Hits: 0

Pekerja Bisa Dapat Rp 500 Ribu Sehari

 

Kapal penyeberangan Sungai Mahakam di Melak Ilir yang menjadi moda transportasi satu-satunya bagi masyarakat yang ingin bepergian dari Kecamatan Melak menuju Kecamatan Mook Manar Bulatn dan sebaliknya. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

MELAK-KABARKUBAR.COM
Perahu penyeberangan atau ferry menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat yang bepergian dari Kecamatan Melak ke Kecamatan Mook Manar Bulatn dan sebaliknya. Bahkan sebelum Kabupaten Kutai Barat terbentuk, sejumlah ferry telah beroperasi membantu warga menyeberangi Sungai Mahakam. Dalam sebulan, setiap perahu bisa berpenghasilan Rp 20 juta.

Ada tiga titik penyeberangan di bagian hilir Kelurahan Melak Ilir yang menyeberangkan ribuan kendaraan setiap harinya. Setiap perahu rata-rata memiliki ukuran panjang 21 meter dan lebar 3,6 meter. Dengan menggunakan mesin berkekuatan 10, 13 dan 16 PK, perahu beroperasi sejak subuh hingga jam 9 malam. Setiap perahu, menghabiskan bahan bakar setidaknya 13 liter.

“Bos kami pak Wen, juga Ketua Kelompok Penyeberangan, tinggalnya dekat sini sekitar penyeberangan juga. Kami yang kerja ada 15 orang,” Aulia Nur Rahman (21), pekerja ferry yang pelabuhan sandarnya di bagian paling hilir.



Soal tarif penyeberangan, kata Aulia, bervariasi. Untuk kendaraan roda dua, Rp 5.000 sekali menyeberang, dan kendaraan roda empat atau mobil, Rp 25 ribu. Untuk kendaraan besar, seperti truk roda enam diberikan tarif Rp 75 ribu sekali menyeberang. Sedangkan untuk penumpang orang, tidak dimintai bayaran alias gratis. “Kalau sudah malam, tarif pun naik 2 kali lipat,” jelas warga Jalan 17 Agustus RT 4 Melak Ilir ini.

Soal penghasilan pekerja ferry pun tidak tentu. Bila hari hujan atau terlalu terik, penumpang penyeberangan tidak berkurang. Diakui Aulia, jka cuaca mendukung dan ramai penyeberang, bisa mendapatkan Rp 500 ribu perhari. Saat sedang sepi penumpang, masih dapat penghasilan hingga Rp 200 ribu perhari.

Ditanya jika pembangunan Jembatan Tulur Aji Jejangkat selesai dan kendaraan bisa melintas di atas Sungai Mahakam, Aulia pasrah jika penumpang berkurang. “Ya walaupun nanti kehilangan pekerjaan, atau harus cari kerjaan lain, gak apalah. Yang penting akses untuk menyeberang cepat,” ujar pria yang telah bekerja di penyeberangan sejak masa sekolah.

Salah seorang pengguna jasa ferry yang biasa menyeberang, Asdiani (19), mengakui sangat tertolong dengan adanya perahu penyeberangan. Sebab, jembatan yang dibangun beberapa tahun ini belum rampung. “Ya sebelum jembatannya jadi, ferry sangat membantu untuk bolak-balik tiap hari. Kalau tidak ada ferry, gak tahu sudah gimana bisa menyeberang,” ujar dia saat hendak pulang ke kampungnya di Kampung Sakaq Tada, Kecamatan Mook Manar Bulatn.
Penulis: Lilis Sari
Editor: Sonny Lee Hutagalung



Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here