Target 6 Bulan Rampung Dengan Biaya CSR Banpu

Ketua Kerukunan Keluarga Dayak Bentian, AKP Lorensius Balak, memberikan cinderamata sebagai wujud rasa Terima Kasih masyarakat Bentian Besar kepada Khun Com Congnun yang baru menjabat Site Manager PT Trubaindo Coal Mining atau Banpu. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BENTIAN BESAR – KABARKUBAR.COM
Perusahaan pertambangan batubara PT Trubaindo Coal Mining atau Banpu, berjanji akan menuntaskan pembangunan Lamin Adat Bentian Besar. Proyek yang terbengkalai sejak dimulai pembangunan pada 30 Januari 2013 itu, ditargetkan rampung 6 bulan ke depan. Dananya bersumber dari Program Corporate Social Responsibility atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Banpu senilai Rp6,5 miliar.

Tanda bangunan itu akan diselesaikan, tampak saat Seremonial Kelanjutan Pembangunan Lamin Adat Bentian Besar, Sabtu 5/5/2018 pagi. Acara di Lamin Adat Bentian Besar, Kampung Dilang Puti Kecamatan Bentian Besar itu dihadiri sejumlah tokoh. Antara lain, Khun Com Congnun selaku Head Cluster Melak Group TCM-BEK (Bharinto Ekatama), Hirung sebagai Manajer External TCM-BEK, Herlando Sianipar yang menjabat Departement Head Comdev (Community Development) TCM, dan Khun Angkoon sebagai Coal Logistic Head TCM-BEK.

Hadir pula Kepala Adat Besar Bentian Besar Rusli Remusa Bae, Danramil 0912-04 Bentian Besar Kapten Infanteri Syamsu Duha, serta para Petinggi dan Kepala Adat se-Bentian Besar. Dan juga para Pimpinan Perusahaan yang beroperasi di seputar wilayah Kecamatan Bentian Besar seperti PT Timber Dana, PT Wana Mitra, PT Pertamina EP, PT Ufa dan Pimpinan Bank Kaltimtara Kas Pembantu Bentian Besar.

Khun Com Congnun memakaikan rompi keselamatan kepada juru ukir dan juru tukang bangunan, sebagai tanda dilanjutkannya pembangunan. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Mohon doa restunya. Semoga pengerjaan lamin lancar dan bisa tercapai target selesai dalam 6 bulan,” ungkap Ajun Komisaris Polisi Lorensius Balak, Ketua Kerukunan Keluarga Dayak Bentian Kabupaten Kutai Barat , Senin 7/5/2018.

Lorensius menjelaskan, Lamin berukuran panjang 50 meter dan lebar 25 meter. Tekad menyelesaikan pembangunan lamin menarik antusias warga. Ditambah PT Banpu  berkomitmen menyelesaikan rumah adat yang mulai peletakan batu pertama oleh Presiden PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Khun Pongsak Thongampai.

Jika sebelumnya pembangunan lamin tersebut dilakukan sepenuhnya oleh Banpu, kali ini ditangani kontraktor pelaksana yang merupakan putra setempat. Yakni Mures Wilson Jahen yang adalah Direktur Utama PT Tonar Berkat Abadi, putra Dayak Bentian kelahiran Dilang Puti.

Sedangkan bentuk sebagaimana rencana awal dengan 9 kamar yang mewakili 9 kampung (Penarung, Dilang Puti, Suakong, Jelmu Sibak, Sambung, Randa Empas, Tende, Anan Jaya dan Tukuq). Dilengkapi juga 3 kamar untuk kepala adat kecamatan dan ruang balai pertemuan.

“Banyak agenda besar yang kita rencanakan kalau lamin sudah ada. Bentian termarjinalkan, dan secara politis pun tidak dianggap menguntungkan. Kita (Dayak Bentian) mungkin tidak berpengaruh secara signifikan, tapi kita ingin dipandang sebagai satu rumpun yang memiliki jati diri,” tegas AKP Lorensius Balak yang juga Kepala Kepolisian Sektor Bentian Besar.

Ia melanjutkan, ada desakan warga adat Bentian agar pembangunan lamin itu dilanjutkan. “Banyak yang meminta segera diselesaikan, karena sudah berbentuk bangunan. Kalau baru tiang-tiang, saya minta dibatalkan saja. Tetapi secara adat ini tidak boleh gagal, nanti bisa kualat,” katanya.

Soal lamin yang dibangun di Kampung Dilang Puti, tepi Jalan Trans Kaltim-Kalimantan Tengah itu, Lorensius mengakui sedang berkordinasi dengan sejumlah pihak. Tujuannya, menyusun langkah-langkah untuk merampungkan lamin yang berdiri di lahan yang cukup luas, berukuran 200 x 85 meter. Lahan tersebut dihibahkan Tikes, seorang warga Dilang Puti. “Intinya, kita mau Lamin Adat Bentian ini bisa rampung. Agar jati diri Dayak Bentian semakin terlihat, apalagi selama ini tidak ada lagi lamin tempat berkumpul seluruh warga adat Bentian,” pungkasnya.

Lamin tetap menggunakan bahan baku kayu Ulin untuk tiang-tiangnya, dan bengkirai untuk dinding maupun lantai. Di bagian bawah lamin dibuatkan lantai dari semen, agar dapat digunakan untuk kegiatan lain, atau parkir kendaraan.

Sebelumnya diberitakan, masyarakat adat Dayak Bentian ingin pembangunan Lamin Adat tersebut segera dirampungkan. Sebab telah terbengkalai bertahun-tahun. “Kami tidak ingin membuat murka para leluhur, jika Lamin itu tidak diselesaikan. Kami bisa kualat,” ujar Tokoh Muda Dayak Bentian, Lirin Colen Dingit.

Lirin yang masih keturunan langsung dari Bangsawan Dayak Bentian, mengatakan lamin itu merupakan identitas mereka sebagai suku Dayak. Lamin juga menjadi salah satu alat pemersatu lewat keragaman budaya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika lamin telah rampung, akan banyak manfaat didapat warga Dayak Bentian, khususnya sembilan kampung di Bentian Besar.

“Bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat karena menjadi objek wisata. Dengan memamerkan kerajinan tangan, seperti Anjat (tas dari rotan), Lampit (tikar rotan) dan Ulap (kain tenun dari kulit kayu Pentun),” jelas pria yang berprofesi sebagai Advokat di Kutai Barat. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here