Berusia 20 tahun, Dirawat Nenek Usia 80 Tahun

Babi yang dipelihara Nenek Labi berusia 18 tahun ini berkuku panjang di empat kakinya, berbentuk taring melingkar dengan rata-rata sekitar 20 centimeter. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

JEMPANG – KABARKUBAR.COM
Bicara soal babi bukan hal yang aneh. Tapi tidak demikian dengan seekor babi yang dipelihara Nenek Labi, yang tinggal di Sekelambuan Dusun Tajung Serang, Desa Perigiq Kecamatan Jempang. Babi yang telah dipelihara selama 18 tahun ini berkuku panjang di empat kakinya, berbentuk taring melingkar dengan rata-rata sekitar 20 centimeter.

Akibat keanehan babi yang telah berbobot hampir 200 kilogram dengan panjang tubuh 2 meter ini, banyak orang yang ingin mencari kekayaan dengan cara jalan pintas. Lalu datang meminta pertolongan pada sang babi. Bukan hanya itu, sejak kuku kaki babi bertambah panjang, banyak tamu yang datang untuk meminta pertolongan agar sukses usahanya. Bahkan kalau ada orang yang berbuat jahat, babi dapat membalikkan niat jahat itu kepada orang yang mengirimkan kekuatan jahat tersebut.

“Saya tidak tahu dari mana saja mereka yang datang minta pertolongan babi. Tapi kebanyakan mereka bilang dari luar Kubar,” ujar Nenek Labi yang sudah tua renta dan bungkuk dengan usia sekitar 80 tahun, di samping babi yang tidak mampu lagi berdiri karena kuku yang terlalu panjang.

Diungkapkan Nenek Labi, banyak orang yang datang ke rumahnya untuk meminta pertolongan babi. Mulai dari pejabat yang ingin jabatannya semakin sukses, pedagang yang ingin usahanya makin lancar, serta orang yang ingin memiliki kesaktian kekebalan. Kebanyakan mereka berasal dari Kalimantan Timur. Mereka yang datang dan memiliki niat diwajibkan membawa berupa barang yang diperlukan babi tersebut seperti mie instan dan susu kaleng.



“Kadang ada juga yang bawa roti, minuman kaleng dan makanan ringan lain. Bahkan ada juga yang bawa pasta gigi. Kemudian mereka memotong sedikit kuku atau mengambil beberapa helai rambut babi untuk dibawa pulang. Kalau tidak demikian, kuku babi sudah lebih dari 50 centimeter tiap helainya,” ujarnya.

Dikisahkan Nenek Labi, 18 tahun lalu ia menemukan babi itu keluar dari dalam hutan dan mendekati rumahnya. Babi itu mendekati Nenek Labi bersama seekor anaknya berkelamin jantan. Setelah sekian hari dipelihara, Nenek Labi berniat mengebiri anak babi dengan tujuan agar babi jantan itu tumbuh cepat besar.

Namun di malam harinya ia bermimpi didatangi induk babi dan bertanya mengapa membuang buah zakar yang akan mengakibatkan kematian anak babi. “Tidak lama anak babi itu mati. Sebagaimana perjanjian dalam mimpi, saya diminta tidak memelihara babi lain. Sejak itu saya memeliharanya seperti anak saya sendiri,” tuturnya di dekat babi yang hanya bisa berbaring di kandang berukuran 1,5 x 2 meter dengan tinggi sekitar 40 centimeter, dalam sebuah ruangan dalam rumah.

Dipandang secara kasat mata adalah seekor babi hutan, namun Nenek Labi menyatakan babi itu sebenarnya adalah jelmaan mahluk dan memiliki nama. Hanya saja, kalau ingin mengetahui namanya harus melakukan sebuah ritual. “Kalau mau tahu namanya kita lakukan ritual dulu, paling tidak setengah jam,” katanya di samping babi dan setumpukan kantong plastik berisi “hadiah-hadiah” pemberian orang yang datang meminta pertolongan babi.

Diakui Nenek Labi, setiap hari kandang babi selalu dibersihkan dan memandikan babi dua kali sehari setelah diberi makan. Sudah kebiasaan babi yang telah dianggap anak oleh Nenek Labi hanya mau makan mie instan dan susu saja.

Nenek Labi disamping babi hutan yang tidak mampu berdiri karena kuku yang terlalu panjang hingga melingkar, dijadikan pesugihan banyak orang dari berbagai tempat. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Untuk menuju Sekelambuan yang hanya ada dua rumah milik Nenek Labi dan salah seorang anaknya, bisa ditempuh dari Kampung Tanjung Isuy, ibukota Kecamatan Jempang. Kemudian menggunakan ketinting (perahu kayu bermesin cess 10 PK) menyusuri Danau Jempang, dan melewati Kampung Tanjung Jone dan Kampung Muara Ohong. Sepanjang perjalanan banyak ditemui pemandangan menarik, burung-burung Bangau Cokelat, Kuntul dan Elang.

Selama sekitar 1,5 jam, tibalah di Sungai Ohong yang ditumbuhi rapat tanaman air seperti Eceng Gondok dan Kumpai. Dengan sedikit kesulitan menembus tumbuhan air, ketinting tiba di Dusun Tanjung Serang yang dihuni sekitar 20 kepala keluarga. Lima menit kemudian, tibalah di rumah Nenek Labi yang berada tepat di pinggir sungai.

Ketika media ini tiba bersama Kepala Kampung Muara Ohong, Aliansyah, diantar ketinting Ketua BPK Muara Ohong Baharuddin, babi berusaha berdiri seakan hendak menyalami. Namun setelah 20 menit berusaha, babi terdiam tidak mampu berdiri. Bahkan untuk berputar badan tidak sanggup karena kotak kandang yang terlalu kecil dengan ukuran badannya.



“Kalau kedatangan tamu, biasanya babi saya ini membuat dua gerakan. Kalau tamu datang dengan niat tidak baik babi ini akan mengeluarkan suara teriakan yang cukup keras. Sedangkan tamu yang datang niatnya baik maka babi itu berusaha berdiri seakan-akan hendak menyambut tamu yang datang itu, jadi anak ini datang dengan maksud baik,” kata Nenek Labi yang seluruh rambutnya telah memutih.

Nenek Labi menyambut baik setiap tamu yang datang dengan mempersilahkan naik ke rumahnya dan langsung mengajak melihat sang babi. Jika tidak mengerti bahasa setempat, Dayak Benuaq, nenek yang tubuhnya telah berbentuk L jika berdiri itu bisa meladeni tamu dengan bahasa Indonesia logat Kutai. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here