Hits: 4

Lembaga Adat dan Ormas Akan Kawal Pelaporan ke Kepolisian

Pemilik akun Sikha Celvia, ART, menyebut jika komentar yang viral tersebut bukanlah dibuat olehnya. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Setelah sempat viral dengan komentarnya yang bernada merendahkan perempuan Dayak, berinisial ART sebagai pemilik akun Sikha Celvia akhirnya menjalani sidang adat. Namun, wanita yang mengaku putri Dayak Bahau ini menolak membayar denda adat. Ia berdalih, komentar yang dipermasalahkan itu bukan dibuat olehnya.

“Terakhir saya bisa mengakses akun saya itu, 27 Januari 2021, bulan kemarin. Setelah itu saya tidak bisa masuk akun Facebook saya sampai hari ini. Tidak mungkin saya sampai hati ini menjelekkan wanita Dayak, padahal saya sendiri adalah wanita dayak,” ungkap ART dalam sidang adat yang digelar di Lamin Benuaq, Taman Budaya Sendawar pada Selasa, 9 Februari 2021.

ART mengatakan, jika dirinya adalah putri Dayak dan pernah aktif dalam organisasi kemasyarakatan Dayak di tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Diakuinya, komentar di salah satu postingan yang menjadi masalah tersebut bukan dirinya yang melakukannya.

“Saya baru tahu viralnya komentar yang dilakukan oleh akun saya dari pihak keluarga. Saya sempat shock dan sakit hati. Karena foto-foto keluarga saya juga dibagikan di grup-grup Facebook,” katanya saat di beri kesempatan untuk klarifikasi dalam sidang adat yang berlokasi di Jalan Sendawar Raya, Kelurahan Barong Tongkok, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.

Ketua Hinaq Ayaq Bahau Maraan, Hermonius Remon, mengajak warga adat Dayak Bahau khususnya, untuk bijak dalam bermedia sosial. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Usai sidang adat, ART kembali menegaskan jika akun miliknya tersebut diretas oleh pihak tidak dikenalnya. “Sejak 27 Januari saya sudah tidak bisa lagi masuk akun saya. Karena saya tidak paham, saya anggap akun saya itu di-hack (diretas). Menurut bahasa IT, itu buka hanya di-hack, namun ada yang pergunakannya,” jelasnya kepada awak media.

Ia mengaku sejak itu tidak bisa lagi membuat postingan atau komentar melalui akun tersebut. “Terkait komentar tersebut, saya tidak pernah sama sekali melakukannya, dan terkait pelaporan saya masih koordinasikan dengan pengacara keluarga,” katanya.

Ia berharap tidak ada kejadian serupa. Karena ia mengaku adalah seorang perempuan Dayak dan juga aktivis Dayak. Meski demikian, ia memohon maaf atas akun miliknya yang telah menulis komentar dan membuat kegaduhan tidak hanya di Kutai Barat tapi seluruh Indonesia.

“Saya tetap meminta maaf sebesar-besarnya, yang pribadi tidak pernah dan ingin melecehkan perempuan Dayak. Karena saya juga seorang perempuan, punya anak perempuan,” pungkas ART.

Komentar Dinilai Melecehkan, 5 Ormas Dayak Ingatkan Pemilik Akun Sikha Celvia

Menurut Manar Dimansyah Gamas selaku Kepala Lembaga Adat Besar Kabupaten Kutai Barat, keputusan denda Adat sudah tepat. Berdasarkan koordinasi dengan para tokoh, didasari berbagai pertimbangan para hakim adat. Mengingat jika akun Facebook seseorang diretas, tentu untuk kepentingan tertentu. Namun pada kasus ini, akun Sikha Celvia hanya dipakai mengomentari postingan salah satu akun lainnya.

“Sampai saat ini akun tersebut tidak melakukan postingan apapun. Lebih aneh lagi, sejak peristiwa ini viral, akun tersebut tidak lagi bisa ditemukan atau sudah ditutup. Akibat komentar akun tersebut telah membuat gaduh, rasa sakit hati, marah perempuan Dayak. Oleh sebab itu berdasarkan poin-poin yang dilanggar, denda adat sebanyak 78 antang atau guci bernilai Rp31.200.000,” tegasnya.

“Tetapi saya perlu sampaikan, bahwa beliau atau pemilik akun telah menolak keputusan lembaga adat  yang menyatakan bersalah sebagaimana poin poin yang saya uraikan. Itu adalah hak beliau. Oleh sebab ini, mari kita bersama mengawal pemilik akun yang akan melaporkan ke kepolisian bahwa akunnya di-hack. Dengan konsekuensi, jika nantinya akunnya tidak benar-benar di-hack, maka ia bersedia mempertanggungjawabkan segala perbuatannya,” terang Manar Dimansyah sekaligus menutup sidang adat.

Awalnya pertemuan hanya untuk klarifikasi pemilik akun Sikha Celvia. Namun karena pihak yang merasa dilecehkan dengan komentar tersebut, yakni ormas Dayak serta keluarga korban turut hadir dan menyampaikan keberatan. Akhirnya berlanjut menjadi sidang adat.

Kepala Adat Besar Kabupaten Kutai Barat, Manar Dimansyah Gamas, memimpin sidang adat di Lamin Benuaq, Taman Budaya Sendawar pada Selasa, 9 Februari 2021. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Proses sidang adat dibuka oleh Kepala Adat Besar Kabupaten Kutai Barat, Manar Dimansyah. Dimulai sekira jam 10 pagi, dan dihadiri perwakilan sejumlah ormas Dayak. Antara lain, Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak), Hinaq Ayaq Bahau Maraan (Habama), Komando Pertahanan Adat Dayak Kalimantan Timur, dan Generasi Lintas Anak Kalimantan (Galak).

Turut hadir para kepala adat kecamatan, Ketua Sempekat Tonyooi Benuaq Provinsi Kalimantan Timur Hengki, dan Wakil Ketua Persekutuan Dayak Kalimantan Timur Yulianus Henokh Sumual. “Kaum Dayak jangan pernah merendahkan sukunya sendiri. Wanita Dayak bukan primitif, wanita Dayak berpendidikan,” kata Nellyana Theresia Tukau, mewakili kaum perempuan Habama saat penyampaian keberatan.

Sidang adat juga diisi masukan atau saran dari para tokoh yang hadir. Namun sampai berakhirnya sidang adat, pemilik akun Sikha Celvia kukuh tidak melakukan hal yang dituduhkan. “Kita sudah dengar keputusan lembaga adat yang dalam hal ini sudah kita serahkan sepenuhnya menyelesaikan masalah ini. Kita akan tetap kawal secara penuh pelaporan dari pihak pemilik akun untuk ke proses hukum,” tegas Meidy Christian, Ketua Galak Kubar.

Khusus kepada warga adat suku Dayak Bahau, Hermonius Remon sebagai Ketua Habama, mengimbau dan berharap untuk bijak dalam bersosial media. “Karena peribahasa dulu, mulutmu adalah harimaumu, nah sekarang di era zaman modern ini, jarimu harimaumu. Jadi bijaklah dalam bersosial media, agar pihak pemilik akun bisa segera melakukan pelaporan kepolisian,” pesannya. #Sunardi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here