Hits: 0

Gratis Seluruh Biaya Pendidikan dan Asrama

Pimpinan Pondok Pesantren SAS, Ustadz Pono Abdul Kholiq, menekankan keseimbangan pendidikan rohani dan akademik bagi siswa dan siswi SMP SAS Kejuruan Sendawar yang berlokasi di Kelurahan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Yayasan Cinta Sholat, Al-Qur’an dan Sedekah atau SAS Sendawar membuka Sekolah Menengah Pertama Kejuruan di Kelurahan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok. Uniknya, sekolah berlokasi di daerah pegunungan dengan udara yang segar itu, tidak memungut biaya apapun dari siswa-siswinya. Meski gratis, prestasi akademik tidak lantas lemah, di samping prestasi di bidang kerohanian.

Dibuka sejak tahun ajaran baru, Juli 2017 lalu, SMP SAS bertekad menciptakan anak didik cerdas dalam menulis, emosional, spiritual dan terampil. Dengan 12 tenaga pengajar, 14 staf, 25 Santri telah menjadi siswa perdana. Yang terdiri dari 10 perempuan dan 15 laki-laki. “Memang sengaja kita batasi hanya 25 anak dalam satu lokal. Agar proses pembelajaran lebih terarah dan interaksi murid dengan guru lebih efektif,” jelas Ustadz Pono Abdul Kholiq, Pimpinan Pondok Pesantren SAS Kabupaten Kutai Barat, Rabu 8/11/2017.

Pria yang disebut Ustadz SAS ini menjelaskan gratis yang dimaksud. Sama sekali tidak dipungut uang masuk, uang gedung dan tanpa SPP atau iuran apapun. Tidak itu saja, buku yang dipakai oleh para siswa dalam proses belajar juga disediakan pihak SAS Sendawar. “Makan dan minum selama sekolah atau mondok di sini juga kami gratiskan,” kata Ustadz Abdul Kholiq.

Kepala SMP SAS Kejuruan Sendawar, Nurli Adelan bersama Wali Kelas, Sapran, mendampingi Pimpinan KabarKubar.com saat memberikan motivasi bagi para pelajar, Rabu 8/11/2017. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Ditambahkannya, prestasi akademik atau kecerdasan siswa, termasuk emosional harus dibuktikan dengan praktek dalam keseharian. Salah satunya, peka terhadap lingkungan, kebersihan dan kedisiplinan. Siswa siswi SMP SAS Kejuruan Sendawar mesti selalu ingin menambah pengetahuan lewat membaca.

Cerdas secara spiritual, kata Ustadz SAS, harus dipegang. Karena tantangan zaman, siswa harus betul-betul mampu mengaplikasikan setiap gerakan-gerakan  ibadahnya dalam kehidupan sehari-hari. Paling penting adalah spiritual skill (keterampilan rohani) lembaga, yaitu siswa diajari bagaimana terampil dan produktif.

Sehingga keluar dari lembaga, siswa siswi siap bersaing dengan masyarakat. Baik seumuran, maupun yang lebih tua, karena sudah memiliki bekal keterampilan.  ”Sebagai lembaga percontohan, bahwa gratis bisa menciptakan generasi yang unggul. Bukan identik, bayar kualitas bagus, tapi gratis bisa menyalurkan generasi yang luar biasa,” tegas Ustadz SAS.

Diungkapkan Kepala SMP SAS, Nurli Adelan, tahun 2018 direncanakan menerima 50 siswa yang dibagi 2 lokal masing-masing 25 putra dan putri. Kuota itu sudah terpenuhi, karena telah dipesan sejak tahun ini. Sementara tahun ajaran ini, tadianya ada 60 orang yang mendaftar, tapi hanya 25 yang diterima.

“Januari 2018 akan diadakan seleksi penerimaan, jadi masih bisa berubah formasi atau bisa jadi ada penambahan pendaftaran karena mungkin ada yang gagal seleksi,” katanya seraya menunjukkan ruang belajar SMP SAS.

Ruang kelas yang asri dengan dekorasi menarik, membuat pelajar dan guru lebih nyaman berada di lokal. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Nurli menjelaskan, syarat masuk ke SMP SAS setidaknya harus bisa membaca Al Qur’an dan menulis ayat Al Qur’an, serta menghapal surah pendek atau Jus Ama. Dari itu, yang diprioritaskan adalah Fakir Miskin dan Yatim Piatu dengan kuota 40 persen, dan 60 persen dari umum.

“Tahun depan, guru dan murid akan disesuaikan gender. Perempuan dan laki-laki akan dipisah ruang belajarnya dengan guru sesuai gender. Kecuali guru yang sudah menikah, bisa saja mengajar di kelas yang lain gender,” jelas Nurli.

Pantauan KabarKubar, suasana ruang belajar SMP SAS seperti di rumah pribadi, dengan dekorasi menarik dan warna yang cantik. Lantai yang dilapisi karpet lembut warna hijau, dinding dilapisi wall paper bermotif menarik, serta meja dan kursi belajar tunggal. “Kami ingin murid dan guru merasa nyaman saat proses belajar mengajar. Jangan karena gratis, lalu kondisinya asal,” kata Ustadz Abdul Kholiq sambil tertawa ringan. #Lilis Sari

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here