Paul Vius: “Taai nopa repaaq (kita melawan wabah),”

Paul Vius menjelaskan pemahamannya terkait Corona Virus Disease 2019 kepada sejumlah orang yang hadir dalam Pelantikan Penjabat Petinggi Muara Jawaq di Kantor Camat Mook Manaar Bulatn. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

MOOK MANAAR BULATN – KABARKUBAR.COM
Politisi Partai Demokrat, Paul Vius, punya cara tersendiri dalam melaksanakan tugas menyerap aspirasi masyarakat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat. Bedanya, serap aspirasi yang biasa disebut Reses itu dilakukan dengan tidak mengumpulkan warga di satu gedung atau bangunan. Selain itu, jika biasanya menyerap aspirasi, kali ini fokus menjelaskan pencegahan penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19.
“Momen Reses ini saya ditugaskan oleh negara untuk turun ke bawah. Tapi tidak dapat dilakukan sebagaimana biasa. Saya ke kampung, naik rumah ke rumah,” ungkap Paul Vius yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Kubar saat Pelantikan Penjabat Petinggi Kampung Muara Jawaq di Kantor Camat Mook Manaar Bulatn pada Rabu, 8 April 2020.



Saat mendatangi rumah warga, beber Paul Vius, hanya menemui beberapa anggota keluarga. Tidak meminta warga menyampaikan aspirasi, tapi ia menjelaskan cara penyebaran virus mematikan yang sedang mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. “Saya gunakan fungsi sebaga dewan karena kebetulan paham hal ini. Memang saya bukan latar belakang ilmu kesehatan, tapi saya belajar untuk memahami. Saya telah dan akan turun ke masyarakat untuk jelaskan hal ini (Covid-19),” katanya.
“Jaga diri kita, kita jaga orang, orang jaga kita. Pajik pejai keh taai yaq ngaq (baik buruknya tergantung kita). Taai nopa repaaq (kita melawan wabah), boteq (jangan) main-main,” tegasnya.
Paul Vius mengakui, awalnya menganggap remeh penyakit corona. Misalnya ketika menghadiri Kongres V Partai Demokrat di Jakarta Convention Center pada Minggu, 15 Maret 2020. Saat itu diterapkan protokol steril oleh Panitia Kongres dengan menyiapkan alat pengukur suhu digital, tempat cuci tangan dilengkapi hand sanitizer. Juga disemprot cairan desinfektan.



“Saat itu saya anggap berlebihan. Tapi beberapa hari kemudian, nonton televisi, banyak kawan disana kena dan positif corona. Ada beberapa anggota dewan, bahkan Walikota Bogor (Aria Bima) pun terpapar. Saya pun sadar diri berkurung di rumah, untuk lakukan karantina mandiri,” ungkapnya.
Menurut Paul Vius, ada dua dokter dari Klinik Permata Husada di Jalan Mohammad Hatta RT 19 Kelurahan Melak Ulu yang memantau perkembangan kesehatannya. Mereka adalah Dokter Iskandar dan Dokter Waluyo yang siaga dari klinik berjarak sekitar 300 meter dari kediaman Paul Vius. “Saya 14 hari karantina mandiri, anak-anak saya suruh mengungsi dan larang ke rumah,” ujarnya.
Setiap hari perkembangan kesehatan Paul Vius diperiksa kedua dokter. Setelah 14 hari, ia dinyatakan tidak terinfeksi Corona. “Tapi saya tetap bertahan di rumah beberapa hari lagi. Karena saya merasa tubuh tetap nyaman, barulah berani keluar rumah,” tegasnya.



Menurutnya, menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran ini, terjadi mutasi virus oleh manusia. Perantau dari daerah endemik corona pulang kampung, menambah daerah endemik baru. Corona-19 menginfeksi semua orang tanpa mengenal latar belakang. Misalnya, warga Kubar yang mengikuti Ijtima Ulama Sedunia di Gowa, Sulawesi Selatan, terbukti ada yang positif dalam Rapid Test.
Di Kota Samarinda, lanjut Paul Vius, sudah banyak berstatus Pasien Dalam Pengawasan atau PDP. Ia meminta warga waspada terhadap pelaku perjalanan, termasuk jika ada yang datang dari luar Kubar. Ada juga Orang Dalam Pemantauan atau ODP, tidak kemana-mana tapi batuk atau pilek. ODP demikian harus dipantau tenaga kesehatan atau petugas Puskesmas terdekat.
Dijelaskannya, ada PDP yang sudah tergeletak di rumah sakit. Mereka menunggu pemeriksaan Rapid Test, dan begitu dinyatakan positif terjangkit Covid-19, harus diisolasi. Jika di Kubar belum ada standar penanganan Covid-19, pasti dikirim ke Rumah Sakit Abdul Wahab Syahranie di Kota Samarinda. Dari sana bisa dikirim ke Surabaya, atau Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta.
Camat Mook Manaar Bulatn, Rusmansyah, memberikan contoh dengan tidak bersalaman saat menyatakan selamat kepada Penjabat Petinggi Muawa Jawaq dan lima stafnya usai pelantikan pada Rabu, 8 April 2020. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Ada yang paling berbahaya, kata dia, adalah OTG atau Orang Tanpa Gejala. Yang memiliki tingkat imun tubuh yang kuat. Sehingga meski ada virus, dia tidak terjangkit. Namun orang tersebut ada riwayat berhubungan dekat dengan orang terpapar. “Orang inilah yang berbahaya. Lewat bekas tangan, air liur, nafas, bisa menularkan virus ke orang lain. Itulah gunanya pakai masker agar mencegah penyebaran wabah,” ujarnya.
Paul Vius menyebut, pemerintah daerah diperbolehkan melakukan pembatasan daerah. Dengan mengawasi arus keluar dan masuknya orang. Oleh karena itu, pemerintah sarankan untuk berdiam di rumah saja. Meski menimbulkan masalah bagi orang, terutama di perkotaan untuk mencari nafkah. Sementara orang di pedesaan masih bisa hidup dari kebun atau ladang.
“Kita tidak lockdown, cuma berkerumun tidak boleh. Kalau tetap berkumpul (tidak penting), nanti dibubarkan TNI-Polri. Yang terpapar akan menyibukkan tenaga medis untuk mencari jejak perjalanannya.



Ia menegaskan, tidak berguna pemerintah mengalihkan anggaran untuk mengatasi Corona, jika masyakarat tidak mengikuti arahan. Jika ada warga yang datang dari luar Kubar, wajib melapor ke Puskesmas terdekat. Apalagi jika datang dari Jakarta, sebagai tempat berkembangnya Covid-19 ini. “Jangan anggap orang sombong kalau tidak mau salaman. Itu demi kesehatan kita bersama. Jaga jarak, dan kalau tidak penting, jangan keluar rumah,” pungkas Paul Vius.
“Saya awalnya juga tidak takut dan anggap berita berlebihan. Tapi ini benar-benar dan harus diperhatikan. Lebih baik kita mencegah dari pada mengobati,” imbuh Camat Mook Manaar Bulatn, Rusmansyah. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here