Hits: 0

Membutuhkan Mesin Pemotong dan Peraut Rotan

0806_Perajin Rotan di Pepas Eheng (1)
TRADISIONAL: Kerajinan tangan anyaman rotan di Kampung Pepas Eheng Kecamatan Barong Tongkok yang dipajang di teras sejumlah rumah, memiliki nilai seni artistik tinggi.    SONER KLEND SABBATH/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – Turunnya harga getah karet, cukup meresahkan masyarakat di Kabupaten Kutai Barat. Namun hal itu tidak terlalu mempengaruhi roda ekonomi warga Kampung Pepas Eheng Kecamatan Barong Tongkok. Selain berkebun sayur dan buah, sebagian besar warga setempat masih menggeluti kerajinan tangan berbahan rotan. Hasilnya cukup membantu menopang keuangan rumahtangga.

Dari tas rotan bentuk tradisional yang dalam bahasa setempat disebut Anjat, hingga bentuk tas moderen beragam ukuran. “Paling mahal Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu. Kalau pakai nama Rp 200 ribu yang ukuran sedang. Anjat biasa yang rajutannya jarang cuma Rp 80.000,-,” ujar Yulius Gerato, Perajin Rotan yang juga Ketua RT 1 di Pepas Eheng.

Diakui Yulius, harga di setiap pedagang yang memajang hasil kerajinan di rumah masing-masing atau berkelompok, sedikit berbeda. Tas yang dilapisi kain di dalamnya dan memakai resleting atau kancing, harganya lebih mahal. Bahkan ada yang berbahan kulit untuk lapisan luar atau tali tasnya. Banyak pesanan untuk dibuatkan tikar, tapi tidak terlalu diminati Perajin di Eheng. Sehingga konsumen terpaksa memesan dari wilayah Kecamatan Bentian Besar. Harga tikar dari Rp 1 juta hingga puluhan juta rupiah untuk ukuran jumbo 50 meter bahkan 100 meter. “Tas kecil lebih digemari pembeli, karena praktis disandang. Tas HP (handphone) biasa kami jual Rp 30.000 sampai Rp 60.000,” jelasnya.

Menurut Emiliyani Ader, Penganyam Rotan yang sehari-hari memproduksi berbagai jenis kerajinan rotan di Pepas Eheng, butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikan satu Anjat. Dalam sebulan, ia bisa menjual 10 buah hasil anyamannya. Setidaknya Rp 3 juta bisa didapat dari hasil anyamannya. “Banyak juga barang titipan yang saya jual disini. Karena hampir setiap rumah di Eheng membuat usaha ini. Biasanya ada juga pengepul (pembeli jumlah banyak) dari Simpang Raya, sering juga orang langsung beli di sini dan kadang minta dikirim ke Samarinda,” jelas wanita yang juga istri Yulius Gerato.

0806_Perajin Rotan di Pepas Eheng (2)
TAMBAHAN: Emiliyani Arder, perajin rotan di Pepas Eheng yang menekuni usaha ini sejak lama untuk membantu menopang keuangan rumahtangga dan menjaga serta melestarikan seni budaya tradisional Dayak Benuaq.   SONER KLEND SABBATH/KABARKUBAR.COM

Emiliyani mengungkapkan, sempat dibentuk kelompok penganyam rotan di Pepas Eheng. Namun tidak berlangsung lama. Sebab para anggotanya lebih memilih memajang sendiri hasil anyamannya di rumah masing-masing. Mereka juga kewalahan menerima pesanan dalam jumlah besar. Sebab belum ada mesin pemotong atau peraut rotan. “Coba ada mesinnya, bisa cepat kerja kami dan pesanan banyak bisa dikejar,” katanya menambahkan, anyaman buatan mereka sedang digemari para ibu pegawai di pemerintahan.

Hal yang sama dikatakan Yunus Oben, warga RT II Pepas Eheng. Pria yang bersama istrinya lama menggeluti usaha anyaman rotan, berharap ada bantuan pengadaan mesin peraut rotan. Mesin itu diperlukan untuk mempercepat kerja perajin, khususnya membelah dan menghaluskan rotan. Sehingga pesanan jumlah besar tidak bisa disanggupinya bersama perajin lainnya.

Tidak hanya soal mesin, pria yang akrab disapa Roket ini berharap ada pengumpul hasil anyaman. Sebab menurutnya, saat ini lebih banyak menunggu pembeli datang ke Pepas Eheng. Dulu setiap minggu hasil anyaman tinggal dikumpulkan. Ada Haji Ihoy dari Melak dan Pak Soot dari Barong Tongkok yang siap membeli. Setelah keduanya almarhum, tidak ada lagi pengumpul besar. “Kalau mereka itu, berapa aja anyaman yang ada, pasti dibelinya. Bahkan bisa pesan sampai 1.000 buah dalam sebulan. Mereka ada canel (hubungan dagang) ke Bali. Sekarang sistemnya tunggu pembeli langsung dan pemesan. Makanya istri saya tidak lagi bikin anjat,” imbuhnya.    #Marung/Soner Klend Sabbath

 

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here