Hits: 2

Sadari Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

Kepala Polres Kutai Barat, AKBP I Putu Yuni Setiawan, didampingi Kepala Polsek Penyinggahan Iptu Suyitno, memberikan bingkisan tali asih berupa sembako kepada Zaidianto dan istri. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

PENYINGGAHAN – KABARKUBAR.COM
Dua pria muda dan seorang pria paruh baya menyatakan sikap di hadapan Kepala Kepolisian Resor Kutai Barat, AKBP I Putu Yuni Setiawan. Ketiganya mengaku tidak lagi berhubungan dengan Hitzbut Tahrir Indonesia, organisasi kemasyarakatan yang telah dibubarkan oleh Pemerintah Pusat. Alasannya, mereka sadar telah salah memilih bergabung dengan ormas yang bertentangan dengan ideologi bangsa.

“Kami menyatakan mendukung kebijakan Pemerintah Pusat yang melarang HTI,” ungkap Zaidianto, Rabu 31/10/2018 di kediamannya, Kampung Penyinggahan Ilir Kecamatan Penyinggahan, Kabupaten Kutai Barat.

Zaidianto yang usianya jauh lebih tua dari dua rekannya, Ahmad Gazali dan David Hairil, mengaku masuk di lingkaran HTI sejak tahun 2013. Atas ajakan atau pengaruh dari seorang Anggota HTI yang bertugas di salah satu perusahaan di Kecamatan Penyinggahan. Diakuinya, tidak mudah untuk masuk menjadi Anggota HTI. Sebab harus melalui proses panjang, dengan belajar banyak doktrin terlebih dahulu.



“Kalau organisasi lain bisa cukup kasih KTP, sudah bisa jadi anggota. Tapi di HTI tidak mudah. Dan saya sudah keluar dari HTI sejak tahun 2015. Pernah saya ke Samarinda ikut konferensi. Dikenalkan panji, dan konvoi keliling Samarinda. Kalau ketua bukan saya, tapi bapak itu,” kata Zaidianto seraya menyebut nama orang yang dimaksud.

David Hairil dan Ahmad Gazali memiliki alasan yang sama mendukung terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017. Yang mengubah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Sebab atas disahkannya Perppu itu, Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM telah mencabut status badan hukum HTI sebagai ormas.

“Kami mendukung pembubaran HTI, karena memang tidak sesuai dengan Dasar Negara kita. Dan kami menyatakan kembali ke Pancasila dan UUD 1945,” kata David Hairil, yang berpenampilan rapi dan tampak jauh lebih muda.

Kapolres Kutai Barat, AKBP I Putu Yuni Setiawan, berdialog dengan santai bersama tiga mantan Anggota Hitzbur Tahrir Indonesia yang mengaku telah keluar dan mendukung pembubaran organisasi terlarang itu. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Saya juga sangat menyatakan keluar dari HTI, karena selama ini tidak sadar telah salah dalam berorganisasi. Dibubarkannya HTI kami ikut mendukung,” imbuh Ahmad Gazali kepada Kapolres.

Ketiganya mengakui juga, Kapolsek Penyinggahan Iptu Suyitno sangat akrab dan kerap bersama dalam keseharian. Termasuk dalam ibadah Sholat lima waktu, dan sembahyang lainnya seperti Sholat Jumat. “Pak Kapolsek ini sudah jadi Imam kami dalam sembahyang di masjid atau di mushola,” pungkas Zaidianto.

Atas pernyataan sikap ketiga eks Anggota HTI tersebut, AKBP I Putu Yuni Setiawan memberikan apresiasi. Terlebih keputusan untuk keluar dari HTI adalah kesadaran pribadi-pribadi. “Siapapun punya hak untuk berkumpul dan berpendapat. Tapi tidak boleh dalam organisasi yang dilarang pemerintah. Kan ada organisasi resmi untuk umat Muslim. Misalnya NU (Nahdlatul Ulama) atau Muhammadiyah,” katanya.



Sebagai rasa terima kasih, AKBP Putu Setiawan yang didampingi Kapolsek Penyinggahan Iptu Suyitno, memberikan tali asih kepada ketiga mantan Anggota HTI tersebut. Yakni sembilan bahan pokok berupa beras, mie instan, roti, gula, kopi dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Sembako tersebut diantarkan dan diserahkan langsung di rumah masing-masing.

Kepada KabarKubar, mantan Wakil Kapolres Kota Cirebon ini mengaku tidak bermain-main dalam persoalan HTI. Sehingga sengaja turun langsung ke Penyinggahan untuk menemui Zaidianto dan kedua rekannya. Dan mendatangi satu-persatu kediaman ketiganya yang memang tidak berjauhan.

“Saya sekaligus bersilaturahmi dengan mereka, dan memberikan pemahaman tambahan atas sikap yang salah. Ideologi bangsa kita ini adalah empat pilar kebangsaan. Yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here