Muatan Kayu Berlebih, Sekali Angkut Bisa 8 Meter Kubik

Akses yang rusak membuat masyarakat pun terkendala saat melintasi titik jalan berlumpur. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

NYUATAN – KABARKUBAR.COM
Warga Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan mengeluh. Pasalnya, kondisi jalan penghubung mereka ke luar kampung, kian rusak parah. Padahal jalan ini merupakan akses utama, menuju daerah lain terutama ke Sendawar, ibukota kabupaten Kabupaten Kutai Barat. Warga menduga ada aktivitas tidak resmi atau ilegal yang berimbas rusaknya jalan tersebut.

“Siapa yang tidak jengkel, kalau jalan selama ini bagus, kini ada beberapa titik yang rusaknya sangat parah. Sehingga kita sangat kesulitan untuk melintas,” ungkap seorang warga minta tak disebutkan namanya.

Menurutnya, sebelum jalan itu rusak seperti sekarang, hanya butuh waktu sekitar sejam untuk menuju kawasan Linggang Bigung. Tidak masalah apakah saat hujan atau tidak. Namun saat ini waktu tempuh jadi jauh lebih lama.

Sejumlah warga yang ditemui KabarKubar, mengaku geram dengan adanya aktivitas truk jenis dump truck yang mengangkut kayu melalui jalan kampung mereka. Mereka menduga aktivitas itu ilegal, dan memperparah kerusakan jalan yang masih banyak spot jalan tanah ini. Sebagian berada di antara jalan yang sudah berupa rigid beton atau semenisasi.

Kepala Kampung atau Petinggi Intu Lingau, Abed Nego mengakui, kondisi akses ke kampungnya saat ini ada beberapa titik yang rusak parah. Sehingga sangat sulit dilalui. Hal ini tidak saja berakibat kendala transportasi, namun juga berimbas ke ekonomi. Mengingat barang kebutuhan sehari-hari warga didatangkan melalui akses jalan ini.

Sejumlah titik jalan di Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan, tampak rusak parah dan membuat Petinggi serta warga meminta pihak terkait untuk turun tangan. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Ia mengungkapkan, kerusakan jalan ini terjadi sejak musim hujan ini. Diperparah oleh aktivitas sejumlah truk pengangkut kayu yang tiap hari melintasi jalan di Kampung Intu Lingau. Terlebih truk tersebut bermuatan melebihi  kapasitas.

Over load (berlebihan) muatannya. Sekali angkut, satu truk bisa mencapai delapan meter kubik kayu. Sering kali truk-truknya sangkut di jalan yang rusak parah, yang otomatis menghalangi akses dilewati warga,” katanya.

“Mereka (pengusaha kayu diduga ilegal) kerja di luar Kampung Intu Lingau, bukan di wilayah kami. Yang kerja di hutan (penebang pohon dan penggergaji kayu) di drop (datangkan) orang-orang dari luar Kubar,” beber Abed Nego.

Petinggi dan warga Intu Lingau mengaku pasrah, tidak tahu harus berbuat apa. Sebab truk angkutan kayu yang diduga Ilegal itu tidak diketahui siapa pemiliknya. Mereka berharap aktivitas tidak jelas itu bisa berkurang. Apalagi diakui tidak ada nilai positif atau dampak baik bagi kampung.

“Kami berharap perhatian pihak terkait, segera turun tangan. Apalagi dengan kondisi kampung kami yang saat ini sedang diuji dengan banyak warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Tentunya sangat mengharapkan akses jalan bisa dilintasi dengan mudah,” harap Abed Nego.

Secara khusus, Petinggi Intu Lingau berterimakasih atas kebijakan Jito, kontraktor proyek semenisasi jalan Intu Lingau. Yang mengupayakan perbaikan dengan menimbun tanah di titik jalan yang rusah parah.

“Terima kasih Pak Jito yang tergerak hatinya untuk membantu perbaikan akses jalan ini. Tapi kalau terus dilalui truk-truk yang over load maka tidak akan bertahan lama,” katanya. #Sunardi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here