Hits: 0

Pekuburan Juga Sering Terendam Banjir

Peti jenazah dibawa dengan menggunakan perahu menuju pemakaman, karena sedang banjir di Kampung Sempatn, Kecamatan Damai. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

DAMAI – KABARKUBAR.COM
Situasi haru sudah biasa terlihat saat ada orang yang meninggal dunia. Tangis dan ratapan menjadi hal yang wajar disaksikan di rumah duka. Tapi suasana sedih makin terasa, saat mengantar jenazah harus menyulitkan para sahabat dan keluarga. Apalagi mesti menggunakan perahu untuk mengangkut peti berisi jenazah, dan menyusuri banjir.



Pemandangan miris seperti itu terjadi di Kampung Sempatn, Kecamatan Damai pada Jumat, 1 Mei 2020. Saat seorang ibu yang meninggal dunia diantarkan menuju tempat peristirahatan terakhir, pekuburan kampung di wilayah RT 2. “Beginilah kondisinya kalau lagi banjir, dan ada warga yang meninggal,” kata Kepala Kampung Sempatn, Rudianto, di sela pemakaman.

Petinggi Sempatn, Rudianto, menunjukkan banjir yang melanda kampungnya sejak dua bulan lalu. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

Peti berisi jenazah wanita yang memiliki seorang anak pelajar SMA dan seorang murid SD itu dinaikkan ke dalam perahu. Kemudian perahu ditarik oleh sejumlah orang yang berjalan di tengah banjir yang airnya setinggi pinggang. Bahkan di beberapa titik tampak lebih dalam. Sejauh sekitar 500 meter, para pengantar menyusuri jalan kecil di tengah banjir.

Warga yang mengantar jenazah berjalan di menyusuri banjir seraya menarik perahu yang mengangkut peti jenazah dan pengangkut pelayat lainnya. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

“Ini miris, jenazah harus dikebumikan melewati banjir. Kalau lagi tinggi airnya, lokasi pekuburan kadang terendam banjir,” ungkap Pendeta Bruno Madi, Gembala Gereja Pantekosta Serikat Indonesia Jemaat Sempatn.

Kantor Pemerintah Kampung Sempatn yang juga terendam air, menjadi salah satu kendala operasional kampung. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

Pria yang pernah menjabat Ketua Badan Perwakilan Kampung Sempatn ini mengatakan, jika sedang banjir, ibadah Minggu pun terpaksa diliburkan. Sebab ketinggian air dalam bangunan gereja bisa sampai 1 meter. Seperti Maret 2020 lalu.

Peti berisi jenazah siap dibawa para pelayat ke pemakaman yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah duka. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

“Biasanya setahun sekali banjir. Sekarang tidak menentu, kadang dua bulan sekali sudah banjir, imbuh Pendeta Bruno Madi yang berasal dari Kabupaten Sanggau di Provinsi Kalimantan Barat, dan sudah mengabdi dalam pelayanan gereja di Sempant sejak tahun 2004.

Suasana duka bertambah haru akibat kondisi kampung yang sedang banjir, membuat para pelayat harus menggunakan perahu untuk membawa jenazah ke pemakaman pada Jumat, 1 Mei 2020. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

Dijelaskan kembali oleh Rudianto, curah hujan yang cukup tinggi menjadi penyebab banjir. Apalagi kampung yang tadinya adalah sebuah dusun dari Kampung Jengan Danum dan menjadi kampung definitif sejak 5 November 2009, berada di dataran rendah. Yang dilintasi aliran Sungai Kedang Pahu di bagian hulu Kampung Damai Kota.

Salah satu sudut Kampung Sempatn yang terendam air akibat banjir yang sudah terjadi selama dua bulan ini. KORNELES DETANG/KABARKUBAR.COM

Kampung Sempatn menjadi langganan banjir sejak beberapa tahun belakangan. Tidak jarang rumah-rumah penduduk tergenang hingga ketinggian air mencapai setengah dinding rumah. Terbagi dua RT, kampung ini memiliki penduduk sebanyak 495 jiwa dalam 104 Kepala Keluarga.  “Banjir kali ini sudah lebih dari dua bulan. Bahkan Maret kemarin sampai menenggelamkan beberapa rumah,” pungkasnya.



Salah seorang keluarga yang berduka menyebutkan, wanita yang meninggal dunia lahir pada 13 Juni 1976, dan meninggal pada Senin, 27 April 2020. Memiliki riwayat penyakit Diabetes, sempat berobat ke Rumah Sakit Harapan Insan Sendawar. “Sempat kadar gulanya sampai 1.000 mg/dL (miligram/desiliter). Tapi tidak tertolong, dan meninggal di HIS,” jelasnya. #Korneles Detang

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here