Hits: 0

Komisi II Sarankan Bangun Pabrik Pengolahan Karet

0806_Petani Karet di Kutai Barat
TERPAKSA : Meski harga jual getah karet turun drastis hingga di kisaran Rp 4.500 dari Rp 15.000 perkilogram, petani karet di Kabupaten Kutai Barat tetap bekerja demi menghidupi keluarga. Masyarakat berharap pemerintah daerah peduli dan peka atas penderitaan mereka selama hampir 2 tahun ini.  DEESELHA/KabarKubar.com

BARONG TONGKOK – Sebagian besar masyarakat di Kutai Barat menjerit akibat rendahnya harga jual getah karet yang menjadi andalan untuk kehidupan sehari-hari. Dari harga yang menembus Rp 15 ribu per kilogram, sekarang hanya di kisaran Rp 4.000 perkilogram. Akibatnya, roda perekonomian di Kubar juga terpengaruh cukup signifikan. Para pedagang di sejumlah pasar hingga pertokoan ikut mengeluhkan anjloknya harga tersebut. Sebab omset mereka berkurang hingga 50 persen.

“Selama ini tidak pernah terjadi ada orang beli ikan asin yang minta harga Rp 3.000. Semiskin-miskinnya warga Kubar ini, beli ikan asin paling tidak belinya seperempat kilogram,” kata Markulius Mahing, pemilik dan pengelola Pasar Meleo Baru Barong Tongkok. Ia mengakui, puluhan pedagang sembilan bahan pokok dan barang kelontong di pasar itu telah mengeluh omset yang turun drastis. “Kalau begini terus, biaya sekolah anak juga jadi masalah. Yang didapat (hasil penjualan karet) sekarang saja sudah susah mengaturnya untuk dapur dan kebutuhan lain,” ujar Ernilati, warga Kampung Ongko Asa Kecamatan Barong Tongkok.

Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Martinus, mengaku tidak tinggal diam atas persoalan harga karet. Bahkan komisi yang membidangi Ekonomi dan Pembangunan telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi keluhan para petani karet di Kaltim. Antara lain dengan studi banding ke Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, April 2015 lalu. “Kita mencari tahu bagaimana harga karet di sana masih di kisaran Rp 9.800 perkilogram,” katanya.

Politisi PDI Perjuangan ini mengungkapkan, pembelian karet di Pelalawan dikelola baik oleh pemerintah daerah setempat. Sehingga harga tidak dipermainkan para tengkulak yang berasal dari luar daerah. Para tengkulak karet dikordinir dan terdata dengan baik dan jembatan timbang difungsikan untuk memantau keluarnya karet. “Sekarang di Kubar maupun Kaltim para tengkulak bebas masuk, tidak ada yang memantau,” ungkapnya saat bincang-bincang di salah satu warung kopi di kawasan Barong Tongkok.

Tidak itu saja, ia mendorong rekan-rekannya di gedung parlemen Karang Paci untuk berpikir keras soal harga karet. Sedang dibahas di Badan Musyawarah DPRD Kaltim untuk mempelajari sistem yang dilakukan di Provinsi Lampung terkait penanganan karet. “Saya akan perjuangkan harga karet di Kubar bisa menembus Rp 10 ribu perkilogram,” imbuh Martinus.

Terpisah, Ketua Komisi II DPRD Kubar Edy Kurniawan, mengatakan bahwa komisinya telah melakukan rapat dengar pendapat bersama Dinas Perkebunan Kaltim, Kamis (4/6/2015) lalu. Komisi akan menginventarisasi potensi yang ada seperti pabrik pengolahan karet di Kaltim. Agar memangkas rentang waktu dan biaya operasional yang otomatis mengangkat harga. “Kita akan mengusulkan dibentuk perusahaan daerah yang mengelola karet. Pabrik karet yang ada agar difungsikan, bila perlu membangun pabrik baru,” katanya.

Data terakhir, ada35.092 hektar kebun karet yang tersebar di 16 kecamatan se-Kubar, dengan 58.745 petani karet dan produksi mencapai 45.415 ton. Sedangkan total areal perkebunan karet di 12 kabupaten dan kota di Kaltim mencapai 91.254 hektar.    #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here