanyak penderita penyakit mematikan itu di Kalimantan Timur. Semua orang diminta peduli, untuk mencegah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia itu.

“Kesehatan itu penting, makanya para pemimpin dunia juga menekankan kesehatan sebagai hal yang utama. Bahkan Bupati Malinau periode 2006-2011, Martin Billa menyebut kesehatan sebagai King of The Kings, artinya raja di atas segala raja,” ungkap Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Kutai Barat, FX Sumardi, pada Seminar HIV/AIDS di Aula RSUD Harapan Insan Sendawar, Rabu 5/7/2017.

Dijelaskan Sumardi, dari 130 penderita yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, terbagi dua jenis. Sebanyak 117 pengidap HIV dan 13 pengidap AIDS. Dari jumlah tersebut, 3 orang dinyatakan telah meninggal. Itu sebabnya, KNPI mengajak masyarakat, khususnya para pemuda dan pemudi untuk ikut peduli penanggulangan penyakit yang belum ada obatnya tersebut. “Kami juga menyambut baik kepedulian yang luar biasa bagi pemuda dari dokter dan dinas yang menyelenggarakan seminar dan sosialiasi ini. Ini adalah kreasi dokter yang sesuai permintaan bupati, agar pegawai memiliki kreasi dan inovasi,” katanya.

Pemuda, lanjut Sumardi, diminta ikut mengumumkan pada masyarakat luas kehadiran Poliklinik Voluntary Counseling and Testing (Konseling dan Tes Sukarela) di RSUD HIS. Agar setiap orang dapat mengetahui dengan menguji darah. Sehingga bisa diketahui status HIV dan mengantisipasi sejak dini. “Jika ada penderita HIV/AIDS, jangan dikucilkan. Seperti pesan bapak Kapolda Kaltim, mari kurangi saling hujat dan menjelekkan dan mari saling dukung agar kuat,” jelasnya.

Ketua DPD KNPI Kabupaten Kutai Barat, FX Sumardi, mengajak para pemuda untuk peduli penanggulangan HIV/AIDS.    SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Ia menambahkan, peran generasi muda sangat vital. Jika salah penempatan, salah rencana atau salah berkegiatan, alangkah salah ke depannya bagi pembangunan daerah. “Jika pemuda sehat, saya yakin akan memunculkan pemimpin di masa depan. Hari esok harus lebih baik dari hari ini,” pungkas Sumardi.



“Dua bulan lalu, sahabat saya meninggal karena HIV/AIDS. Keluarganya tidak peduli, kasihan dia telantar hingga ajal menjemput. Penderita HIV/AIDS pun belum ada rumah penampungan di Kaltim. Kita harus peduli kepada pengidap HIV/AIDS,” imbuh Christina Paren, Wakil Ketua DPD KNPI Kubar, dalam sambutan Ketua Panitia.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kubar, Barnabas, juga mengajak pemuda peduli penanggulangan HIV/AIDS. Diakuinya, pemerintah dan masyarakat telah sadar akan bahayanya penyakit tersebut. “Pengidap tidak boleh dikucilkan, dan jaga pergaulan. Jangan melakukan seks bebas. Jika tidak bisa menahan diri, harus melanggar, jangan lupa gunakan alat safety. Tapi kalau bisa jangan melakukan hubungan badan di luar nikah,” pesannya.

Seminar dengan narasumber tunggal, dokter Eri Sarudin, diikuti puluhan pemuda dari berbagai organisasi. Antara lain, Srikandi Laskar Merah Putih, Insan Anti Narkoba (Insano), Mahasiswa Politeknik Kubar, Gerakan Dayak Kaltim (Gerdayak) dan Pengurus DPD KNPI Kubar. Yang menarik, fans grup band Slank yang biasa disebut Slankers juga ambil bagian. Bahkan antusias dalam dialoq yang dimoderatori Fauzi. “Apakah dengan tes VCT seseorang bisa tahu dia tertular atau mengidap HIV/AIDS?” tanya Tere (16), anggota Slankers Kubar.

“Tidak bisa dipastikan hanya dalam sekali tes, meskipun hasilnya negatif. Perlu dites lagi 3 bulan kemudian, 6 bulan dan setahun, barulah bisa diketahui hasil finalnya,” sahut dokter Eri Sarudin.



“Kenapa hasil tes tidak boleh diketahui umum?, paling sedikit kita bisa mengantisipasi penularan karena tahu orang yang tertular,” kata Tere dari Srikandi LMP Kubar.

“Hak asasi seseorang yang mengidap HIV/AIDS untuk dirahasiakan identitasnya. Kita masih cenderung menghina atau menghujat pengidap. Sebelum dites VCT, dibuat surat pernyataan. Pertama bersedia dites, dan boleh atau tidak diketahui orangtua, kerabat atau atasan,” jawab dokter Eri Sarudin.    Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here