Hits: 7

Harga Rendah dan Tidak Ada Pembeli

Petani karet di Kampung Linggang Amer menyatukan getah karet dalam kotak kayu untuk dijadikan bentuk persegi. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Masyarakat Kabupaten Kutai Barat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani karet makin terdesak secara ekonomi. Sudah harga jual getah karet sangat rendah, pembeli dari luar daerah pun kesulitan masuk. Akibatnya, harga makin tidak stabil. Para tengkulak yang membeli langsung ke kebun karet pun kehabisan modal. Harga pun makin anjlok di kisaran Rp4.000 perkilogram.

“Malam tadi ada info pembeli dari luar terkendala palang pintu di perbatasan Kubar. Kenapa tidak bisa masuk, pembeli karet datan menjemput karet, tapi meninggalkan uang untuk beli sembako,” keluh Joni Rianto, pembeli getah karet di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, pekan lalu.



Ia mengaku biasanya dapat mengumpulkan getah karet sedikitnya 5 ton dalam seminggu. Saat ini ada sekitar 15 ton yang bisa dimuat tiga truk siap dijual. Biasanya pada Senin dan Rabu ada pembeli yang berasal dari Batu Licin, Kabupaten Tana Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. “Sekarang belum juga datang. Pembeli bilang pabrik sudah tutup sementara. Jadi bos itu beli untuk ditampung di kolam di Banjarmasin,” katanya.

Menurut Joni Rianto, jika tidak ada perubahan harga dari pembeli yang memodalinya, karet dihargai Rp4.400 perkilogram. Masalahnya, ia dan dua tengkulak lainnya, yakni Rence dan Iding pembeli karet kini mengeluh. Sebab kiriman modal dari bos mereka di Kalsel pun macet. “Bos Haji Sugeng belum kirim duit,” ungkapnya.

Ditanya isu adanya permainan pembeli dan para tengkulaq, ia membantah. Siapa saja bisa menjual langsung ke pabrik karet di Palaran, Kota Samarinda. Hanya saja, ada kendala sendiri karena harga tidak menentu. Selain sistem pembayaran via rekening atau tidak kontan, pemeriksaan kualitas karet di pabrik terasa panjang dan berbelit.

Seorang ibu sedang menoreh pohon karet. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Tidak benar ada mafia. Biar hanya 1 ton bisa langsung ke pabrik. Kita tidak tahu berapa harga jual dan beli karena dicek dulu kualitas karetnya. Tapi pasti ada keuntungan dibanding dijual disini,” ujar Joni Rianto.

Menurut Radiansyah, yang pernah menjadi tengkulak, sekarang produksi karet di Kampung Ongko Asa pun menurun. Dulu dia mengumpulkan sekitar 3 ton dalam seminggu. Kini kabarnya hanya 1 ton lebih didapat tiga tengkulak. Yakni Rahayu, Ewiq dan Junaidi. Karena ada peremajaan karet dari Dinas Pertanian Kubar. “Minggu lalu harga masih Rp5.000, dan paling tinggi Rp5.500. Malah sekarang hanya sekitar Rp4.000 perkilogram,” katanya.

Menanggapinya, Adrianus selaku Kepala Kampung Juaq Asa, ada jalan keluar untuk menaikkan harga getah karet. Salah satunya dengan mengarahkan Badan Usaha Milik Kampung atau BUMKam untuk membeli getah karet dari warga. Nantinya, BUMKam menjual langsung ke pabrik di Palaran. “Memang kualitas harus dijaga, dengan mengeringkan karetnya. Tidak dijual basah dari kolam penampungan,” katanya,

Cara lain, lanjutnya, menanami lahan lain dengan bibit karet sejak sekarang. Sehingga produksi karet petani pada lima tahun mendatang akan lebih banyak. Perhitungannya, akan mendapat uang sebesar Rp1,5 juta dari harga Rp5.000 perkilogram. Itu jika memiliki lahan karet seluas 2 hektare dengan masing-masing panennya 150 kilogram perminggu.

Petani karet di kawasan Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok, memproduksi getah karet berkualitas dengan harga jual tinggi. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Jadi sehari petani bisa berpenghasilan Rp250 ribu. Jika dikalikan 26 hari, karena karet di-tores (disadap) enam hari dalam seminggu, maka sudah dapat gaji Rp6,5 juta perbulan. Apalagi kalau harga bisa tembus lagi Rp10 ribu perkilogram, dapat Rp15 juta sebulan,” jelas Adrianus.

Ia menambahkan, di Kampung Juaq Asa ada program Peremajaan Karet seluas 78 hektare dari Dinas Pertanian Kubar. Lahan yang baru ditanami seluas 29 hektare. Sementara dari catatan pemerintah kampung, ada 248 hektare lahan karet yang menghasilkan getah karet sebanyak lebih dari 20 ton seminggu.

Menanggapinya, Kepala Seksi Prasarana dan Sarana Produksi Perkebunan pada Dinas Pertanian Kubar, H Sukorilawan, membenarkan persoalan di atas. Dari sekitar 45 ribu hektare lahan karet di Kubar, menghasilkan 130 ribu ton lebih getah karet dalam sebulan. Soal harga disebut tergantung dari kualitas. Kalau baik, harga turun tidak seberapa.



“Pembeli memilah kualitas, jika bercampur kulit kayu harga turun. Kalau tidak direndam, dan dianginkan di rak, meski tidak kering betul, bisa tinggi harganya. Contohnya di Kota Bangun konsekuen menjaga kualitas, jadi bisa Rp7.500 sekilo,” akunya.

 

Pria bertitel Insinyur Pertanian dari Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini menjelaskan, tahun 2020 ini ada 103 hektare lahan karet yang mendapat bantuan bibit dari Distan Kubar. Sedangkan peremajaan lahan karet mencapai 260 hektare pada tahun 2019, dan tahun ini direncanakan 300 hektare. “Akibat wabah corona ini, jadi hanya 200 hektare tahun ini,” ungkap Sukorilawan yang sudah 27 tahun bertugas di Distan sejak era Kabupaten Kutai. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here