APMS Terapung di Batas Negeri, Pertahankan Harga Meski Hadapi Risiko Melintasi Riam

0
204

Warga Mengaku Kualitas Pertalite Tidak Cocok Untuk Mesin Ces

Warga Kampung Long Apari, Kecamatan Long Apari, membeli pertalite untuk mesin ces yang digunakan. REVANDI/KABARKUBAR.COM

LONG APARI – KABARKUBAR.COM
Warga Kecamatan Long Apari di Kabupaten Mahakam Ulu sudah merasakan program Bahan Bakar Minyak atau BBM satu harga. Dulunya, harga premium atau bensin saja bisa mencapai Rp25 ribu hingga Rp40 ribu perliter yang jauh dari Harga Eceran Tertinggi ditetapkan Pertamina. Kini, masyarakat di ujung negeri tersebut membeli bbm seharga di ibukota Provinsi Kalimantan Timur.

“Kita bersyukur, sejak Bapak Joko Widodo jadi Presiden RI, kami bisa merasakan harga BBM murah. Kami semakin merasakan arti kemerdekaan yang sebenarnya,” ungkap Melkior Parong Tingang, Tokoh Masyarakat Long Apari yang pernah duduk sebagai Anggota DPRD Kabupaten Mahakam Ulu.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU Kompak No.66.757.001 menangani distribusi BBM untuk masyarakat Kecamatan Long Apari yang tersebar di 10 kampung. Berada di tepian Sungai Mahakam, tepatnya RT 4 Kampung Tiong Ohang, melayani warga yang datang lewat sungai maupun darat.

“Ini sebenarnya APMS (Agen Penjual Minyak dan Solar) Terapung, tapi kami berada di darat. Karena lokasi tidak bisa untuk menyimpan stok di air, karena tepian dangkal. Banyak juga yang membeli dari darat,” jelas Suryadi, Manajer Penjualan yang ditemui pada Selasa, 8 Februari 2022.

Pria akrab disapa Adi ini mengungkapkan, pihaknya sudah tidak menjual premium. Sebagaimana instruksi dari Pertamina. Pertalite dan Solar dijual seharga ditetapkan Pertamina. “Kalau Pertamax kami tidak jual, karena memang tidak laku disini. Sedangkan pertalite saja banyak dikeluhkan,” katanya.

Keluhan dimaksud tidak semata soal harga yang lebih mahal dari premium. Tapi kualitas yang dinilai tidak cocok untuk mesin ces atau ketinting yang menjadi kendaraan umum warga. “Banyak warga mengeluh karena pertalite bikin mesin rusak. Kita tidak bisa tanggung jawab karena hanya menjual,” tegasnya.

Hal itu diakui warga Kampung Long Penaneh 2, Suling Tingang. Ia mengatakan, pertalite kurang cocok untuk mesin ces atau ketinting. “Mesin cepat panas, dan banyak punya kami yang rusak. Kalau untuk sepeda motor tidak masalah,” ujarnya, seraya menambahkan mesin ces atau ketinting tidak menggunakan campuran oli.

Dijelaskan lagi oleh Adi, pihaknya melayani pembeli tanpa kecuali. Meski hanya membeli dua liter, tetap diladeni. Jika berniat membeli banyak hingga ratusan liter atau perdrum, ia mempertimbangkan kondisi air Sungai Mahakam.

“Lihat situasi air, takut timbul kelangkaan stok. Malah pernah di-komplain masyarakat karena banyak yang mengecer BBM. Kami tidak berhak melarang, itu ranahnya pemerintah atau aparat hukum,” ujarnya.

Warga Kampung Long Penaneh 3, Kristianus Ding, membeli pertalite untuk bahan bakar mesin ketinting menuju Sungai Kacu. REVANDI/KABARKUBAR.COM

Kepala Kampung Long Penaneh 2, Andreas Ecot, membenarkan pelayanan APMS Terapung yang sama. “Saya dan warga biasa membeli untuk mesin ces. Biar cuma 2 liter tetap dilayani. Kami biasa bepergian memakai ces,” katanya usai membeli 5 liter pertalite.

“Sekarang pengecer jual Rp10 ribu perliter, kami tidak masalah. Anggap saja bantu warga tidak jauh ke APMS. Dulu biasanya Rp15 ribu perliter, malah bisa Rp25 ribu kalau air Mahakam surut,” timpal Yohanes Singaq, Kepala Kampung Long Penaneh 3.

Menurut Adi, pihaknya bisa enam kali mendatangkan pertalite dengan longboat atau perahu cepat bermuatan 30 drum. Sedangkan solar hanya sekitar 7 ton didatangkan setiap 14 hari. Saat ini longboat bisa datang dalam tiga hari sekali. Tujuannya, mengejar kondisi air yang baik karena air sungai pasang.

“Stok full, antisipasi air surut. Tahun 2018 lalu pernah melangsir muatan pakai ces. Kami harus nambah ongkos Rp300 ribu perdrum. Tapi harga bbm kita jual tidak naik, karena Pertamina sudah menanggung ongkos angkutnya sampai kesini,” pungkasnya. #Revandi

Komentar

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here