Hits: 0

Warga Tering Siapkan Laporan ke KPK

Enam anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat berdiri di akses menuju Jembatan Tering yang sudah ditumbuhi semak belukar, Jumat 6/4/2018. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

TERING – KABARKUBAR.COM
Sudah menghabiskan dana mencapai Rp 55 miliar dalam 7 tahun anggaran, pembangunan Jembatan Tering belum juga tuntas. Asa ribuan warga Kecamatan Tering, Linggang Bigung dan Long Iram untuk melintasi Sungai Mahakam dengan berjalan kaki atau berkendara, masih mimpi. Akhir manis yang tidak kunjung datang, membuat Wakil Rakyat Tanaa Purai Ngeriman mendesak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur merampungkan proyek itu.

“Kami meminta Pemprov Kaltim segera menyelesaikan pembangunan jembatan ini. Karena proyeknya sudah diambil alih oleh mereka (pemprov) dari Pemkab Kubar sejak tahun 2008,” ungkap Zainuddin Thaib, Ketua Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Kutai Barat, Jumat 6/4/2018 melalui media sosial.

Zainuddin yang juga Ketua DPD Partai Gokar Kubar ini menjelaskan, jembatan tersebut sangat vital bagi masyarakat Kubar. Adanya jembatan akan memudahkan warga berkegiatan, yang berimbas pada peningkatan ekonomi. “Yang pasti jembatan tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kubar, khususnya warga Tering, Bigung dan Long Iram,” ujarnya.

Tadi pagi, Zainuddin bersama lima anggota DPRD Kubar lainnya melihat langsung situasi di lokasi proyek pembangunan Jembatan Tering. Kelimanya adalah, Yansel, Sri Upami, Theresia, Jeni Alpiansyah dan Samri Nyirang. Mereka sepakat untuk menyampaikan hasil pantauannya ke gedung Parlemen Kubar. “Sudah 15 tahun Jembatan Tering masih berupa tugu dengan 4 pilar berdiri di lokasi sunyi. Entah sampai kapan bisa kita nikmati,” kata Jeni Alpiansyah yang tercatat sebagai warga Long Iram.

Supri (42), warga RT 2 Kampung Jelemuq Kecamatan Tering, berdiri di lokasi akses utama menuju Jembatan Tering. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Penelusuran KabarKubar, proyek pembangunan Jembatan di RT 3 Kampung Jelemuq, Kecamatan Tering itu dimulai tahun 2002 lalu. Total dana yang dikucurkan mencapai Rp55.189.059.500, yang dibagi dalam 7 tahun anggaran. Yakni tahun 2002, 2003, 2006, 2008, 2009, 2010 dan 2015. Selama 5 tahun anggaran pertama, proyek dilaksanakan dan diawasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kutai Barat. Melalui Bantuan Keuangan Provinsi Kalimantan Timur, tahun anggaran 2010 dan 2015 dikerjakan dan diawasi Dinas PU Kaltim.

Jangankan selesai, dana puluhan miliar tersebut baru berupa 4 pilar. Itupun hanya dua pilar yang telah dinilai selesai. Dari warga setempat, para politisi, aparat pemerintah serta lembaga adat, memperbincangkannya di media sosial. “Kita memang harus blow up ini terus kemana-mana, sehingga proyek jembatan ini jangan dijadikan lahan basah orang-orang tertentu saja. Kita sudah siapkan laporan ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),” ujar Herynimus Huvang, warga Kampung Tering Baru dalam komentar di Facebook.

“Pembangunannya hingga saat ini tidak jelas. Setiap tahun ada pekerjaan di sana tapi mengerjakan apa tidak jelas. Selama saya menjadi kades, hanya dua tahun pembangunannya yang jelas. Yaitu beberapa tiang pancang yang ada sekarang, setelah itu semua tidak jelas,” ungkap Anastasius, mantan Kepala Kampung Tering Lama.

Anas menjelaskan, Jembatan Tering merupakan gagasan Bupati Kubar pertama, Rama Alexander Asia. Jembatan ini dirancang menghubungkan sejumlah daerah, khususnya Kecamatan Tering dan Long Iram. Adanya jembatan juga akan memudahkan akses menuju wilayah Hulu Mahakam yang sekarang menjadi Kabupaten Mahakam Ulu. Lewat jembatan ini, masyarakat juga bisa menuju Kecamatan Tabang, Muara Kaman, Kota Bangun di Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Jembatan ini membuka jalan induk ke Kota Bangun. bisa dua jam lebih cepat, yang artinya ada penghematan biaya. Tujuannya, memutus keterisolasian wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Mahakam. Ini juga aspek pembukaan geografis wilayah,” katanya.

Zainuddin Thaib bersama rekannya sesama Wakil Rakyat Kabupaten Kutai Barat, saat melihat tumpukan bahan pembangunan proyek Jembatan Tering yang sudah ditumbuhi semak. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Siapa yang tidak mau jembatan ini selesai? Kami sangat berharap jembatan ini selesai, karena penting buat kami,” kata Supri (42), warga RT 2 Kampung Jelemuq, saat ditemui di lokasi proyek, Sabtu 24/6/2017.

Dia menyesalkan pekerjaan proyek yang terkesan tidak profesional. Sebab, peralatan yang digunakan seperti alat berat, tidak memenuhi syarat. “Bagaimana mau lancar proyeknya, yang datang alat berat sudah rusak. Baru satu sampai tiga hari, alat beratnya sudah rusah,” ungkap pria yang mengaku pernah masuk tim survey proyek. “Alasannya tidak cukup anggaran proyek, karena gunung batu yang harus dipecah,” imbuh Supri.

Duduk di Komisi III DPRD Provinsi Kaltim, Veridiana Huraq Wang, turut mempertanyakan pembangunan Jembatan Tering. Ia menyebut, di tahun 2015 juga telah dialokasikan lagi dana untuk pembangunan jembatan tersebut oleh Pemprov Kaltim. Lewat Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kaltim senilai Rp20,1 miliar. Veridiana berharap jembatan itu bisa segera dimanfaatkan warga sekitar untuk membuka akses jalan di Tering dan Kabupaten Mahulu. “Kenyataannya, ada empat pilar jembatan yang terlihat mandeg di lokasi proyek. Itu pun sudah sejak tiga tahun lalu,” tukasnya.

Menurut Veridiana yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kaltim, proyek Jembatan Tering dialokasikan dari dana APBD Kaltim sejak tahun 2009. Namun pada masa Gubernur Suwarna AF mulai dianggarkan tahun 2005 lalu, dengan alokasi dana Rp 150 miliar. “Tapi sampai sekarang, belum juga ‎tuntas. Banyak warga bertanya kapan jembatan itu selesai,” kata wanita yang juga berasal dari Kampung Tering Lama. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here