Hits: 37

FX Yapan: ““Lou jadi penanda generasi Kubar tidak tergerus budaya asing”

Lamin Bentian tampak megah dengan tiang-tiang dari kayu ulin yang kokoh. EKILOVIS/KABARKUBAR.COM

BENTIAN BESAR – KABARKUBAR.COM
Dibangun dengan dana sekitar Rp7 miliar, Lamin Adat atau Lou suku Dayak Bentian di Kampung Dilang Puti Kecamatan Bentian Besar berdiri megah. Bangunan berukuran 50 x 25 meter dengan 371 tiang kayu ulin itu diresmikan pada Jumat, 25 Juni 2021 pagi. Mulai dibangun pada tahun 2013, Lou Bentian diharap jadi pusat budaya.

Bupati Kutai Barat, FX Yapan, meminta Lou Bentian menjadi tempat generasi muda belajar adat istiadat warisan leluhurnya. Sebab, era globalisasi telah menggerus budaya lokal di Indonesia, hingga ke penjuru Kubar. Lou Bentian menjadi faktor pendukung dan penunjang terjaganya identitas suku Dayak, khusunya Bentian.

Yapan menerangkan, era globalisasi sangat signifikan pada pola hidup. Masyarakat cenderung mengikuti budaya baru, lalu melupakan budaya lokal. Itu akibat kurangnya minat generasi penerus belajar budaya warisan leluhurnya.

“Perlu kesadaran, budaya lokal sebagai jati diri bangsa untuk dipertahankan. Generasi muda harus mewarisi budaya lokal sebagai eksistensi walau diterpa arus globalisasi,” katanya saat Peresmian Lamin Bentian pagi ini.

Salah satu cara melestarikan budaya lokal dari beragam kebudayaan, imbuh bupati, adalah Lou yang menjadi kebanggaan suku Dayak. Jika dulunya sebagai tempat berkelompok atas dasar kebersamaan, sekarang pusat kegiatan adat budaya.

Lou jadi penanda generasi Kubar, dan seluruh warga Dayak Bentian, tidak tergerus budaya asing. Kita harus bangga pada budaya warisan nenek moyang. Secara pribadi dan Pemkab Kubar, saya ucapkan selamat atas peresmian Lou. Ini jadi identitas,” ujar Yapan.

Yapan berpesan agar Lou Bentian dikelola dengan baik. Sehingga seluruh masyarakat dapat memanfaatkan dan memelihara dengan baik, sebagai tempat bermusyawarah. Serta dapat memberdayakan generasi muda untuk melestarikan adat istiadat setempat. Juga menjadi tempat pembangunan masyarakat Bentian, baik dalam budaya dan aspek perekonomian.

“Saya sendiri tinggal di lamin. Nanti jika Ibu Kota Negara sudah berdiri, Kubar jadi penyangga seperti Bogor. Yang mau lihat gunung, danau, dan mau lihat Dayak menari atau menyanyi, mereka akan ke Kubar.

Masyarakat menyambut antusias berdirinya Lamin Bentian yang akan menjadi pusat budaya adat Dayak Bentian. EKILOVIS/KABARKUBAR.COM

Kepala Teknik Tambang TCM, Wahyu Harjanto mengakui proses pembangunan Lou Bentian memakan waktu lama dari 2012. Ia juga berharap bisa dijadikan ikon atau pusat destinasi wisata. “Kita punya potensi wisata alam, karena posisi strategis. Ke depan jika IKN berdiri, strategis dalam posisi dan jarak. Kita perlu gali potensi wisata di Kubar, jadi pusat destinasi wisata,” katanya.

Lou Bentian diharapkan bisa menggerakkan akses ekonomi di Kubar dengan kemandirian wisata. Ia mengakui perusahaan ada batas waktu operasinya, dan saat ini masih bisa bekerjasama.

Sebagaimana kokohnya Lou Bentian yang ditopang 371 tiang ulin. Ia berharap hubungan masyarakat adat Bentian dengan TCM tetap kokoh. “Saat tidak ada lagi, kami harap lou ini bisa jadi pusat kegiatan budaya dan ekonomi di Bentian. Aktivitas positif bisa dikembangkan di Lou. Serta menjadi pengembangan ekonomi di seputar perusaahan, dan hal baik lainnya,” katanya.

Dikatakan Ketua Kerukunan Keluarga Dayak Bentian Kabupaten Kutai Barat, Lorensius, Lou Bentian dibangun atas dasar kesepakatan dua pihak. Yakni manajemen PT Trubaindo Coal Mining atau TCM dengan tokoh masyarakat Bentian. Kemudian memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama pada Minggu, 3 Februari 2013.

“Peletakan batu pertama oleh Presiden Direktur PT ITM (Indo Tambangraya Megah) Khun Pongsak Thongampai,” ujarnya saat sambutan di acara yang dihadiri juga para kepala adat se-Kecamatan Bentian Besar.

Lorensius juga selaku Ketua Panitia Pembangunan Lou Bentian, menyebut jika pengerjaan fisik bangunan telah selesai setahun lalu. Pada Senin, 1 Juni 2020, dilakukan serah terima fisik bangunan dari PT Tonar Berkat Abadi sebagai pelaksana pembangunan kepada TCM.

Manajemen PT Trubaindo Coal Mining menyerahkan bangunan Lou Bentian kepada masyarakat Dayak Bentian. EKILOVIS/KABARKUBAR.COM

Ia mengatakan, Lou Bentian merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari ITM Group. Khususnya kepada masyarakat yang beradi di dalam dan sekitar operasional perusahaan pertambangan itu.

Selain jadi tempat berkumpulnya masyarakat, juga untuk bermusyawarah mufakat dalam mengambil keputusan bersama yang dalam bahasa Bentian disebut Berinuq. Lou Bentian juga harus dimanfaat semaksimalnya untuk meningkatkan perekonomian. “Posisi lamin ini juga sangat strategis, karena berada di perlintasan jalan Trans Kalimantan,” katanya.

Pria yang belum lama purna tugas sebagai Anggota Polri ini, berharap perhatian TCM pada warga Bentian tidak berhenti. Usai serah terima Lou Bentian, TCM diharap terus memberi dukungan pada msyarakat Bentian.

Kepada Pemkab Kubar, ia berharap dinas pariwisata ada kerja sama dalam even-even tertentu yang menarik. Dalam rangka mengembangkan pariwisata untuk jangka panjang dan berkelanjutan.

“Mimpi besar kita, Lou Bentian ini jadi salah satu destinasi wisata di Kubar. Juga sebagai salah satu pintu masuk bagi destinasi wisata lainnya,” ungkap Lorensius yang pernah menjabat Kepala Kepolisian Sektor Bentian Besar.

Ia menginformasikan, ada beberapa tempat potensial yang bisa dijadikan objek wisata, khususnya wisata alam di Bentian. Salah satunya, Air Terjun Nangeq di perbatasan Kampung Tukuq dan Kampung Sambung. Ada hutan lindung di Kampung Penarung, yang bisa melihat langsung keberadaan pohon ulin.

“Ini jadi daya tarik tersendiri bagi pecinta alam dan lingkungan. Apalagi saat ini kayu ulin sudah mulai langka di daerah Bentian,” jelas Lorensius yang pernah juga menjabat Kapolsek Muara Lawa.

Peresmian ini dihadiri sejumlah Staf TCM dan PT Bharinto Ekatama, dan para tokoh masyarakat se-Kecamatan Bentian Besar. Meski tampak ramai, masyarakat mengikuti acara dengan menerapkan protokol kesehatan. Didampingi beberapa tenaga kesehatan dari Puskesmas Dilang Puti, dan dikawal Kapolsek Bentian Besar Iptu Andreas Runtupadang serta anggota TNI dari Koramil 0912-12 Bentian Besar.

Kondisi Lamin Bentian pada Juni 2016, yang masih berupa kerangka. ARSIP/KABARKUBAR.COM

Sebelumnya KabarKubar memberitakan, seremonial kelanjutan pembangunan dilakukan pada Sabtu, 5 Mei 2018. Meski sempat tersendat, Lamin Bentian ditargetkan rampung pada tahun 2018. Dibantu enam juru ukir untuk mengukir 371 tiang dan beberapa pintu bangunan adat yang didanai senilai Rp6,5 miliar dari program CSR PT TCM.

Bagian bawah ada 369 tiang penyangga lamin. Yang terdiri dari 14 tiang di tiap baris dari kiri ke kanan, dan sembilan tiang di jajaran bagian depan ke belakang. Kemudian ada dua tiang tepat di depan lamin, yang nantinya menyangga bangunan teras. Sedangkan di lantai utama, ada puluhan tiang yang merupakan rangkaian tiang dari bagian bawah.

“Ada sekitar 2 meter dari tiap tiang yang ditanam ke dalam tanah. Jadi pondasi cukup kokoh, dan akan lebih kuat lagi nantinya, karena dicor dengan pondasi cakar ayam. Jadi berapapun warga adat yang masuk ke dalam lamin, tidak kuatir akan roboh. Apalagi tiang dan lantai bangunan adalah jenis ulin,” jelas Lorensius.

Manajemen PT TCM berjanji menuntaskan pembangunan Lamin Adat Bentian Besar yang terbengkalai sejak dimulai pembangunan pada Kamis, 30 Januari 2013. Pernyataan itu diaminkan Khun Com Congnun selaku Head Cluster Melak Group TCM-BEK, Hirung sebagai Manajer External TCM-BEK, Herlando Sianipar yang menjabat Departement Head Comdev (Community Development) TCM, dan Khun Angkoon sebagai Coal Logistic Head TCM-BEK.

Jika sebelumnya pembangunan lamin dilakukan sepenuhnya oleh TCM, kali ini ditangani kontraktor pelaksana yang merupakan putra setempat. Yakni Mures Wilson Jahen yang adalah Direktur Utama PT Tonar Berkat Abadi, putra Dayak Bentian kelahiran Dilang Puti.

Sebagaimana rencana awal, Lou Bentian memiliki sembilan kamar yang mewakili sembilan kampung Dayak Bentian. Yaitu Penarung, Dilang Puti, Suakong, Jelmu Sibak, Sambung, Randa Empas, Tende, Anan Jaya dan Tukuq. Dilengkapi juga tiga kamar untuk kepala adat kecamatan dan ruang balai pertemuan. #Ekilovis/Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here