Hits: 0

7 Tahun Anggaran, Habiskan Rp 55 Miliar

Tujuh tahun anggaran dengan total Rp 55.189.059.500, yang dibagi dalam 7 tahun anggaran, yakni tahun 2002, 2003, 2006, 2008, 2009, 2010 dan 2015, proyek Jembatan Tering cuma ada 4 pilar dengan akses yang ditumbuhi semak belukar.    ANDRY ANHAR/KABARKUBAR.COM

TERING – Ribuan warga Kutai Barat, menanti akhir manis Proyek Pembangunan Jembatan Tering yang tidak kunjung rampung. Asa ingin melintasi Sungai Mahakam berjalan kaki atau berkendara, hingga kini mesti menyeberang dengan perahu. Sejak tahun 2002, Jembatan Tering masih seumpama tugu dengan 4 pilar berdiri di lokasi sunyi. Ribuan warga di Kecamatan Tering dan Long Iram, berharap Jembatan Tering bisa dioperasikan.

Informasi diterima KabarKubar.com, proyek pembangunan Jembatan di RT 3 Kampung Jelemuq, Kecamatan Tering itu dimulai tahun 2002 lalu. Total dana yang dikucurkan mencapai Rp 55.189.059.500, yang dibagi dalam 7 tahun anggaran. Yakni tahun 2002, 2003, 2006, 2008, 2009, 2010 dan 2015. Selama 5 tahun anggaran pertama, proyek dilaksanakan dan diawasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kutai Barat. Melalui Bantuan Keuangan Provinsi Kalimantan Timur, tahun anggaran 2010 dan 2015 dikerjakan dan diawasi Dinas PU Kaltim.



Jangankan selesai, dana puluhan miliar tersebut baru berupa 4 pilar. Itupun hanya dua pilar yang telah dinilai selesai. Dari warga setempat, para politisi, aparat pemerintah serta lembaga adat, memperbincangkannya di media sosial. “Kita memang harus blow up ini terus kemana-mana, sehingga proyek jembatan ini jangan dijadikan lahan basah orang-orang tertentu saja. Kita sudah siapkan laporan ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),” ujar Herynimus Huvang, warga Kampung Tering Baru dalam komentar di Facebook.

“Pembangunannya hingga saat ini tidak jelas. Setiap tahun ada pekerjaan di sana tapi mengerjakan apa tidak jelas. Selama saya menjadi kades, hanya dua tahun pembangunannya yang jelas. Yaitu beberapa tiang pancang yang ada sekarang, setelah itu semua tidak jelas,” ungkap Anastasius, mantan Kepala Kampung Tering Lama kepada KabarKubar.com.

Anas menjelaskan, Jembatan Tering merupakan gagasan Bupati Kubar pertama, Rama Alexander Asia. Jembatan ini dirancang menghubungkan sejumlah daerah, khususnya Kecamatan Tering dan Long Iram. Adanya jembatan juga akan memudahkan akses menuju wilayah Hulu Mahakam yang sekarang menjadi Kabupaten Mahakam Ulu. Lewat jembatan ini, masyarakat juga bisa menuju Kecamatan Tabang, Muara Kaman, Kota Bangun di Kabupaten Kutai Kartanegara. “Jembatan ini membuka jalan induk ke Kota Bangun. bisa dua jam lebih cepat, yang artinya ada penghematan biaya. Tujuannya, memutus keterisolasian wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Mahakam. Ini juga aspek pembukaan geografis wilayah,” katanya.

Ditemui di lokasi proyek, Supri (42), warga RT 2 Kampung Jelemuq mengakui, pembangunan Jembatan Tering sangat dinantikan penyelesaiannya oleh warga setempat. Karena akan memudahkan mobilisasi masyarakat, yang pastinya berimbas peningkatan ekonomi. “Siapa yang tidak mau jembatan ini selesai? Kami sangat berharap jembatan ini selesai, karena penting buat kami,” katanya, Sabtu 24/6/2017 sore tadi.

Dia menyesalkan pekerjaan proyek yang terkesan tidak profesional. Sebab, peralatan yang digunakan seperti alat berat, tidak memenuhi syarat. “Bagaimana mau lancar proyeknya, yang datang alat berat sudah rusak. Baru satu sampai tiga hari, alat beratnya sudah rusah,” ungkap pria yang mengaku pernah masuk tim survey proyek. “Alasannya tidak cukup anggaran proyek, karena gunung batu yang harus dipecah,” imbuh Supri.

Warga RT 2 Kampung Jelemuq, Supri (42), menyesalkan proyek Jembatan Tering belum juga rampung.    ANDRY ANHAR/KABARKUBAR.COM

Pernah menjabat Sekretaris Kabupaten Kubar, Yahya Marthan mengakui, kondisi keuangan Pemkab Kubar saat itu relatif minim. Sehingga diupayakan pembebanan biaya melalui APBD Kaltim, APBN dan APBD Kubar sendiri. Memasuki periode kedua pemerintahan definitif di Kubar, ada perencanaan dan pembangunan jembatan lain yang dinilai lebih dibutuhkan. Jembatan yang kemudian diberi nama Jembatan Aji Tulur Jejangkat, akan menghubungkan Kecamatan Melak dan Mook Manar Bulatn.



“Terjadi pergantian kepemimpinan, maka dibuat perencanaan dan pembangunan jembatan Melak-Mook Manar Bulatn yang hingga saat ini juga belum selesai. Akibatnya penyelesaian jembatan Tering seolah tidak lagi menjadi prioritas. Penyelesaian jembatan Tering bernilai strategis, sehingga sepatutnya diteruskan hingga tuntas dan berfungsi,” ujar Marthan yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Kubar.

Duduk di Komisi III DPRD Provinsi Kaltim, Veridiana Huraq Wang, turut mempertanyakan pembangunan Jembatan Tering. Ia menyebut, di tahun 2015 juga telah dialokasikan lagi dana untuk pembangunan jembatan tersebut oleh Pemprov Kaltim. Lewat Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kaltim senilai Rp20,1 miliar. Veridiana berharap jembatan itu bisa segera dimanfaatkan warga sekitar untuk membuka akses jalan di Tering dan Kabupaten Mahulu. “Kenyataannya, ada empat pilar jembatan yang terlihat mandeg di lokasi proyek. Itu pun sudah sejak tiga tahun lalu,” tukasnya.

Menurut Veridiana yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kaltim, proyek Jembatan Tering dialokasikan dari dana APBD Kaltim sejak tahun 2009. Namun pada masa Gubernur Suwarna AF mulai dianggarkan tahun 2005 lalu, dengan alokasi dana Rp 150 miliar. “Tapi sampai sekarang, belum juga ‎tuntas. Banyak warga bertanya kapan jembatan itu selesai,” kata wanita yang juga berasal dari Kampung Tering Lama.

Penulis             : Andry Anhar
Editor              : Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here