Hits: 0

Anak-Anak Mahulu Gagal Mendapat Beasiswa Karena Pendaftaran Sistem Online

Seorang anak di Kampung Merayaq, Kecamatan Mook Manaar Bulatn, terpaksa belajar di salah satu pos dermaga sungai untuk memastikan adanya akses internet. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

MOOK MANAAR BULATN – KABARKUBAR.COM
Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 turut melemahkan dunia pendidikan. Keharusan belajar dari rumah, memunculkan masalah baru. Selain harus memiliki alat elektronik seperti komputer, keberadaan sinyal internet juga menjadi masalah. Hal ini menjadi keluhan para pelajar, mahasiswa, dan orangtuanya.

Koordinator Pusat Pengembangan Anak Kampung Muara Jawaq di Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Alpian, mengeluhkan sulitnya mencari jaringan internet di empat kampung. Yakni Kampung Abit, Tondoh, Gadur dan Muara Jawaq.  Sementara anak diminta belajar dari rumah. Ia meminta perhatian pemerintah daerah dan pusat.

“Kalau sampai tahun depan begini, akan banyak anak yang pendidikannya tidak maksimal. Akan jadi masalah, karena sebulan bisa sekali saja guru ke rumah. Belajar online (dalam jaringan) menyulitkan,” katanya dalam Serap Aspirasi Masyarakat atau Reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Ekti Imanuel, pada Senin, 27 Juli 2020.

Reses Anggota DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, di Kampung Gunung Rampah, Kecamatan Mook Manaar Bulatn pada Senin, 27 Juli 2020. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Hal yang sama disampaikan Ketua Komisi Pemuda Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Mahakam Kutai Barat, Pendeta Yulis Siahaya. Dalam pertemuan di Kampung Gunung Rampah, Kecamatan Mook Manaar Bulatn atau MMB itu, diakui susahnya para pelajar mengikuti pelajaran lewat online.

“Perlu dicari jalan keluarnya. Kalaupun ada sinyal internet, tidak semua pelajar bahkan orangtuanya yang punya laptop atau handphone android. Kasihan mereka yang tidak mampu membeli,” ujarnya.

Dua pelajar harus memanjat pohon untuk mendapatkan akses internet di salah satu kawasan tinggi di wilayah Kampung Sambung, Kecamatan Bentian Besar. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Menanggapinya, Ekti Imanuel mengakui pendidikan maupun telekomunikasi bukan bidang menjadi wewenang mereka yang duduk Komisi 3 DPRD Kaltim. Namun, itu tetap diperjuangkan. Selaku Wakil Rakyat dari Daerah Pemilihan Kaltim V yang mencakup Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu.

Soal akses internet yang sulit di MMB, akan disampaikan ke pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan pihak terkait seperti Telkom dan Dinas Komunikasi dan Informatika. Diyakini akan banyak anak putus sekolah jika keadaan tetap seperti itu.

“Di seberang (MMB) ini juga kurang tower atau penguat sinyal. Di Dewan akan kita perjuangkan untuk tambah tower disini,” jelas Ekti yang juga Ketua DPC Partai Gerakan Indonesia Raya Kabupaten Kutai Barat.



Menurut Ekti, internet sangat penting dalam kehidupan manusia saat ini. Karena bisa belajar semua ilmu lewat internet. Bahkan, banyak orang tidak lagi bisa dipastikan latar belakang pendidikannya karena keterampilan yang didapat dari internet.

“Misalnya di Kutim, pernah ada dokter gadungan. Selama 15 tahun mengobati orang tidak salah, tidak ada yang mati. Saat ditanya Polisi, dia ngaku belajar dari Youtube dan Google,” ujarnya.

Diakuinya, sistem online menjadi masalah baru dalam hal bantuan pendidikan atau beasiswa. Tahun ini, pemberian beasiswa diharuskan mengikuti pendaftaran online. Sementara di periode 2014-2019 lalu, setiap Anggota DPRD Kaltim mendapat jatah beasiswa Kaltim Tuntas sampai 100 orang.

Masyarakat dari Kampung Tondoh, Gadur, Abit dan Muara Jawaq, berkumpul di lokasi ini untuk mendapatkan akses internet. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Ia menyebut akan mengupayakan untuk kembali ke aturan lama. “Tapi periode ini harus ikut seleksi online, sehingga sulit bisa lolos. Hampir 99 persen usulan beasiswa dari Mahulu akhirnya gagal karena seleksi online. Tidak akan habis masalah ini jika harus daftar online. Ada cara lain, ikuti pendaftaran online, lalu kodenya dikirim ke saya,” tegas Ekti.

Terkait akses internet tersebut, Edy MS sebagai Technisi Indosat di Kubar, mengakui selama ini belum ada masuk aspirasi soal sinyal itu ke pihaknya. Untuk itu ia menyarankan untuk mengajukan aspirasi tersebut. Bisa dengan langsung bertanya solusi untuk tower.

“Tadinya ada rencana memindahkan tower dari Gunung Rampah ke Muara Jawaq. Ada info lagi tidak jadi dipindah, karena pelanggan makin banyak. Otomatis tidak pindah,” kata pria yang mengurusi gangguan sinyal atau teknis tower Indosat di seluruh Kubar.

Anggota DPRD Kubar, Yahya Marthan menilai pandemi Covid-19 juga berdampak negatif terhadap dunia pendidikan di Kubar. Sebab selama masa pandemi, kegiatan belajar mengajar dengan cara tatap muka terpaksa terhenti dan diganti melalui media online. Hal itu menjadi keluhan para orangtua maupun penyelenggara pendidikan.



Orangtua dan anak didik cukup terkendala. Oleh keterbatasan sarana, keterbatasan ekonomi, keterbatasan pengetahuan dan waktu. Guru kesulitan berkomunikasi lansung dengan peserta didik, juga tidak bisa secara efektif memanfaatkan waktu mengajar yang ditentukan. Kondisi demikian dapat dipastikan berdampak pula terhadap kualitas proses belajar.

Ia menegaskan, akan berbeda halnya dengan kondisi daerah perkotaan. Di mana fasilitas sudah relatif lengkap. Sementara pemerintah memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar hingga 22 Agustus 2020. “Ini masih mungkin diperpanjang lagi, jika pandemi cenderung meningkat,” ucap Marthan yang adalah Politisi Partai Gerindra.

Masalah akses internet menjadi persoalan penting di sejumlah kecamatan. Terlebih di wilayah Kecamatan Siluq Ngurai, Bongan, Bentian Besar, Jempang, Penyinggahan, Muara Pahu dan Long Iram. Persoalan itu banyak disampaikan masyarakat di media sosial.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kutai Barat, Nopandel, menyaksikan pelajar yang berjuang mendapatkan sinyal internet di atas pohon untuk mengikuti pelajaran secara online dari sekolahnya. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Salah satunya diunggah oleh akun Facebook Adi Sansius. Ia menampilkan sulitnya anak-anak di Kampung Merayaq, MMB, mencari sinyal internet. Sehingga berkumpul di salah satu pos pelabuhan sungai setempat.

Demikian juga diunggah akun Azhar Aza dalam format video. Menampilkan dua remaja putri dari Kampung Kenyanyan, Kecamatan Siluq Ngurai, yang harus susah payah mencari sinyal internet.

“Mungkin ke depannya bisa dibangun tower. Biar kami nggak susah belajar online, harus naik gunung cari sinyal. Kalau hujan nggak bisa naik kerjakan tugas,” ungkap Tika dan Gita, pelajar Kelas 10 SMA.

“Belajar daring boleh, tapi sesuaikan dengan sekolah dan kondisi geografis. Jangan sampai dipaksakan atau ikut-ikutan. Miris lihat perjuangan saudara-saudari kita menempuh pendidikan seperti ini!” tulis akun Maslan Lan.

“Sama. Kami Di Besiq (Kampung Besiq, Kecamatan Damai) harus naik pohon. Sampai-sampai da bukit yang namanya Hallo Sayang. Karena sering buat kumpul-kumpul cari sinyal. Syukur-syukur bisa muncul H+,  dapat dua garis saja sudah tidak bisa geser-geser lagi posisi,” sebut akun Igel Van. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here