6.000 Hektar Lahan Jadi Kebun Sawit SAA dan CPP

1005_Pelas Tanaa di Kampung Matalibaq
SAKRAL : Dayung adat Umaq Telivaq, Koho (Ikat kepala kain kuning), memimpin Pelas Tanaa di lokasi bakal perkebunan sawit PT Setia Agro Abadi dan PT Citra Palma Pertiwi, Rabu (6/5/2015).    DOMINIKUS BAYAU (Istimewa)/KabarMahulu.com

LONG HUBUNG – Ratusan warga Kampung Matalibaq Kecamatan Long Hubung melaksanakan ritual adat Pelas Tanaa di lahan bakal lokasi perkebunan kelapa sawit dua perusahaan. Selama dua hari, Selasa dan Rabu (5-6/5/2015) lalu, ritual dilakukan untuk lahan seluas 6.000 hektar. Di lokasi itu akan dilakukan land clearing atau pembersihan lahan yang masuk dalam Izin Usaha Perkebunan PT Setia Agro Abadi dan PT Citra Palma Pertiwi.

Di lahan yang terletak di Sungai Meritiq dan Bengeh itu telah ada 15 unit excavator untuk membersihkan lahan adat masyarakat kampung yang disebut Uma Telivaq itu. Ritual itu digelar setelah SAA dan CPP memberikan dana tali asih 70 persen dari lahan yang akan dibersihkan. Senilai Rp 6.333.138.000 diterima mayarakat setempat, Kamis (26/3) lalu. Penyerahan dana itu disaksikan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Mahakam Ulu Dodit Agus Riyono dan Camat Long Hubung Yoh Imansyah. Hadir juga Anggota DPRD Mahulu Stenes Klemen Ajang, Kapolsek Long Hubung Iptu Purwanto.

Petinggi Kampung Matalibaq, Huvang Paran, mengatakan pekan depan lahan tersebut segera digarap menjadi perkebunan sawit. Ritual sakral yang dipimpin kedua Dayung Adat Uma Telivaq, yakni Ding Kueng dan Koho, dibiayai SAA dan CPP senilai Rp 50 juta. “Sesuai kesepakatan perusahan untuk membiayai kelengkapan semua jajanan atau sesajen dan peralatan yang dibutuhkan dalam Pelas Tanaa,” ujar pria yang akrab disapa Sleman ini.

Lewat ritual Pelas Tanaa, warga memohon kepada Sang Pencipta serta roh para leluhur untuk memulihkan dan menjaga wilayah Tanah Adat Matalibaq. Khususnya di sepanjang Sungai Meritiq dan Bengeh berikut anak sungai, juga hutan beserta isinya. Agar kegiatan perkebunan kelapa sawit berjalan lancar tanpa hambatan. Dan seluruh pekerja aman selama bekerja di di lokasi perkebunan. Sebagaimana adat istiadat leluhur suku Dayak Bahau, sebelum melaksanakan sesuatu yang melibatkan orang banyak, harus dilaksanakan ritual. “Guna menghindari sesuatu hal yang tidak kita inginkan,” jelas Sleman.

Acara Pelas Tanaa itu juga dihadiri Koordinator Manager Umum SAA dan CPP, Oldy Arnol J Liu. Kepala Adat Kampung Matalibaq Hibau Bong, Sekretaris Adat Sofia Buring Lung dan Ketua Badan Perwakilan Kampung Samuel Hibau Doq juga tampak di lokasi. Mereka berbaur bersama para tokoh pemuda, tokoh adat dan seluruh masyarakat Matalibaq dan kampung berdekatan.    #Sari Gunawan Nababan

Ads

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here