Telah 32 Tahun dan Keropos, Jembatan Gantung Tiong Ohang Rawan Makan Korban

0
222

Camat Long Apari Minta Palang Besi Ditambah

Jembatan gantung penghubung tujuh kampung di Kecamatan Long Apari telah berusia 32 tahun dan kondisinya memprihatinkan. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

LONG APARI – KABARKUBAR.COM

Jembatan gantung yang menghubungkan tujuh kampung di Kecamatan Long Apari rawan. Sebab jembatan yang telah berusia 32 tahun itu kondisinya memprihatinkan. Jika tidak segera diperbaiki, suatu waktu dikhawatirkan akan memakan korban.

Menurut Melkior Paron Tingang, mantan Kepala Kampung Tiong Ohang, jembatan itu sudah tua. Dibangun saat ia baru tamat Sekolah Pendidikan Guru di Samarinda pada tahun 1990.

Selama ini hanya beberapa kali direhab sebatas mengganti lantai dari kayu ulin yang rusak. Kawat atau kabel diakui pernah beberapa kali diganti.

“Tiang tidak pernah, hanya dicat. Harusnya tiang sudah bisa dilapis dengan pipa atau plat. Karena tidak mungkin diganti atau gali tiang baru,” ujar pria yang pernah duduk sebagai Anggota DPRD Kabupaten Mahakam Ulu periode 2014-2019.

“Jangan sampai putus dulu, baru kita teriak. Jembatan itu sudah tua,” sahut Ketua BPK Kampung Long Penaneh 3, Aleksius Kuai.

Dia mengatakan, ada jembatan gantung baru dibangun pada tahun 2018 lalu. Namun dinilai tidak efesien karena terkesan hanya menjadi akses warga membeli bahan bakar minyak di APMS Terapung.

“Kalau hanya untuk ke APMS, untuk apa? Sampai di seberang itu, jalan terputus. Kalau dibilang kita merdeka, sampai dimana? Apa orang perbatasan diibaratkan kelinci percobaan?” tegasnya.

Camat Long Apari, Yohanes Blareq Hujang Naniq, berharap segera ada perbaikan tiang jembatan yang telah berusia 32 tahun tersebut. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Camat Long Apari, Yohanes Blareq Hujang Naniq, menyebut jembatan dibangun usai Pemilu tahun 1987. Panjang bentangan sekitar 110 meter menghubungkan tujuh kampung. Yakni Tiong Ohang dan Noha Boan menuju Tiong Bu’u, Long Kerioq, Long Penaneh 3, Long Penaneh 2 dan Long Penaneh 1.

Dikerjakan CV Nagim dari dana APBD Kabupaten Kutai dengan Yusran sebagai pemborong. Ia juga seorang pensiunan TNI yang tahu banyak program dari pemerintah pusat.

Beberapa tahun kemudian ditambah dua kabel penahan. Sehingga tiang menanggung beban makin berat yang awalnya sekira 12 ton. “Barang makin tua, malah tambah kawat sebagai beban. Mestinya tambah tiang jika sulit dilepas,” ujarnya seraya menunjukkan kondisi tiang jembatan.

Jauh sebelumnya, Blareq Hujang sudah menyarankan pemerintah kampung yang ada menyiapkan anggaran perawatan. Termasuk seluruh aset provinsi yang ada di wilayah 10 kampung.

Dikatakannya, sebelumnya biaya perawatan diakomodasi lewat anggaran pemerintah kecamatan. “Tapi sejak jadi Mahulu, tak ada lagi biaya itu. Alasannya sudah tak layak (dirawat), baiknya diganti baru,” katanya.

Ia berharap, jika ada anggaran, tiang penyangga jembatan ditambah. Atau menggandeng tiang yang lama. Lantai jembatan, menurutnya juga sudah bisa diganti.

Tahun 2018, lanjutnya, ia meminta Komandan Kodim 0912/Kubar, Letkol Infanteri Rudi Setiawan untuk membantu biaya rehab. Saat itu sedang berkunjung ke Koramil 0912-01 Tiong Ohang.

Jika ada dana dari program Tentara Manunggal Membangun Desa yang bisa dibagikan untuk sosial masyarakat. Untuk hal yang tidak bisa diakomodir pemerintah daerah dalam waktu cepat.

Blareq menyampaikan pada Dandim Kubar bahwa jika jembatan tak segera diperbaiki akan makan korban. “Tiang di bawah sudah kropos, jembatan sudah goyang. Palang besi perlu ditambah untuk sisi Tiong Bu’u,” terangnya.

Dandim mengakui ada potensi bahaya setelah membongkar lantai. Tampak tiang tetap tertanam, tapi palangnya keropos. Instruksi diberikan kepada Komandan Koramil 0912-01 Tiong Ohang, Mayor Infanteri Suhari untuk membuat perhitungan rencana anggaran.

Termasuk untuk melakukan pengelasan tiang dengan besi baru. Seluruh lantai dan slop yang tidak baik diganti. Kegiatan rehab saat itu dikerjakan menjelang perayaan 17 Agustus. Sebelum upacara bendera, jembatan sudah selesai.

“Jembatan bagus dengan cat merah putih. Karena ini perbatasan dan warna itu netral, tidak diboncengi politis,” kata Blareq Hujang. #Sonny Lee Hutagalung

 

Komentar

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here