Hits: 21

Wajib Ada Wastafel, Thermogun, dan Guru Sudah Divaksin

Kepala Bidang Pendidikan Non Formal pada Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, Syahran, saat memberi arahan kepada pimpinan 13 PAUD di Kecamatan Linggang Bigung. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

LINGGANG BIGUNG – KABARKUBAR.COM
Surat Keputusan Bersama empat kementerian menetapkan pembelajaran tatap muka dimulai di tahun ajaran dan tahun akademik 2021/2022. Namun, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi sebelum melaksanakannya. Termasuk di Kabupaten Kutai Barat, yang hingga kini masih berpatokan surat edaran presiden, gubernur dan bupati.

Kepala Bidang Pendidikan Non Formal pada Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, Syahran, mengakuinya. Sekolah tatap muka di Kubar sudah direncanakan sejak semester genap tahun lalu. Tidak hanya SKB 4 Menteri, Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan juga telah terbit.

“Sudah ada training (pelatihan) dan webinar. Kita sudah ikuti (regulasi) dan tahu semua. Tapi ternyata, setelah itu belum bisa dilakukan,” ujarnya saat bertemu dengan pimpinan 13 Taman Kanak-kanak di Kecamatan Linggang Bigung.

Syahran mengatakan, SKB itu adalah Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, serta Menteri Dalam Negeri. Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Pasca terbit SKB itu, muncul surat edaran yang menegaskan belum ada izin sekolah tatap muka. Terbaru, edaran Bupati Kubar yang menindaklanjut penegasan Presiden RI terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM.

Belajar tatap muka hanya bisa dilakukan sekolah di wilayah yang tidak menerapkan PPKM Darurat. Itu sesuai pernyatan Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri pada 1 Juli 2021 lalu. “Tahun ajaran baru dimulai Senin, 12 Juli 2021. Ada edaran mendikbud dan tiga kali webinar persiapan tatap muka. Tapi sebelum tanggal 12 Juli ada edaran PPKM,” jelasnya.

Sesuai Instruksi Mendagri Nomor 14 Tahun 2021, pembelajaran dari rumah diberlakukan bagi daerah zona merah dan zona oranye. Sedangkan, zona hijau dan zona kuning boleh menyelenggarakan pembelajaran tatap muka.

Guru dan siswa saat pembelajaran tatap muka di PAUD MMB Kampung Tering Seberang, jauh sebelum pandemi Covid-19 menjadi momok menakutkan. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

Meski Syahran menyebut Kubar belum memungkinkan, namun persiapan sekolah tatap muka terbatas telah dibicarakan. Apabila diberikan kesempatan, dan menunggu sampai ada edaran. Sebab Kubar masuk daerah perpanjangan PPKM Level 4 sampai 8 Agustus 2021.

Ia mengatakan, jika diizinkan tatap muka terbatas, akan dibuat tatap muka 50 persen. “Misalnya siswa 20 orang, maka dibuat kelompok 1 dan 2, siswa dibagi dua. Kelompok 1 tatap muka hari Senin dan Rabu, Kelompok 2 pada Selasa dan Kamis,” katanya.

PAUD memberlakukan 1 jam pembelajaran selama 35 menit dan sehari dalam empat jam. Sesuai aturan, ada perbedaan jam berdasarkan kelompok. Untuk sistem pembelajaran 50 persen adalah 4 x 35 menit dibagi 2, menjadi 70 menit. “Artinya sehari belajarnya 70 menit. PAUD tidak masuk Sabtu, Jumat itu hanya olahraga dan pemberian gizi,” ungkapnya.

“Anak datang, langsung ke wastafel untuk cuci tangan. Lalu hadap guru piket untuk diukur suhu tubuh dengan thermogun. Kemudian masuk, dan pembelajaran dimulai selama 70 menit tanpa istirahat. Begitu selesai, anak keluar dan langsung pulang. Tidak ada waktu istirahat dan bermain atau makan bersama di sekolah. Olahraga ditiadakan di sekolah. Baik sebelum dan setelah,” jelasnya.

Terakhir, Syahran menyatakan tidak semua sekolah boleh tatap muka meski telah diizinkan pembelajaran terbatas. Tergantung kesiapan sekolah dan kelengkapan fasilitas seperti wastafel, thermogun dan peralatan lainnya. Dari monitoring, masih ada sekolah belum memasang alat tersebut.

“Selain wastafel, thermogun, kamar kecil yang memadai dan guru sudah menerima vaksin. Kalau mau tatap muka, penuhi aturan tersebut. Boleh iya atau tidak, tergantung.

Jika tidak bisa sekolah tatap muka, Disdikbud Kubar meminta agar diperkuat sistem yang sudah dilakukan. Yakni pembelajaran dalam jaringan atau online maupun luar jaringan, disesuaikan kondisi sekolah dan wilayahnya.

“Meski ada jaringan internet, tapi tidak semua orangtua punya telepon android. Sebaliknya ada telepon bagus, tapi jaringan tidak ada. Sekolah besar yang memiliki fasilitas lengkap dan kondisi baik, kami sarankan pembelajaran zoom,” pungkas Syahran. #Sunardi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here