Hits: 1

Gasak Libas Prakarsai Pertemuan Suku-suku di Perbatasan Kaltim-Kalteng

Ketua Gasak Libas Kabupaten Kutai Barat, Taris, duduk di Kuayan Bulau (kursi dari bambu kuning) bersama Kepala Adat Kampung Intu Lingau, Marsidi Totoq, dalam acara adat pertemuan suku Dayak Uut, Dayak Kayan Balui, Benuaq Dayaq Lingau, Dayak Manyan dan sejumlah sub suku Dayak lainnya, di Kampung Intu Lingau Kecamatan Nyuatan, Minggu 25 Juni 2017.    SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

NYUATAN – Sekitar 600 orang dari berbagai daerah, berkumpul di Kampung Intu Lingau Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, akhir Juni lalu. Tidak hanya memadati salah satu rumah, mereka tumpah ruah di pekarangan hingga jalan-jalan kampung. Belasan jenis ornamen adat pun menghiasi sudut-sudut kampung, terlebih di satu titik yang dijadikan lokasi utama.

“Ini semacam acara temu keluarga besar kami yang awalnya datang dari wilayah Sungai Lahei dan Sungai Semuaq di Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah,” ungkap Taris, Ketua Gerakan Suku Asli Kalimantan Lintas Batas Kubar, Minggu 25 Juni 2017, di sela acara yang penuh nuansa adat dan budaya Dayak itu.

Diungkapkan Taris, Gasak Libas adalah organisasi kemasyarakatan dan sosial nonpolitik yang berbasis budaya suku-suku asli di Pulau Kalimantan. Yang diisi lintas agama, suku dan adat istiadat. Sehingga ormas ini berjuang untuk menyatukan beragam warga Kalimantan dalam kerukunan, serta bersatu memperkuat kepentingan daerah dan nasional. “Kebetulan saya juga keturunan Suku Dayak Uut asal bantaran Sungai Lahei dan Sungai Semuaq. Acara ini sebagai penegasan jati diri rumpun yang telah lebih seratus tahun berdiam di wilayah Sungai Nyuatan ini,” katanya.

Dalam acara budaya yang dikemas apik itu, dibarengi musyawarah adat. Diikuti sejumlah perwakilan warga adat dari berbagai daerah. Antara lain, wilayah Sungai Bakun di Balui (Distrik Kapit Negara Bahagian Sarawak Malaysia), Krayan (Kecamatan Tuhup), Puruk Cahu dan Argandang di wilayah Kabupaten Murung Raya. Ada rumpun Dayak Kayan Balui, Dayak Uut Danum atau Uut Bawo, Dayak Manyan dan Benuaq Dayaq Lingau.



“Kita ingin suku-suku di Kubar, khususnya di wilayah perbatasan untuk bersatu. Karena pada dasarnya kita semua berasal dari nenek moyang, atau kakek buyut yang bisa saja sama,” kata Taris. Ia menambahkan, Gasak Libas menyiapkan musyawarah besar dengan mengumpulkan para tetua suku se-wilayah Nyuatan. Tujuannya, memperkuat persatuan para warga adat, termasuk suku-suku lain yang ada di Kubar.

Menurut Taris, pertemuan tersebut belum pernah diadakan bahkan sejak ia kecil. Padahal lebih dari 100 tahun lamanya, sejak buyut mendatangi wilayah Sungai Nyuatan. Di daerah itu kini terdapat beberapa kampung seperti Intu Lingau, Lakan Bilem, Jontai, Sembuan dan Dempar. Ia mengingat, Intu Lingau sendiri telah pernah berganti nama rumah adat atau Lamin hingga 3 kali. Dari Lingau Adas menjadi Lingau Bintang Tulis hingga Intu Lingau. “Bapak saya saja yang lahir dan besar di Lingau, dan meninggal umur 92 tahun. Jadi sudah sangat lama tidak pernah diadakan acara seperti ini,” sebutnya.

Dikisahkan Taris, kakek buyutnya bernama Raikng, seorang yang ahli menggunakan Sumpit. Alat dari kayu berbentuk serupa tombak itu merupakan alat berburu dengan anak sumpit yang biasanya telah dilumuri racun alami. Karena keahliannya yang disaksikan oleh Raja Kutai Mulawarman, Raikng dipanggil ke Istana di Kutai Lama dan diangkat menjadi Panglima Kerajaan Kutai. Raikng bergelar Panglima Garuda Hutan Sakti Lestari, yang bertugas memimpin sebagian wilayah hulu Kalteng yang kini bagian dari Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara.

Keturunan Raikng adalah Garuda yang beristrikan Riwoi. Salah seorang sepupu Garuda, bernama Betuqng berdiam di wilayah Sungai Lawa dan Kedang Pahu dipanggil ke Kalteng. Karena memiliki kesaktian, Betuqng kemudian diangkat Kerajaan Kutai untuk berkuasa di wilayah Sungai Lahei dan Sungai Semuaq. Sayangnya, Betuqng yang bergelar Temenggung, tidak memiliki anak dan tidak pernah beristri.

“Saya keturunan Garuda yang masih sepupu Temenggung Betuqng. Kakek saya datang ke wilayah Sungai Nyuatan ini mencari lahan baru untuk bercocok tanam, karena masih pola hidup berpindah (nomaden). Dan almarhum bapak saya salah seorang tetua disini,” jelas Taris.

Seluruh rangkaian acara budaya itu dipimpin Kepala Adat Intu Lingau, Marsidi Totoq. Diisi acara adat Dayak beragam sub suku Dayak Kalteng. Antara lain, Ngeloaq, Pesengket, Muat/Engket Engkuni, Ngekas Ompokng, Nomoq Uneq dan Begantar. Malam harinya, ada acara Nyangkai (Deder atau Rijoq), yang dilanjutkan Ngaper Ngebas (Rurant Sempekat) di pagi hari.    Sonny Lee Hutagalung



Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here