Hits: 0

Tetap Semangat Meski Honor Hanya Rp10 Ribu

NYUATAN – KABARKUBAR.COM
Sepuluh kampung di wilayah Kecamatan Nyuatan sepakat untuk mendirikan Pos Ronda dan Pos Komando Pengawasan Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. Bertempat di perbatasan Kampung Muut dan Kampung Pepas Eheng yang masuk wilayah Kecamatan Barong Tongkok. Ribuan pelintas tercatat dalam buku di pos yang dijaga petugas piket secara bergiliran selama 24 jam sehari.

“Karena itu jalan poros utama ke Nyuatan, 10 kampung sepakat membiayai secara iuran. Tapi karena dua kampung (Lakan Bilem dan Intu Lingau) memiliki akses tersendiri, jadi hanya 8 kampung ikut di Posko Covid-19 Muut,” kata Camat Nyuatan, Lukas, kepada KabarKubar pada Selasa, 2 Juni 2020.



Menurut Kepala Kampung (Petinggi) Terajuk, Wiagara, mereka sepakat untuk mengutus dua perwakilan warga untuk bertugas di Posko Covid-19 Muut setiap harinya. Sebab ada tiga kelompok kerja atau Shift dalam 24 jam operasional posko tersebut. “Setiap kampung dibebankan membayar Rp10 juta untuk biaya operasional posko itu,” ujarnya saat ditemui di kediaman.

Bukan tugas mudah, meskipun terlihat hanya sekedar mengulur dan menarik tali penutup portal. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Dana Penanganan Covid-19 dalam APBKam hanya Rp19 juta. Iuran untuk Posko Covid-19 sudah kami bayarkan Rp10 juta, dan sisanya yang kami gunakan di kampung ini,” ungkap Petinggi Jontai, Nikolas.

Hal yang sama disampaikan Petinggi Sembuan, Jernisius. Karena telah disepakati posko satu pintu di Muut, kewajiban pembiayaan telah dibayarkan. “Bagus saja, karena posko itu jalan masuk utama. Jadi sudah tunaikan kewajiban soal pembiayaan. Kami tahu, memang besar biaya posko itu,” katanya melalui Staf Kampung Sembuan, Rifka Simanjuntak.

Layaq dan Danel menunjukkan jadwal piket yang telah disepakati untuk dua utusan dari tiap kampung setiap harinya. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Komandan Perlindungan Masyarakat Kampung Muut, Layaq, suka duka mereka yang bertugas di Posko Covid-19 Muut beragam. Pengawasan ketat yang mereka lakukan, tidak banyak dipersoalkan para pelintas. “Cuma sekarang ini banyak petugas piket yang tidak hadir. Paling kami ada empat orang yang ada,” katanya.

Dijelaskannya, penjagaan di posko tersebut memang butuh banyak petugas. Ada yang bertugas mencatat nama, alamat, tempat tujuan pelintas dan suhu tubuh. Ada yang tugasnya mengukur suhu tubuh pelintas dengan termometer digital. Petugas khusus pemutar kran air dari jarak jauh, serta pembuka dan tutup portal.

Iman dari Kampung Dempar, bertugas memeriksa suhu tubuh pelintas dengan termometer digital. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Banyak tugas lainnya, tapi petugas kurang. Makanya ada kami ini yang mestinya shift berikut, bahkan besok. Tapi hadir karena kasihan kurang orang,” kata Layaq yang bertugas siang kemarin, meskipun di jadwal piket masuk malam. “Biar cuma dibayar Rp10 ribu, sekedar ganti bensin kesini saja, kami tetap semangat,” imbuhnya.

Danel, anggota Linmas Kampung Muut yang hadir meski bukan jadwal piketnya, mengaku aturan ketat diterapkan. Walau warga Kubar sesuai identitas KTP, jika tidak jelas kepentingan masuk ke wilayah Nyuatan, tidak diperbolehkan masuk. Apalagi hanya ingin bersantai atau menikmati objek wisata di sama.

“Ada saja (pelintas) yang tidak mau diperiksa suhu tubuh atau mencuci tangan. Malahan yang begitu itu orang sini (warga Nyuatan). Mestinya kasih contohlah buat warga luar,” katanya.

Iman yang bertugas mengecek suhu tubuh, adalah perwakilan Kampung Dempar, mengakui setiap hari catatan di Posko Covid-19 diperiksa Staf RS Harapan Insan Sendawar. Mengecek jumlah pelintas dari luar Kubar dengan KTP luar Kubar. “Kalau cantik, saya lebih lembut lagi bicara,” gurau pria dengan tampilan sangar tapi murah senyum ini.

“Tukang jual pakaian pernah izin mau antar saja pesanan. Terpaksa kami izinkan setelah ditelepon pemesan, tapi harus cepat kembali. Jadi kami ketat pak,” ucap Jamri, Sekretaris Kampung Jontai.



Soal konsumsi, diakui Ratuanto dari Kampung Dempar, tidak masalah. Semacam dapur umum sudah didirikan sejak awal posko tersebut didirikan. Air untuk cui tangan bersumber dari sungai dan disiapkan dua kran. Hanya saja, harus menggunakan mesin gensert di malam hari untuk menarik air ke penampungan.

“Makan sudah disiapkan, suka-suka mau makan kapan saja. Mie instan pun ada saja, tinggal masak. Pernah juga ada (pelintas) yang ditembak (diukur suhu tubuh), malah buka mulut. Dikira mau dikasih cairan kah di mulutnya,” ujarnya, disambut tawa para petugas di Posko Covid-19 Muut. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here