Hits: 1

Tuhing sampai Selasa, tidak boleh ada yang keluar masuk kampung

Sebagian masyarakat Kampung Engkuni Pasek mengikuti langsung ritual Tulaq Bala yang dipusatkan sekitar 50 meter di belakang rumah Kepala Adat Kampung Engkuni Pasek, Y Pamung. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Ratusan warga Kampung Engkuni Pasek, Kecamatan Barong Tongkok menghadiri acara adat yang digelar Lembaga Adat Kampung setempat. Dipimpin seorang Pememang atau pemimpin ritual adat, masyarakat mengikuti beberapa prosesi adat budaya warisan leluhur. Ritual disebut Tulaq Bala itu dilakukan sejak pagi hingga sore hari pada Senin, 23 Maret 2020.



Ritual adat ini, telah disampaikan sejak Jumat, 20 Maret 2020 lalu. Melalui surat yang diketahui dan disetujui Kepala Kampung Engkuni Pasek, Teopilus Junjung. “Ini salah satu upaya untuk membentengi kampung dan masyarakat dari ancaman virus corona,” kata Kepala Adat Kampung Engkuni Pasek, Y Pamung, dalam surat tersebut.
Surat Pemberitahuan Nomor: 06/LAK-EP/Up/III/2020 tertanggal 20 Maret 2020 itu disampaikan Lembaga Adat Kampung Engkuni Pasek, kepada masyarakat adat dan pengurus kampung tetangga. Yakni Kampung Pepas Eheng dan Kampung Mencimai di Kecamatan Barong Tongkok, dan Kampung Benung di Kecamatan Damai.
Dalam surat disebutkan, semua warga diundang untuk menghadiri atau mengikuti ritual dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. “Agar ritual tersebut mujarab sesuai keyakinan kita, maka akan diberlakukan Tuhing atau Bejariq (hari tenang) sejak ritual Tulaq Bala selesai,” kata Y Pamung kepada KabarKubar di sela ritual, siang tadi.
Salah satu sudut dan ornamen adat pada ritual Tulaq Bala yang ditujukan untuk membentengi masyarakat dan kampung dari Virus Corona. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Soal Tuhing, jelas Y Pamung, dilaksanakan sampai Selasa, 24 Maret 2020 selama sehari penuh. Disertai sejumlah ketentuan selama Tuhing, dan telah disampaikan juga dalam surat pemberitahuan. Pertama, seluruh warga kampung tidak boleh keluar dan masuk kampung. Baik berjalan kaki maupun mengendarai kendaraan. “Tinggal saja di rumah masing-masing, dan tidak boleh mengambil (memetik, menebang, mencabut) pohon, juga daun tanaman yang hidup,” ujarnya.
Ketentuan kedua, orang luar tidak diperbolehkan masuk kampung. Baik itu berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Hal itu berlaku juga bagi pelajar, karyawan perusahaan, penjual sayur, tengkulak dan profesi lainnya. Kepada perusahaan diminta dapat memberi izin atau dispensasi kepada karyawannya selama Selasa besok. “Semua akses jalan masuk kampung akan ditutup selama Tuhing,” pungkas Y Pamung.
Menurut sejumlah warga, Tulaq Bala pernah dilakukan beberapa kali di Engkuni Pasek. Ritual kali ini dipimpin Tukut yang dikenal dengan sebutan Kakah Peni sebagai Pememang.
Tukut, alias Kakah Peni, memimpin ritual Tulaq Bala sejak pagi hingga sore hari Selasa, 23 Maret 2020. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Saya sudah berumur 64 tahun, dan ini yang kedua kali pernah ikut Tulaq Bala. Pertama sekitar tahun 1968, waktu saya kelas 2 SD,” ungkap Lorensius Sunyantho, salah seorang tokoh masyarakat Engkuni Pasek yang lama merantau di daerah lain.
Pria akrab disapa Suni ini menjelaskan, Tulaq Bala pertama yang diikutinya karena ada wabah saat itu. Karena banyak warga yang sakit, sehingga rumah panjang adat atau Lamin yang banyak dihuni warga, dipindahkan. Dari kawasan  tepi Sungai Luiq ke daerah Pasek yang berjarak sekitar 1 kilometer.
“Waktu itu ada Repaaq (wabah), banyak yang sakit perut. Mungkin itu diare, bikin banyak orang meninggal dunia. Artinya ritual ini diadakan karena dinilai ada hal yang sangat luar biasa. Karena Corona dianggap repaaq yang luar biasa,” pungkas Suni.
Lokasi Pememang melakukan ritual Mempakng. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Pantauan KabarKubar, lokasi ritual Tulaq Bala sekitar 50 meter di belakang rumah Y Pamung, RT 2 Kampung Engkuni Pasek. Sejak pagi hari, Kakah Peni sebagai Pememang melakukan ritual Mempakng (membacakan mantera dan doa) di satu lokasi.
Usai Mempakng, dilanjutkan Pekate Uneeq (menyembelih Babi), Pekate Piaq (menyembelih Ayam), dan Pekate Kokoq (menyembelih Anjing). “Kalau ini, hanya diambil bagian hati saja. Jadi tidak untuk dikonsumsi,” ungkap Nisephorus, seorang warga RT 1.
Setelah itu, dilakukan ritual Tempus Patukng atau meludahi patung. Terakhir adalah melakukan ritual Wawar atau Nariiq Taliiq Sentanaan Jariiiq. Yakni membentangkan tali adat sebagai tanda larangan keluar atau masuk kampung. “Ini (Wawar) dilakukan di tiap batas kampung selama 1 x 24 jam. Sudah diumumkan juga ke kampung lain, ada larangan melintas,” imbuh Nisephorus.



Ritual Tulaq Bala tidak hanya dilakukan masyarakat Kampung Engkuni Pasek. Tapi sejumlah pihak dan warga beberapa kampung juga melakukan upaya berdasarkan kearifan lokal warisan leluhur ini. Tujuannya, warga setempat terhindar dari serangan virus Corona. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here