Hits: 0

Pelabuhan Sendawar di Royoq Segera Difungsikan

Buruh angkut di Pelabuhan Melak sedang memuat semen ke dalam truk untuk dibawa menuju Barong Tongkok, Sabtu 8 Juli 2017. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

MELAK-KABARKUBAR.COM
Aktifitas di Pelabuhan Kapal Sungai Melak di RT 3 Kelurahan Melak Ulu, Kecamatan Melak, tidak lagi seramai dulu. Kini hanya beberapa kapal yang singgah untuk menaikkan penumpang atau barang di pelabuhan yang telah ada sejak ratusan tahun silam. Dibangunnya akses darat menuju Kota Bangun dan Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara, menambah sepinya arus penumpang dan barang.

Diakui Masrani (57), salah seorang buruh angkut di Pelabuhan Melak, omsetnya sebagai pemberi jasa mengangkut barang sudah jauh menurun. Meski belum lama jadi buruh angkut jika dibandingkan rekannya yang lain, ia sangat merasakan turunnya pendapatan. “Kami disini, paling banyak dapat Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu seharinya,” ujarnya.

Masrani, buruh angkut di Pelabuhan Melak. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

Cerita sama dikatakan Badi (55), yang telah bekerja sebagai buruh angkut di Pelabuhan Melak selama 20 tahun. Aktifitas di Pelabuhan Melak sangat ramai pada tahun 1990-an. Puncaknya sejak Kutai Barat terbentuk tahun 1999, hingga tahun 2010. “Setelah itu mulai menurun bongkar muat di pelabuhan, karena sudah banyak juragan pakai truk atau mobil pick up (bak terbuka),” katanya.

Sekarang, lanjut Badi, buruh angkut tidak lebih dari 20 orang. “Dulunya bisa sampai 100 orang kami. Dulu banyak kapal yang bongkar muat di sini, sekarang paling banyak 3 kapal saja,” ungkapnya.

Menurut Nujul (42), kerja buruh pun tidak menentu waktu. Ketika ada kapal bersandar, barulah para buruh bekerja. Pendapatan buruh angkut pun menurun dari tahun ke tahun. “Tahun 2017 paling parah,” singkatnya.

“Kami harap ada peningkatan pemasukan (pendapatan) lah. Karena banyak yang harus ditutupi di rumah nih,” sahut Rustam (35).

“Iya bu wartawan. Bini mulai ngeluh, soalnya ekonomi makin menurun. Coba ramai kayak dulu, tidak ada masalah ekonomi seperti ini,” timpal Sarip (34), yang diamini rekannya Jani (44).



Menyikapi itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kubar asal Partai Kebangkitan Bangsa, Syaparuddin, menyebut Pemerintah Kabupaten Kutai Barat telah memiliki solusi. Pelabuhan Sendawar di Royoq, Kampung Sekolaq Oday Kecamatan Sekolaq Darat, segera difungsikan. Akan ada banyak kegiatan bongkar muat barang, karena terdapat kawasan pergudangan. “Perusahaan-perusahaan akan memiliki gudang di sana, jadi bongkar muat akan beralih ke situ. Kita sudah memikirkan apa langkah dibuat untuk mengantisipasi kesulitan para buruh angkut,” terangnya saat bertamu ke Kantor Redaksi KabarKubar.com di kawasan Busur, Senin 17/7/2017.

Pelabuhan Melak yang pernah jaya, memang mulai sepi setelah Jalan Poros Kubar-Tenggarong menuju Samarinda mulai tembus di tahun 2001. Setelah ditingkatkan kualiatasnya di tahun 2005, para pemilik toko kelontong, bahan bangunan maupun pedagang pasar, lebih memilih mengangkut barang lewat jalur darat. Karena dinilai lebih cepat, dengan sekitar 7-10 jam perjalanan dibanding melalui kapal bisa menempuh 20 jam.
Penulis: Lilis Sari
Editor: Sonny Lee Hutagalung



Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here