Hits: 1

Bupati Ikut Barisan Tebeeq Rau

Bupati Kutai Barat, Rama Alexander Asia, ikut dalam barisan Tebeeq Rau pada acara Laliiq Ugal di Kampung Tering Lama. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

TERING – KABARKUBAR.COM
Sudah menjadi kebiasaan suku-suku di pedalaman Pulau Kalimantan untuk mulai berladang di awal musim penghujan. Dengan harapan benih yang ditanam akan bertumbuh baik karena hujan yang membasahi ladang-ladang mereka. Suku Dayak Bahau Saq di Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat, telah mengikutinya secara turun temurun sampai kini.

Di saat pola bertanam padi di tanah kering (tadah hujan) sudah mulai ditinggalkan sebagian orang. Oleh tersedianya lapangan pekerjaan yang menuntut banyak waktu dan pendapatan yang mencukupi kebutuhan hidup. Hingga kegiatan berladang atau menanam padi tidak lagi dijadikan prioritas dalam keseharian.



Acara adat selalu menyertai dimulainya musim tanam padi di seluruh komunitas adat Dayak di Kubar setiap tahunnya. Secara bergotongroyong masyarakat akan membuat suatu kegiatan yang sudah menjadi tradisi di kampung masing-masing, ataupun sub-sub suku mereka.

Laliiq Ugaal, adalah rangkaian upacara adat Suku Dayak Bahau Saq dalam mengawali kegiatan tanam padi atau menugal. Di mana masyarakat memberikan persembahan kepada Dewa Padi. Memohon agar tanaman padi terhindar dari segala macam hama atau gangguan alam. Harapannya, hasil panen dapat melimpah ruah untuk kesejahteraan rakyat.

Upacara yang besifat ritual dan sakral ini, umumnya memakan waktu pelaksanaan lebih kurang 27 hari. Diisi dengan berbagai kegiatan seperti pameran kerajinan tangan, olahraga tradisional dan atraksi kesenian.

Tebeeq Rau, yang dilaksanakan pada hari ke 21 dan 22 dari seluruh rangkaian acara dijadikan puncak upacara adat Laliiq Ugaal. Di mana masyarakat membentuk satu barisan memanjang yang diikuti anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua yang sudah ujur. Berpakaian adat yang dilengkapi pernik-pernik indah dan alat musik tradisional seperti gong. Mereka berjalan menyusuri jalan dari ujung kampung sampai ke ujung berikutnya.

Bunyi musik yang menawan hati dengan ritme dan nada yang beraturan diperdengarkan. Sampai hampir tiga jam mereka berjalan melintas jalan kampung sebanyak dua kali pulang pergi. Selama dua hari ini penduduk kampung akan saling menjamu dengan menyajikan makanan di rumah masing-masing secara bergantian. Untuk siapa saja yang berkenan singgah menikmati hidangan yang mereka siapkan. Hari ke 21, rumah dari tengah kampung ke hulu kampung. Esoknya atau hari ke 22, dari tengah sampai hilir kampung.

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, telah memasukkan acara ini ke dalam kalender pariwisata sejak tahun 2002 lalu. Sebagai salah satu program yang dapat menjadi andalan Kubar dalam tujuan wisata di masa yang akan datang.

Untuk itu PemKab Kubar pun telah menyusun anggaran khusus untuk penyelenggaraan acara adat ini. Di samping sumbangan para donatur yang didapat dari perusahaan-perusahaan di sekitar. Juga dari perorangan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kemajuan dan kelestarian adat budaya sebagai salah satu aset daerah berpotensi.

Diakui Ketua Panitia Laliiq Ugal, Firminus Pay W, Bupati Kubar Rama Alexander Asia menyumbang Rp 25 juta pada kegiatan tahun ini. Ada juga Rp 5 juta dari Veridiana Wang, Anggota DPRD Provinsi Kaltim yang juga putri A Tigang Yok, Kepala Adat Besar Tering.



“Perusahaan kayu disekitar sini juga turut berpartisipasi walaupun tidak sebanyak tahun-tahun lalu, karena usaha mereka agak tersendat akhir-akhir ini. Ada juga dari pribadi-pribadi yang mendukung juga acara ini dengan apa yang ada pada mereka sebagai kepedulian terhadap budaya mereka sendiri,” jelasnya kepada Ekstrem.

“Acara adat seperti ini harus ada regenerasi. Agar seni dan budaya leluhur kita bisa dilestarikan sebagai warisan bagi anak cucu,” ungkap Rama Asia yang menghadiri Laliiq Ugal bersama H Encik Mugnidin dan Paulus Matius selaku Kepala Dinas Kehutanan Kubar beserta sejumlah unsur Muspida Kubar.

Bupati ikut dalam barisan Tebeeq Rau untuk menyemarakkan acara dan sebagai wujud kebersamaan para pemimpin dengan masyarakat di daerahnya. “Kedisplinan juga ditunjukkan dalam adat ini, di mana pada saat berbaris, orang yang sudah ikut tidak boleh keluar dari barisan sebelum sampai  tujuan,” kata Rama Asia dalam sambutannya di akhir acara.



Kepala Adat Besar Kecamatan Tering, A Tigang Yok mengatakan, sudah tidak dapat melaksanakan acara adat ini secara penuh. Karena memakan waktu yang cukup lama dan berkurangnya tokoh-tokoh yang mengerti betul aturan-aturan adat yang sebenarnya. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlalu mengikuti kebiasaan.

“Kalau dulu Laliiq Ugaal itu dilakukan setelah tanam padi, tapi sekarang belum tanam sudah bikin acara duluan dan sempat beberapa tahun tidak berjalan. Karena dari agama melarang umatnya untuk ikut serta,” tambah orang tua yang di tahun 1993 lalu menjadi utusan Kabupaten Kutai, dari seluruh kepala adat Se-Kaltim dalam pertemuan bersama Soeharto, Presiden Republik Indonesia di PT Kiani Kertas, Berau. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here