Berikan Sertifikasi Jika Product Lokal Telah Penuhi ‘3 Aman’

NTFP-EP bersama mitra dalam acara Learning Day_ Natural Dyes di Aula Politeknik Sendawar. REYBER BENHOUSER SIMORANGKIR/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK- KABARKUBAR.COM
Non Timber Forest Products Exchange Programme- Indonesia merupakan jaringan kerjasama antar organisasi yang bergerak pada basis Hasil Hutan Bukan Kayu. Ruang lingkupnya mencakup Asia Tenggara dan Selatan. Bersama masyarakat lokal dan adat, organisasi ini bekerja untuk memperkuat kapasitas komunitas, yakni untuk pengelolaan Sumber Daya Alam yang lestari.

Usaha berbasis masyarakat, salah satunya kerajinan, sudah menjadi mata pencaharian masyarakat. Namun, hasil kerajinan itu seringkali kurang memenuhi kebutuhan pasar atau kurangnya jaringan ke pasar yang tepat. Untuk itu, NTFP- EP Indonesia hadir ditengah-tengah masyarakat guna mengelinkkan atau menghubungkan produk tersebut ke pasar.

Di Kabupaten Kutai Barat, kehadiran NTFP-EP telah eksis beberapa tahun yang lalu. Organisasi ini juga telah melakukan penandatangan perjanjian kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kubar, yaitu pada 3 November 2016 lalu. Perjanjiannya bertitik pokok pada peningkatan kerajinan anyaman rotan dan tenun doyo. Juga terkait pemasarannya dan peningkatan kapasitas kerajinan.

Field Coordinator NTFP- EP Indonesia, Romawati saat mengajarkan para peserta membuat pewarna natural. REYBER BENHOUSER SIMORANGKIR/KABARKUBAR.COM

“Untuk itu, bersama Dinas Perindagkop, Pariwisata serta Dekranasda, kami berkoordinasi guna peningkatan kapasitas kerajinan lokal serta NTFP-EP juga mengelinkkan product lokal itu ke Pasar,” ujar Field Coordinator NTFP- EP Indonesia, Romawati dalam wawancaranya kepada KABARKUBAR.COM, Jumat 29/9/2017.

Alumni Institut Pertanian Bogor Tahun 2013 itu menjelaskan, di wilayah Kubar mayoritas kerajinan yakni Kerajinan Rotan dan Tenun Doyo. Biasanya kerajinan ini bekerja secara bermitra. “Kita telah memiliki Unit Rotan Lestari atau Roles. Yaitu Unit Sertifikasi guna memastikan produk lokal itu memenuhi standar aman. Ada 7 kebun dan 21 pengrajin yang sudah terbentuk. Itu berlokasi di Kampung Eheng, Kecamatan Barong Tongkok,” jelasnya.

Jika sudah sertifikasi, ucap wanita muda energik tersebut, pada produk akan diberi logo sertifkasi. Sertifikasi itupun harus memenuhi penilaiann 3 aman. Yaitu, aman lingkungan, aman produsen dan aman konsumen.

Ibu-ibu Kelompok Sulam Tumpar Muara Asa mengajarkan membuat Sulam Tumpar Tunjung kepada peserta. REYBER BENHOUSER SIMORANGKIR/KABARKUBAR.COM

”Kita tidak menjanjikan pasar, tapi kita bisa mengelinkkan kerajinan masyarakat ke Pasar. Sebab pasar biasanya melihat jaminan pengelolaan rotan itu secara lestari, tanpa merusak alam,” sebutnya. Ia menambahkan, dalam hal safety pengrajin, NTFP-EP bersama-sama Pengrajin juga membuat Standart Operational Prosedure sesuai dengan kearifan lokal. Sehingga baik bagi lingkungan, produsen dan konsumen.

Pada masa project berjalan, NTFP-EP memberikan pendampingan kepada kelompok pengrajin Tenun Doyo dan Anyaman Rotan. Baik itu perihal kapasitas pengrajin, pelatihan, peningkatan kualitas produk, manajemen organsiasi, pengembangan dan pemasaran serta lainnya.

”Ketika project telah selesai pun, kita masih tetap bertahan dan tetap mensupport pasaran produk itu. Kita tetap ada untuk mereka,” Ucap Wanita yang mengaku memijakkan kaki di Kubar semenjak 22 September 2014.

Lebih lanjut disampaikan Roma, goal atau tujuan NTFP-EP tercapai, ketika produk pengrajin lokal telah mencapai Pasar Nasional dan Iternasional. “Sebagai bentuk promosi ke Pasar Internasional, kita mengikutkan produk lokal ke Pameran Luar Negeri. Seperti pameran di Jepang, Singapura dan Negara lainnya. Ini semua dalam rangka launching produk lokal ke Pasar Internasional,” pungkasnya. #Reyber Benhouser Simorangkir

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here