Tersangka VH Tidak Hadiri Panggilan dan S Masih Dicari

MH selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan pada Proyek Pembangunan Jembatan Beton Sungai Tikah yang merugikan negara hingga Rp 2,67 miliar, digiring jaksa menuju mobil yang akan membawa ke Rutan Kelas IIA Sempaja, Kota Samarinda. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Kejaksaan Negeri Kutai Barat melakukan penahanan terhadap 2 Tersangka para perkara dugaan korupsi proyek Pembangunan Jembatan Beton Sungai Tikah, Kamis 9/11/2017. Dengan pengawalan Personel Polres Kutai Barat, keduanya digiring Jaksa Penyidik menuju Rumah Tahanan Negara Kelas IIA Sempaja, Kota Samarinda. Saat ditahan, keduanya didampingi masing-masing pengacara.

Diungkapkan Kepala Kejari Kubar, Syarief Sulaiman Nahdi, yang ditahan adalah BE selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mahakam Ulu di tahun 2015. Dan MH sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan pada proyek jembatan berukuran 14 meter x 8 meter dan dibiayai APBD Mahulu tahun anggaran 2015. Kerugian proyek berdasarkan perhitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Kaltim, mencapai Rp 2,67 miliar.

“Kedua tersangka tersebut akan ditahan selama 20 hari ke depan. Ada 3 alasan yang mendasari penahanan tersebut. Yakni kekuatiran para tersangka akan melarikan diri, dan agar tidak menghilangkan barang bukti. Juga kemungkinan untuk mengulangi perbuatannya,” ujar Syarief Sulaeman Nahdi.

Ditambahkan Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Kubar, Johansen Saputra Parlindungan Silitonga, kedua tersangka datang ke Kejari Kubar memenuhi panggilan Penyidik. Sekitar jam 9 pagi, mereka hadir didampingi penasehat hukum masing-masing. MH didampingi Desem dan Dalmasius untuk BE. “Setelah menjalani pemeriksaan selama 3 jam dengan menjawab 15 pertanyaan, Penyidik memutuskan untuk melakukan penahanan,” bebernya.

BE digiring menuju mobil yang dikawal Personel Polres Kutai Barat untuk berangkat ke Rutan Sempaja, Kamis 9/11/2017. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Pantauan KabarKubar, saat digiring Jaksa ke mobil yang akan menuju Samarinda, BE mengenakan kemeja tangan panjang warna biru dengan celana panjang dan sepatu hitam. Ia menyandang tas ransel warna hitam, didampingi 3 Jaksa. Sedangkan MH, juga mengenakan kemeja lengan panjang dan celana jeans biru dengan sepatu hitam. MH juga membawa tas ransel berwarna cokelat. Kedua tersangka dibawa ke Samarinda sekira pukul 15.00 Wita dengan pengawalan 2 Polisi bersenjata laras panjang.

Sebelumnya diberitakan, Kejari Sendawar mengumumkan hasil penyidikan atas dugaan korupsi proyek Pembangunan Jembatan Beton Sungai Tikah. dan ditetapkan 4 tersangka yang memiliki peran langsung. Yakni BE selaku Kepala DPU Mahulu saat itu, VH sebagai Pejabat Pembuat Komitmen, MH yang menjadi Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, dan S sebagai pelaksana kegiatan.

“Tersangka VH tidak memenuhi panggilan dengan alasan sakit. Sedangkan Tersangka S, sampai saat ini masih dalam pencarian Penyidik,” jelas Johansen Saputra Parlindungan Silitonga.

Informasi dihimpun KabarKubar.com, proyek atau kegiatan tersebut bernama Program Pengembangan Jalan dan Jembatan yang dilaksanakan PT Bumi Anugrah Persada. Bersumber dana dari APBD (Dana Perimbangan) tahun anggaran 2015, dengan nomor kontrak: 630/SPK-05/BM-APBD/DPU-MU/VIII/2015.

Waktu Pelaksanaan selama 90 hari kalender, yakni 10 Agustus 2015 hingga 08 Desember 2015 dan Masa Pemeliharaan selama 180 hari kalender. Pada Dokumen Pelaksanaan Anggaran pada Dinas PU Mahulu, kegiatan tersebut bernomor: 1.03.01.33.61.5.2

Namun hingga akhir tahun 2016, atau setahun setelahnya, pekerjaan tidak juga rampung. Bahkan diperkirakan baru sekitar 35 persen dari target yang direncanakan. Sementara, Dinas PU Mahulu telah melakukan pembayaran 100 persen kepada pihak Kontraktor Pelaksana. Saptoni sebagai Direktur PT Bumi Anugrah Persada, telah ‘menghilang’ pada akhir tahun lalu. Nomor telepon genggamnya di 085339091444 pun tidak lagi dapat dihubungi KabarKubar sejak Oktober 2016.

Dalam dokumen yang didapat KabarKubar.com, pembayaran proyek dilakukan dalam tiga tahap, yakni:
1. Rp 999.417.840,00 sebagai Uang Muka 20 persen. Pembayaran ini dilakukan atas dasar Surat Perintah Membayar (SPM) dengan Nomor 0110/SPM-LS/DPU/2015 tertanggal 23 Desember 2015. Pembayaran ini juga didasari SP2D dengan Nomor 01270/SP2D-LS/PDU/2015 tertanggal 30 Desember 2015.
2. Rp 1.729.804.260,00 sebagai Progres 54,61 persen. Pembayaran ini dilakukan atas dasar Surat Perintah Membayar (SPM) dengan Nomor 0247/SPM-LS/DPU/2015 tertanggal 11 Desember 2015. Pembayaran ini juga didasari SP2D dengan Nomor 02348/SP2D-LS/PDU/2015 tertanggal 16 Desember 2015.
3. Rp 2.267.867.100,00 sebagai Progres 100 persen. Pembayaran ini dilakukan atas dasar Surat Perintah Membayar (SPM) dengan Nomor 0339/SPM-LS/DPU/2015 tertanggal 23 Desember 2015. Pembayaran ini juga didasari SP2D dengan Nomor 03225/SP2D-LS/PDU/2015 tertanggal 30 Desember 2015. #Sonny Lee Hutagalung

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here