Hits: 0

Pertanyakan Status Kewarganegaraan Indonesia

2008_Kampung Long Apari (1)

LONG APARI – Musim kemarau yang membuat air Sungai Mahakam surut, menyulitkan pasokan sembilan bahan pokok ke Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu. Akibatnya, harga jual sembako yang selama ini telah tinggi semakin mahal. Di ibukota kecamatan, sekarung beras ukuran 25 kilogram kini dipatok Rp 550 ribu dan premium atau bensin seharga Rp 25 ribu perliternya.

Kondisi tersebut membuat warga di perbatasan Indonesia-Malaysia itu menjerit. Sebab sekitar empat pekan ini pasokan sembako telah terhenti. Dikuatirkan keadaan ini terus berlanjut hingga stok sembako benar-benar habis. “Apakah pemerintah tidak bisa mencari solusi kelangkaan sembako ini, bensin pun di sini sudah mencapai Rp 40 ribu perliter,” ujar Tokoh Masyarakat Kampung Long Apari, Yosef Nalang, melalui telepon selular.

 

MERDEKA : Masyarakat Kampung Long Apari Kecamatan Long Apari mempertanyakan komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap pengakuan mereka sebagai warga negara Indonesia. Hal itu diakibatkan fasilitas atau infrastruktu yang minim di kampung yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia itu.    SONNY LEE HUTAGALUNG/KabarKubar.com

Pernyataan tersebut dibenarkan Ketua Badan Perwakilan Kampung Long Apari, Unyang Jengilun. Ia bahkan mempertanyakan komitmen pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mengatasi permasalahan yang telah terjadi setiap tahun ini. “Apakah kami ini masih dianggap warga negara Indonesia? Apakah pemerintah sengaja membiarkan kami mati kelaparan dan komunitas kami hilang ditelan waktu?” katanya kepada KabarKubar.com melalui sambungan telepon dari kampung yang menjadi batas Indonesia dengan negeri jiran.

Unyang Jengilun juga mempertanyakan janji Presiden Joko Widodo untuk membuat terang semua daerah perbatasan negara sebelum tanggal 17 Agustus 2015 ini. “Jangankan menyala, mesinnya saja belum ada. Cuma pondasi saja yang dibuat,” tegasnya. Dia menyebut ada pemasangan instalasi listrik, namun hanya ada di kantor-kantor (Koramil, Polsek dan Kantor Camat Long Apari di Tiong Ohang). “Memangnya negara ini hanya kantor-kantor, kami masyarakat bukan warga yang butuh listrik,” tukasnya.

2008_Kampung Long Apari (2)
SENYUM PAHIT: Masyarakat Kampung Long Apari Kecamatan Long Apari bersama 4 orang Tim Pengkaji Rencana Pembentukan Kabupaten Mahakam Ulu yang dipimpin Prof Laurentius Dyson (jaket hitam paling depan), berfoto bersama, Jumat 30 Oktober 2008 lalu. Mereka berharap hidup bisa berubah jika Mahakam Ulu telah terbentuk. Sayangnya harapan itu ibarat ‘Jauh Panggang Dari Api’.    SONNY LEE HUTAGALUNG/KabarKubar.com

Diakui Tokoh Pemuda Kampung Tiong Ohang, Markus Awang, BBM dan sembako mulai langka. Hari ini, Kamis (20/8/2015), ia menempuh 2 jam perjalanan dari Tiong Ohang menuju Long Apari. Dengan perahu ketinting bermesin 12 PK, ia harus menghabiskan bensin 20 liter pergi pulang. Seliternya ia beli seharga Rp 25 ribu perliter. “Jadi Rp 500 ribu harus saya keluarkan PP ke Long Apari. Kasihan kami di perbatasan negara ini, tolong pemerintah pusat dengarkan jeritan kami,” kata pria yang juga Kepala SMA Negeri 1 Long Apari ini.

Markus Awang menjelaskan tujuannya ke Kampung Long Apari adalah untuk sekedar bisa berkomunikasi lewat telepon genggamnya. Sebab sebulan lebih tower telekomunikasi di ibukota kecamatan tidak berfungsi. Ia pun harus berangkat ke kampung terjauh itu, karena tower disana masih berfungsi baik. “Saya menyampaikan laporan terkait tugas-tugas di sekolah dan melepas rindu dengan keluarga lewat telepon,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, KabarKubar.com belum dapat menghubungi pihak terkait di Kabupaten Mahulu.   #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here