Pengembangan Ekonomi Kreatif Menggantikan SDA

SAMARINDA – KABARKUBAR.COM
APBD Kaltim yang babak belur sejak tahun 2014 lalu, menjadi kendala pemerintahan Awang Faroek Ishak dalam membangun Benua Etam. Sempat melewati Rp11 triliun, kini melorot sampai sekitar Rp8 triliun. Ada yang memprediksi, tahun 2019 ketika ada Gubernur Kaltim yang baru, besaran APBD menurun lagi.

Pertanyaan muncul, kalau penerimaan APBD Kaltim terus anjlok, bagaimana pasangan Rusmadi-Safaruddin bisa mewujudkan impiannya dalam ‘Kaltim Bermartabat’. Bagaimana pasangan yang kian diunggulkan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur ini mengimplementasikan Dasacita atau 10 program kerja?

Optimistis datang dari Ir Anthony Parulian Manalu, seorang praktisi lokal. Dia mengatakan, challenge-nya justru di situ. “Banyak kepala daerah wait and see kalau APBD anjlok, tidak sedikit yang memilih di comfort zone,” katanya dalam wawancara, Rabu 23/5/2018.

Tapi, Rusmadi-Safaruddin sangat percaya diri dengan mendisain “Kaltim Bermartabat” sebagai sebuah visi pembangunan Kaltim 5 tahun ke depan. Menurut Anthony, visi yang menjadi tagline “Kaltim Bermartabat” itu tidak dibuat dengan mantra “Abracadabra!”.

“Sangat jelas Kaltim Bermartabat itu dibangun dengan dasar pengalaman Rusmadi yang sudah mengetahui isi dompet keuangan Kaltim semasa menjadi Sekdaprov dan Ketua Bappeda Kaltim. Saya sudah cek (diteliti dan dianalisa), memang masuk akal,” timpalnya.

Anthony menjelaskan, 5 konsepsi visi Kaltim Bermartabat, yaitu akronim dari Berdaya Saing, Mandiri, Aman, Sejahtera, Berkelanjutan, ibaratnya adalah sebuah puzzle baru. Meletakkan “daya saing” di paling depan visi Kaltim ke depan, kata Anthony, merupakan konsepsi dasar membangun Kaltim ke arah baru melalui SDM (Sumber Daya Manusia), bukan melalui SDA (Sumber Daya Alam).

Kemudian konsepsi “mandiri”  dalam ekonomi, tutur Anthony, juga memberikan perspektif baru dalam rencana kerja pemprov nanti. Di sini terlihat bagaimana Rusmadi-Safaruddin ingin pelaku dan penggiat ekonomi kreatif di Kaltim –yang didominasi kalangan anak muda– mendapat angin segar. Mereka diberikan akses dan sokongan penuh untuk berkontribusi terhadap APBD. “Saya pikir muaranya menuju industri kreatif skala Kaltim. Saya cari informasi, baru Rusmadi rasanya yang berani bicara secara gamblang soal sektor kreatif ini dalam sebuah visi,” paparnya.

Bagi Anthony, Rusmadi nampaknya melihat peluang ini tidak sekadar isapan jempol belaka. Sebab dukungan produk kreatif di Kaltim bisa juga datang dari luar negeri. Subsektor yang bakal menjadi unggulan itu adalah seni rupa, desain produk, desain komunikasi visual, desain interior dan arsitektur, Juga seni pertunjukan, kuliner, fotografi, kerajinan, busana, musik, periklanan, penerbitan, televisi dan radio, aplikasi dan pengembangan permainan, serta film animasi dan video.

Secara nasional, lanjut Anthony, dari sisi nilai, ekonomi kreatif di Indonesia juga mengalami kenaikan setiap tahunnya. Yakni dari Rp852 triliun pada 2015 lalu, menjadi Rp922,58 triliun pada 2016. Tahun lalu, posisi nilai PDRB dari sektor ini mencapai Rp990,4 triliun, dan ditarget menjadi Rp 1.000 triliun tahun ini. “Gagasan kreatif tidak akan pernah habis. Saya melihat Rusmadi mendorong sektor ini dapat menggantikan SDA menjadi tulang punggung perekonomian kita,” aku Anthony.

Rangkaian puzzle lainnya, “Aman”. Menurut Anthony adalah masalah krusial pertama paling dibutuhkan tiap warga Kaltim. “Jaminan keamanan itu sangat mendasar. Di situ ada jaminan keamanan menjalankan ibadah masing-masing agama, sikap toleransi, dan lainnya. Nah, sosok wakil gubernur pasangan Pak Rusmadi, yaitu Irjen Pol Purnawirawan Safaruddin, memberikan kredit plus dalam hal jaminan keamanan ini,” analisa Anthony.

Dia menambahkan, keamanan juga harus pasti bagi para investor yang menanamkan modalnya di Benua Etam.”Kita tahu, saat ini suhu politik sedang panas. Pilgub, kemudian pileg, dan pilpres. Belum lagi peristiwa serangan terorisme baru-baru ini. Kalau tidak ada sosok yang mampu memberikan jaminan keamanan, maka ada potensi chaos,” tambah Anthony.

Di lain hal, aspek kesejahteraan yang dinilai sebagai tujuan akhir pembangunan, sangat logis bagi Anthony sebagai bagian untuk memenuhi kebutuhan material, spiritual, dan sosial. “Nah, ini yang menarik, soal berkelanjutan. Sustainable program itu kuncinya, bahkan di negara-negara maju, pembangunan yang berkelanjutan selalu dilaksanakan,” jelasnya.

“Saya melihat aspek ini penting. Rusmadi memberi isyarat bahwa kesejahteraan itu bisa dicapai dengan tidak mengorbankan kesempatan generasi yang akan datang,” tukas Anthony. #Achmad Yusuf

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here