Hits: 3

Sudah Sediakan Bibit Unggul Sebanyak 200 Ribu Pokok

Mudarius terus menggeluti usaha pembibitan tanaman keras di lokasi persemaiannya di RT 4 Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Berawal dari melihat peluang untuk mendapat penghasilan, Mudarius memulai usaha pembibitan tanaman keras dan tanaman buah. Sejak Desember 2002, ia menyemai bibit dengan menanam biji dalam media tanam polybag. Bermacam jenis tanaman telah dijualnya dengan eceran dan lebih sering cara borongan atau partai.

Tanaman yang disemai, ada Ulin atau Bulian yang bernilai tinggi kayunya. Selain langka, kayu ini bisa disebut berkualitas terbaik dari jenis kayu lainnya. “Saya jual Rp15 ribu untuk satu pokok (batang atau pohon kecil). Ini sudah usia tanam 7 bulan,” ungkap Mudarius saat ditemui di lokasi persemaian miliknya, RT 4 Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok pada Rabu, 29 April 2020.



Pria yang akrab disapa Muda ini menjelaskan, Ulin sebagai tanaman khas Pulau Kalimantan, sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan, serta tidak mudah dimakan rayap. Makanya Ulin dicari banyak orang, dan harga jualnya cukup tinggi.

Kayu ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya bisa mencapai 50 meter dan diameter mencapai 120 centimeter. Karena ketahanannya terhadap perubahan suhu, kelembapan dan pengaruh air laut, kayu ulin memiliki sifat sangat berat dan keras. Sehingga kayu ini sering disebut sebagai kayu besi karena sangat kuat dan tahan banting.

Selain sebagai bahan utama konstruksi bangunan, kayu ulin juga dapat digunakan untuk bahan pembuatan kerajinan, seperti furnitur rumah. Tunggak pohon ulin yang telah mati juga dapat dijadikan bahan kerajinan ukir dengan nilai jual tinggi. “Saya semai dari buahnya, dan saya beli dari warga yang mendapatnya. Ini yang siap tanam tidak lebih 10 pokok lagi,” kata Muda.

Muda menunjukkan bibit Ulin yang disemainya selama sekitar 7 bulan. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Tidak hanya Ulin, pria yang mengaku berasal dari Kampung Juaq Asa ini juga telah menyediakan bibit berbagai jenis tanaman keras bernilai tinggi. Yakni Tengkawang, yang adalah buah dari pohon jenis Shorea, yang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi. Pohon Tengkawang yang disebut Orai dalam bahasa Tunjung, hanya terdapat di Pulau Kalimantan.

Kemudian Gaharu, yang kayunya berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon. Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum. “Ada juga bibit kayu Meranti, Kapur, Durian, Rambai, Langsat, Cempedak, dan Lai,” jelas Muda.

Salah seorang putri Muda, ikut membantu usaha persemaian yang dirintis sejak tahun 2002 lalu. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Pria memiliki tiga anak dengan empat cucu ini mengisahkan, 18 tahun lalu diajak seorang saudaranya, Tolaq, yang bekerja di Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Barat. Ia didorong untuk membuat usaha pembibitan tanaman. Saat itu dibentuk Kelompok Tani Gaharu, dan satu bibit atau pokok dijual Rp2.000. “Sampai yang menangani RHL (Rehabilitasi Hutan dan Lahan) pindah ke provinsi, harganya turun jadi Rp1.500 di tahun 2016,” ungkapnya.

Biasanya, lanjut Muda, ia mendapat order dari kelompok tani, organisasi lingkungan hidup, dinas atau instansi terkait kehutanan, dan bidang penghijauan perusahaan. Rata-rata bibit dijual Rp2.000 perpokok dalam media tanam berukuran lebar 8 centimeter dan panjang 15 centimeter.

Target penanaman bisa mencapai 40 ribu pokok sebulan, karena tidak semua bibit akan tumbuh dengan baik atau bisa dijual. Karena ada yang tumbuh kerdil atau rusak. Misalnya dalam satu bedeng ukuran 4 x 8 meter, bisa menyemai 10 ribu pokok. “Kalau disortir, paling 3.000 pokok yang layak dengan syarat tinggi minimal 35 centimeter,” ujarnya.



Muda menambahkan, biasanya dalam sebulan ia masih bisa menjual hingga 1.000 pokok. Namun akibat wabah virus corona, penjualannya merosot tajam. Hanya saja, ia masih bersyukur dibanding tahun 2017 lalu. Sebab saat itu tidak ada bibit yang laku. “Waktu itu sampai jatuh harga Rp700 perpokok, karena penjualan lewat kontraktor. Saya ketemu pak Wayan (pejabat Dinas Kehutanan) di provinsi, harga jadi Rp1.000 perpokok dan ditargetkan 1.500 pokok,” katanya.

“Ini sudah ada kontrak, tapi ditunda sampai tahun 2021. Syukur, besok kirim durian 10 ribu pokok, Kapur 4.000, Langsat 500, dan Tengkawang 500,” pungkas Muda di lokasi persemaian yang saat ini menyediakan lebih dari 200 ribu pokok berbagai jenis tanaman keras. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here