Kreatif, Staf Kampung Long Penaneh 3 Ciptakan Mesin Perontok Padi

0
333

Dijual 1 Set Rp3,5 Juta

Herison Luting Tingang yang membuat mesin perontok padi sederhana dan siap dijual seharga Rp3,5 juta untuk satu set. REVANDI/KABARKUBAR.COM

LONG APARI – KABARKUBAR.COM

Setiap tahun masyarakat di 10 kampung dalam wilayah Kecamatan Long Apari menanam padi ladang. Mulai Februari padi siap dipanen dan menjadi penopang kehidupan mereka di hulu Sungai Mahakam tersebut. Memisahkan padi dari jerami menjadi salah satu bagian melelahkan untuk para petani.

“Kebanyakan kami masih pakai cara lama, pakai Kolaat,” ungkap Juhe Mala Irang atau Inon Rika yang sudah memanen padinya di Kampung Tiong Ohang.

Kolaat dimaksudnya adalah lantai dari anyaman rotan yang dianyam jarang. Kemudian padi dihempaskan ke lantai itu untuk merontokkan padi dari jerami.

Herison Luting Tingang pun mencoba berinovasi. Pria paruh baya yang juga Staf Pemerintah Kampung Long Penaneh 3 itu merancang mesin perontok padi minimalis. Ia pun tidak lagi kesulitan untuk memisahkan padi dari jerami.

“Saya bikin sendiri pakai alat yang ada. Sudah dua unit saya bikin. Yang pertama kecil dengan mata 34, saya pakai sendiri. Ini mata 45, untuk dipakai kampung,” ujarnya pada Jumat, 25 Maret 2022.

Herison akrab disapa Heri, melihat mesin perontok padi, yang dalam bahasa Dayak Aoheng dan Seputan disebut Come Pari itu sebagai sebuah peluang usaha. Sehingga berniat menjual alat buatannya kepada warga lain.

“Ukuran mata 45 ini saya mau jual harga promo Rp3,5 juta. Lengkap dengan dudukannya dan satu fanbelt (tali karet penggerak roda),” katanya.

Heri yang dulu sempat membuka bengkel, mengakui karyanya dipelajari dari melihat Youtube. Unit yang dibuatnya merupakan mesin mekanis yang mengeluarkan langsung jerami.

Setiap tahun masyarakat di Kecamatan Long Apari menanam padi di ladang dan mulai panen mulai akhir Februari dan Maret. REVANDI/KABARKUBAR.COM

Tenaga penggerak bisa menggunakan mesin pemotong rumput atau mesin ces. Tingkat produksi ditentukan kecepatan memasukkan berkas padi ke mesin. Dalam mesin penggerak berkapasitas 2 liter bahan bakar minyak, bisa menghasilkan 30 kaleng padi.

“Jadi tergantung pekerja, cepat masukkan padi, cepat juga banyak hasilnya,” jelasnya.

Menurutnya, ia mampu membuat satu unit mesin perontok padi dalam empat hari. “Unit lengkap dengan bodi dan fanbelt. Tinggal pasang ke mesin sendiri,” pungkas Heri.

Penjabat Petinggi Kampung Long Penaneh 3, Yohanes Singaq, mengaku telah memesan satu unit mesin buatan Heri. Akan digunakan untuk merontokkan padi di ladang umum milik kampung.

Diakuinya, mesin buatan Heri sangat meringankan para petani nantinya. Sebab jika membeli dari ibukota Provinsi Kalimantan Timur di Kota Samarinda, harganya sangat mahal.

“Memang kalau harga belinya sama, tapi ongkosnya saja dari Samarinda kesini bisa sampai Rp1 juta lebih. Bagus beli sama pak Heri,” katanya.

Menilik di pasaran, Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) yang populer dipakai di tingkat petani untuk merontokkan padi adalah Gebot (manual) dan Thresher (mekanis).

Harga jualnya di pasar online tergantung merek, model dan ukuran. Termurah di angka Rp700 ribu, namun ukuran kecil yang tentu rendah produksi. Rata-rata ditawarkan seharga Rp1,5 juta hingga Rp5 juta. Ada juga yang dijual seharga Rp15 juta. #Revandi

 

Komentar

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here