Hits: 45

Lorensius: “Terima kasih juga kepada Bapak Manase dan Bapak Robert Sulpani yang telah menghibahkan lokasi”

PT Trubaindo Coal Mining menyerahkan bangunan Lou Bentian kepada masyarakat adat Bentian dalam Peresmian Lamin Bentian pada Jumat, 25 Juni 2021. ELOVIS/KABARKUBAR.COM

BENTIAN BESAR – KABARKUBAR.COM

Lamin Bentian di Kampung Dilang Puti, Kecamatan Bentian Besar, diresmikan Bupati Kutai Barat FX Yapan. Setelah diserahterimakan oleh PT Trubaindo Coal Mining atau TCM kepada masyarakat adat suku Dayak Bentian. Memakan waktu lama sejak tahun 2013 dan dana sekitar Rp7 miliar, ada banyak pihak yang diberi apresiasi atas kontribusi pada pembangunannya.

Ketua Panitia Pembangunan Lamin atau Lou Bentian, Lorensius Balak, mengakui ada banyak pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Kepada mereka, panitia dengan mengatasnamakan masyarakat Bentian, menyampaikan terima kasih.

Terutama kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Barat yang telah memberikan dukungan dalam banyak hal. “Ada tiga inisiator (orang yang punya inisiatif, yang memprakarsai) pembangunan lamin ini. Yaitu bapak Rusli Romusa, Bapak Drs Abed Nego, Bapak Yahya Yeq,” ungkapnya saat Peresmian Lamin Bentian pada Jumat, 25 Juni 2021.

Kepada KabarKubar, Lorensius mengatakan, Rusli Romusa adalah Kepala Adat Besar Kecamatan Bentian Besar saat itu. Juga senior dari Lorensius sebagai Anggota Polri. Sebelum purna tugas, Rusli pernah menjabat Kapolsek Bentian Besar.

Abed Nego dimaksud adalah Ketua Kerukunan Dayak Bentian Kabupaten Kutai Barat sebelumnya. Yang kemudian jabatan tersebut diemban Lorensius hingga saat ini. Sedangkan Yahya Yeq adalah Kepala Adat Kampung Penarung.

“Terima kasih juga kepada Bapak Manase dan Bapak Robert Sulpani yang telah menghibahkan lokasi untuk pembangunan lamin ini. Tidak bisa dilupakan, karena mereka yang mengawali dengan ide, pemikiran dan saran hingga lamin ini bisa berdiri,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan kepada Lirin Colen Dingit. Pengacara muda yang juga tokoh masyarakat Bentian ini, dinilai telah banyak sumbang saran diberikan. Khususnya saat penjadwalan ulang pembangunan Lou Bentian. “Beliau banyak memberikan advice (saran),” kata Lorensius.

Lamin Bentian berdiri megah berukuran 50×25 meter dengan ditopang 371 tiang kayu ulin. EKILOVIS/KABARKUBAR.COM

Di hadapan Bupati Kubar, dan para tokoh yang hadir di Peresmian Lamin Bentian, Lorensius juga menyebut keterlibatan sejumlah perusahaan yang mendukung. Pertama kepada PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITM Group sebagai pengawas dan pihak yang menyetujui anggaran pembangunan.

Kemudian TCM sebagai perencana dan pelaksana kegiatan serta alokasi pembiayaan. Sejumlah nama disebut selalu memberikan dukungan saat proses pembangunan dan kegiatan kepanitiaan. “Terima kasih kepada bapak Giwang dan kawan-kawan di Jakarta, tim pak Hirung, pak Jones dan mbak Kristinawati. Terima kasih juga kepada pak Sony dan pak Dedy Ramis dalam kegiatan panitia,” ujarnya.

Terima kasih juga disampaikan kepada PT Timber Dana dan PT Wana Mitra. Perusahaan kayu tersebut diakui telah mendukung pada awal dimulainya pembangunan Lou Bentian. Demikian juga PT Waskita Karya dan CV Global yang telah membantu panitia dalam mempersiapkan acara peresmian.

PT Alam Kalimantan Mandiri dan PT Tonar Berkat Abadi sebagai pelaksana proyek pembangunan, juga diberi apresiasi. Ucapan yang sama disampaikan bagi para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, termasuk para pekerja bangunan dan juru ukir. Serta semua pihak yang telah mendukung pembangunan Lou Bentian.

“Terima kasih juga kami sampaikan kepada semua orang yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Juga kepada seluruh rekan-rekan panitia yang telah bekerja dengan sangat luar biasa, hingga terselenggara acara kita hari ini dengan baik dan sukses,” pungkas Lorensius.

Lamin Bentian berdiri megah berukuran 50 x 25 meter dengan 371 tiang kayu ulin Mulai dibangun pada tahun 2013, Lou Bentian diharap jadi pusat budaya. Dibangun atas dasar kesepakatan dua pihak, yakni manajemen PT Trubaindo Coal Mining atau TCM dengan tokoh masyarakat Bentian. Kemudian memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama pada Minggu, 3 Februari 2013.

“Peletakan batu pertama oleh Presiden Direktur PT ITM (Indo Tambangraya Megah) Khun Pongsak Thongampai,” ujar Lorensius saat sambutan di acara yang dihadiri juga para kepala adat se-Kecamatan Bentian Besar.

Lorensius menyebut jika pengerjaan fisik bangunan telah selesai setahun lalu. Pada Senin, 1 Juni 2020, dilakukan serah terima fisik bangunan dari PT Tonar Berkat Abadi sebagai pelaksana pembangunan kepada TCM. Lou Bentian merupakan wujud tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari ITM Group. Khususnya kepada masyarakat yang beradi di dalam dan sekitar operasional perusahaan pertambangan itu.

Selain jadi tempat berkumpulnya masyarakat, juga untuk bermusyawarah mufakat dalam mengambil keputusan bersama yang dalam bahasa Bentian disebut Berinuq. Lou Bentian juga harus dimanfaat semaksimalnya untuk meningkatkan perekonomian. “Posisi lamin ini juga sangat strategis, karena berada di perlintasan jalan Trans Kalimantan,” katanya.

Peresmian ini dihadiri sejumlah Staf TCM dan PT Bharinto Ekatama, dan para tokoh masyarakat se-Kecamatan Bentian Besar. Meski tampak ramai, masyarakat mengikuti acara dengan menerapkan protokol kesehatan. Didampingi beberapa tenaga kesehatan dari Puskesmas Dilang Puti, dan dikawal Kapolsek Bentian Besar Iptu Andreas Runtupadang serta anggota TNI dari Koramil 0912-12 Bentian Besar.

Seremonial kelanjutan pembangunan Lou Bentian dilakukan pada Sabtu, 5 Mei 2018. Meski sempat tersendat, Lamin Bentian ditargetkan rampung pada tahun 2018. Dibantu enam juru ukir untuk mengukir 371 tiang dan beberapa pintu bangunan adat yang didanai senilai Rp6,5 miliar dari program CSR PT TCM.

Bagian bawah ada 369 tiang penyangga lamin. Yang terdiri dari 14 tiang di tiap baris dari kiri ke kanan, dan sembilan tiang di jajaran bagian depan ke belakang. Kemudian ada dua tiang tepat di depan lamin, yang nantinya menyangga bangunan teras. Sedangkan di lantai utama, ada puluhan tiang yang merupakan rangkaian tiang dari bagian bawah.

“Ada sekitar 2 meter dari tiap tiang yang ditanam ke dalam tanah. Jadi pondasi cukup kokoh, dan akan lebih kuat lagi nantinya, karena dicor dengan pondasi cakar ayam. Jadi berapapun warga adat yang masuk ke dalam lamin, tidak kuatir akan roboh. Apalagi tiang dan lantai bangunan adalah jenis ulin,” jelas Lorensius.

Manajemen PT TCM berjanji menuntaskan pembangunan Lamin Adat Bentian Besar yang terbengkalai sejak dimulai pembangunan pada Kamis, 30 Januari 2013. Pernyataan itu diaminkan Khun Com Congnun selaku Head Cluster Melak Group TCM-BEK, Hirung sebagai Manajer External TCM-BEK, Herlando Sianipar yang menjabat Departement Head Comdev (Community Development) TCM, dan Khun Angkoon sebagai Coal Logistic Head TCM-BEK.

Jika sebelumnya pembangunan lamin dilakukan sepenuhnya oleh TCM, kali ini ditangani kontraktor pelaksana yang merupakan putra setempat. Yakni Mures Wilson Jahen yang adalah Direktur Utama PT Tonar Berkat Abadi, putra Dayak Bentian kelahiran Dilang Puti.

Sebagaimana rencana awal, Lou Bentian memiliki sembilan kamar yang mewakili sembilan kampung Dayak Bentian. Yaitu Penarung, Dilang Puti, Suakong, Jelmu Sibak, Sambung, Randa Empas, Tende, Anan Jaya dan Tukuq. Dilengkapi juga tiga kamar untuk kepala adat kecamatan dan ruang balai pertemuan. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here